Surel dari pengelola datang pagi hari. Daftar kerusakan unit Cinta telah diperbarui, termasuk estimasi awal untuk mengganti beberapa barang dan memeriksa pintu. Angka itu belum final, tetapi cukup untuk memberi gambaran. Cinta membacanya di meja kerja, menandai setiap bagian yang belum pasti, lalu meneruskannya kepada pengacara.
Ia memeriksa tabungan dan membandingkan biaya perbaikan dengan biaya sewa sementara. Ia tidak menyentuh santunan bulanan dari Daniel. Selama ini ia membiarkannya tidak terpakai karena tidak ingin uang itu menjadi tali yang menghubungkan mereka. Menggunakannya sekarang akan membuatnya merasa seperti Daniel tetap membayar untuk menentukan tempat tinggalnya.
Anna datang setelah Cinta meminta ditemani. Mereka duduk berhadapan sambil melihat angka. Anna tidak menyarankan pilihan tertentu. Ia hanya membantu memastikan perhitungan sewa dan kebutuhan harian masuk akal.
‘Kalau aku memperpanjang unit sementara selama seminggu, tabunganku masih cukup untuk biaya perbaikan awal,’ kata Cinta. ‘Tapi kalau terlalu lama, aku perlu meninjau lagi.’
‘Kau bisa memperpanjang seminggu dan mengevaluasi setelah itu.’
Cinta membaca syarat sewa. Ia meminta pengelola unit memperjelas biaya perpanjangan dan memastikan tidak ada klausul panjang yang mengikat. Setelah menerima jawaban tertulis, ia menyetujui satu minggu tambahan. Keputusan itu memberi waktu untuk memahami situasi, bukan komitmen untuk tinggal lebih lama.
‘Rasanya aneh membayar tempat baru sementara apartemenku sendiri masih ada,’ katanya.
‘Ini biaya untuk membuat keputusan dengan tenang, bukan menyerah pada rumahmu.’
Cinta mengangguk. Ia memilih menganggapnya sebagai pengeluaran sementara untuk ruang bernapas. Ia membayar dari rekeningnya sendiri dan menyimpan bukti pembayaran. Tidak ada orang lain yang menanggungnya.
***
Menjelang siang, Cinta menghubungi editornya. Ia menjelaskan mengalami keadaan darurat pribadi dan meminta tenggat naskah digeser beberapa hari. Ia tidak menceritakan detail Daniel atau petugas keamanan. Editornya menyetujui perubahan tenggat dan meminta Cinta mengirim bagian yang sudah siap. Cinta menutup panggilan dengan perasaan lebih ringan. Pekerjaannya masih menunggunya, tetapi ada ruang untuk pulih.
Ia membuka naskah dan menemukan adegan yang harus disunting. Kali ini ia dapat bekerja lebih dari satu jam. Ketika teringat surel Daniel, ia mencatat waktu serta perasaannya di buku terpisah dari novel. Ia tidak mencampurkan kejadian pribadi ke dalam cerita kecuali ia sendiri memilihnya.
Patrick mengirim pesan menanyakan apakah ia membutuhkan makanan. Cinta membalas bahwa ia sudah memasak dan tidak butuh apa-apa. Patrick menjawab, ‘Baik, semoga harimu lancar.’ Tidak ada tawaran uang atau bujukan untuk kembali ke apartemennya. Cinta merasa hubungan mereka sedikit lebih mudah ketika ia dapat berkata tidak tanpa harus menghadapi drama.
Anna menyampaikan bahwa pengelola gedung unit lama sudah mengonfirmasi barang tidak akan dipindahkan. Cinta berterima kasih. Ia memutuskan belum akan kembali untuk mengambil barang lain sampai mereka menyepakati jadwal. Ia ingin menghindari kunjungan berulang yang membuatnya terus melihat kerusakan sebelum ia siap.
