Cinta datang ke gedung apartemennya untuk membicarakan perkiraan perbaikan. Ia tidak memberi tahu Patrick sebelumnya. Ketika keluar dari kantor pengelola, ia melihat Patrick berdiri dekat lift. Ia berhenti sejenak; ia tak ingin pertemuan mendadak berubah menjadi percakapan yang tidak ia pilih.
Patrick melihatnya dan tidak mendekat. ‘Hai. Kau ingin bicara?’
‘Aku sedang mengurus dokumen. Aku punya waktu lima menit di lobi.’
‘Baik.’
Mereka tetap berdiri di ruang bersama. Patrick tidak mengajaknya ke apartemennya atau mencoba masuk ke unit Cinta. Ia bertanya apakah penggantian akses berjalan baik. Cinta menjawab pintu telah diganti, tetapi ia belum kembali tinggal.
‘Bagus. Kau sudah menerima kuncinya?’
‘Ya. Kunci itu hanya ada padaku.’
Patrick mengangguk. ‘Aku tidak pernah menyimpan salinan, tapi aku paham kenapa kau ingin memastikan.’
Cinta mengatakan ia berterima kasih karena Patrick tidak menganggap pertanyaannya sebagai tuduhan. Ia lalu menegaskan bahwa jendela unitnya akan selalu terkunci dan ia tidak ingin Patrick mencoba masuk, bahkan jika jendela terbuka atau ia mendengar suara dari dalam. Jika ada keadaan mendesak, ia harus menghubungi pengelola atau layanan yang tepat.
‘Aku mengerti. Aku tidak akan masuk lewat jendela lagi.’
‘Selamanya.’
‘Selamanya.’
Patrick tidak membuat lelucon tentang jarak antarapartemen atau keberaniannya. Ia mengakui kebiasaan itu berbahaya dan tidak menghormati privasi Cinta. Ia meminta maaf sekali lagi, tetapi tidak meminta Cinta membalas dengan meyakinkan bahwa mereka masih dekat.
‘Aku ingin tetap berteman,’ kata Cinta. ‘Tapi aku ingin pertemanan yang tidak membuatku berjaga-jaga.’
‘Aku juga ingin itu. Aku akan membuktikannya dengan sikap.’
Cinta memeriksa jam. ‘Aku harus pergi.’
Patrick bertanya apakah ia ingin ditemani sampai pintu keluar. Cinta berkata tidak. Ia membawa map dan berjalan sendiri. Patrick tidak mengikuti. Ia kembali ke lift tanpa memanggilnya.
***
Pengelola menjelaskan bahwa perbaikan selain kunci dapat dimulai setelah Cinta menyetujui daftar serta estimasi biaya. Cinta meminta waktu untuk membicarakan dokumen dengan pengacara. Ia tidak ingin mengizinkan pekerjaan yang dapat memindahkan barang sebelum semuanya dicatat. Pengelola memberi waktu beberapa hari.
‘Kalau saya memilih belum kembali tinggal, unit tetap terjaga?’
‘Ya. Kami akan menjaga akses dan memberi kabar sebelum pekerjaan.’
Cinta berkata ia akan memberi jawaban setelah meninjau daftar. Ia belum mau mengosongkan unit atau menjualnya. Ia ingin mempertahankan haknya, tetapi belum siap kembali tidur di sana. Pengelola mencatat pilihannya sebagai penundaan keputusan, bukan pengabaian unit.
Dalam perjalanan pulang, Cinta menelepon Anna dan menceritakan percakapannya dengan Patrick. Anna bertanya apakah ia merasa aman.
‘Lebih aman karena ia mendengar. Tapi aku belum menilai perubahannya selesai.’
‘Itu wajar.’
‘Aku ingin tetap berteman, tapi aku tidak mau memberi alamat sewaku.’
‘Kau tidak wajib membagikannya.’
Cinta merasa lega mendengar kalimat itu. Ia memutuskan untuk tetap tinggal di unit sementara selama satu minggu lagi setelah periode awal habis, sesuai anggaran. Ia akan mengevaluasi kembali setelah daftar biaya final dan setelah Charles kembali dari urusan dinas. Keputusan itu bukan karena ia berharap Charles menyelesaikan masalahnya; ia hanya ingin mengatur percakapan dan hari-harinya sendiri.
Sore itu, Patrick mengirim pesan: ‘Aku akan mengetuk jika suatu saat kau mengundang. Kalau tidak, aku tidak akan datang.’
Cinta membalas, ‘Terima kasih sudah memahami.’ Ia tidak menambahkan alamat atau rencana pertemuan. Patrick tidak mengirim pesan lain.
Di unit sewa, Cinta membuka laptop dan menulis beberapa halaman. Ia bekerja tanpa disela dan tidak perlu menutup tirai setiap kali mendengar langkah di lorong. Saat selesai, ia menyimpan naskah, membuat salinan, lalu menyiapkan teh.
Charles mengirim pesan bahwa ia akan kembali keesokan hari dan bertanya apakah Cinta bersedia bertemu di tempat yang mereka pilih sebelumnya. Cinta menjawab iya, tetapi hanya jika ia masih merasa siap setelah melihat jadwalnya. Charles membalas bahwa ia akan menunggu konfirmasi.
Cinta menyimpan pesan itu. Minggu pertama setelah penyerbuan mendekati akhir. Daniel belum meminta pertemuan lagi melalui surel, tetapi Cinta tidak menganggap ancamannya hilang. Apartemennya masih miliknya, akses sudah ia periksa, dan tempat tinggal sementara ia pilih sendiri. Patrick mulai mengetuk batas yang benar, bukan jendela. Besok, Cinta akan berbicara dengan Charles lagi—bukan untuk meminta ia mengambil alih, melainkan untuk membahas hubungan mereka dengan jujur.
Sebelum pulang dari gedung, Cinta meminta salinan catatan kunjungannya. Ia ingin memastikan tercatat bahwa ia hadir untuk meninjau biaya, belum memberi persetujuan perbaikan lain, dan belum kembali tinggal. Pengelola mencetak lembar ringkas. Cinta membacanya, meminta satu kata diubah dari ‘menolak’ menjadi ‘menunda keputusan’, lalu menerima salinan setelah koreksi dibuat.
Ia merasa penting membedakan dua hal itu. Ia tidak menolak memperbaiki apartemen; ia hanya belum menyetujui pekerjaan atau biaya yang belum dipahami. Ia tidak menyerahkan tempat itu; ia hanya belum siap pulang. Ketika keluar, ia menyimpan dokumen bersama kunci baru dan tidak memberikan salinan kepada siapa pun.
Dalam perjalanan, ia memikirkan janji Patrick. Ia ingin percaya bahwa ia akan menepatinya, namun kepercayaan bukan sesuatu yang harus diberikan sekaligus. Bila ia datang lewat pintu dan menunggu izin, Cinta akan melihatnya. Bila ia kembali menerobos batas, ia berhak menjauh.
Anna bertanya apakah Cinta ingin mengajak Patrick makan untuk merayakan perubahan. Cinta menjawab belum. Ia tidak ingin menjadikan tindakan menghormati batas sebagai transaksi atau hadiah. Patrick harus bersikap sopan karena itu memang hal yang semestinya, bukan agar memperoleh kedekatan.
‘Kalau nanti kau ingin makan bersama, kau bisa mengundangnya,’ kata Anna.
‘Iya. Tapi bukan sekarang.’
Cinta mengirim surel kepada pengelola unit sewa untuk memperpanjang satu minggu lagi. Ia memastikan jumlah biaya sama dengan yang telah disepakati dan meminta bukti pembayaran. Ia tidak meminta Anna atau Patrick membayar. Setelah bukti diterima, ia memasukkan tanggal akhir ke kalender.
Malamnya, ia menyiapkan pakaian untuk bertemu Charles esok hari. Ia memilih pakaian yang nyaman, bukan yang dirasa harus membuatnya tampak baik-baik saja. Ia meletakkan telepon di meja dan mengirim pesan kepada Charles bahwa ia akan mengonfirmasi jam setelah pagi. Ia tidak memaksa dirinya mengantisipasi percakapan mereka sebelum waktunya.
Ia lalu membaca satu bab dari novel yang sedang disunting. Tokoh utamanya membuat keputusan berbeda dari Cinta, tetapi keduanya sama-sama berhak menentukan langkah. Cinta menutup buku saat mengantuk dan tidur. Tidak ada pesan dari Daniel malam itu.