Sore hari, ia menulis daftar keputusan yang telah dibuat: laporan sudah tercatat; pesan Daniel disimpan dan diteruskan; pengelola membatasi akses unit lama; tempat sementara diperpanjang satu minggu; naskah diberi tenggat baru. Daftar itu tidak membuat hidupnya terkendali sepenuhnya, tetapi menunjukkan ia telah melakukan beberapa hal yang berada dalam kuasanya.
Malamnya, Cinta menelepon Anna dan bertanya apakah ia dapat tetap berada di tempat sewa kalau terjadi perubahan. Anna menjawab tentu, tetapi Cinta tak perlu memutuskan perpanjangan berikut sebelum melihat situasi. Cinta menyukai jawaban itu karena tidak memaksa kepastian.
Ia menutup telepon dan mematikan laptop. Untuk pertama kali sejak penyerbuan, ia tidak merasa perlu terus memikirkan kapan harus pindah lagi. Ia telah membeli waktu selama satu minggu. Besok ia dapat memutuskan hal lain setelah ada informasi baru.
Setelah makan siang, Cinta meminta Anna memeriksa kembali anggaran sewa. Ia mencatat biaya unit sementara, biaya kebutuhan sehari-hari, dan perkiraan perbaikan. Anna membacakan angka, sementara Cinta menghitung di kalkulator. Ia sengaja tidak memasukkan uang santunan Daniel sebagai pemasukan. Jumlah tabungannya masih memungkinkan satu minggu tambahan, tetapi bukan waktu yang tak terbatas.
‘Aku bisa membayar seminggu lagi,’ kata Cinta. ‘Setelah itu aku ingin mengevaluasi apakah kembali ke apartemen atau mencari tempat lain.’
‘Kalau perbaikan belum selesai, kau bisa memperpanjang lagi atau memilih tempat lain.’
‘Aku tak mau terus pindah tanpa tujuan.’
‘Tujuanmu sekarang adalah tinggal di tempat yang kau pilih dan punya akses yang jelas. Itu sudah tujuan.’
Cinta menatap catatannya. Ia merasa sulit menerima bahwa menyewa tempat sementara bukan tanda ia gagal mempertahankan rumah. Ia mengingat apartemen itu dibeli menggunakan warisan orang tuanya. Daniel tidak memiliki hak untuk membuatnya merasa harus pergi selamanya, tetapi Cinta juga tidak wajib kembali sebelum siap.
Ia menelepon pengelola unit sewa dan meminta memastikan bahwa perpanjangan hanya satu minggu, tanpa penalti jika ia memilih pergi pada akhir masa itu. Pengelola memeriksa kontrak dan mengonfirmasi ketentuan tertulis. Cinta meminta salinan surel, membacanya, lalu menyetujui pembayaran.
Setelah panggilan berakhir, ia menarik napas lega. Keputusan itu terbatas, dapat ditinjau, dan dibayar dengan uangnya sendiri. Anna bertanya apakah ia ingin merayakannya dengan makan di luar. Cinta tertawa kecil. ‘Ini cuma tanda tangan perpanjangan sewa.’
‘Keputusan yang kau buat sendiri tetap pantas dirayakan.’
Cinta memilih membuat teh dan memesan makan sederhana. Mereka duduk di ruang kerja tanpa membicarakan Daniel selama beberapa menit. Anna bercerita tentang hal-hal kantor, dan Cinta mendengarkan. Ia menyadari dirinya dapat hadir dalam percakapan biasa meski masalah lain belum selesai.
Ketika Anna pulang, Cinta menata meja kerja. Ia memindahkan tanda terima sewa ke map, menyimpan surel konfirmasi, dan menaruh daftar pengeluaran di laci. Ia tidak membuka kembali foto-foto kerusakan. Hari itu cukup.
Sebelum tidur, Cinta menulis satu halaman novel. Tokohnya ragu meninggalkan rumah yang membuatnya takut, tetapi tidak ada yang menyuruhnya memilih. Cinta menyadari ia tidak harus menulis akhir tokoh itu malam ini. Ia menyimpan naskah dan mematikan lampu. Minggu tambahan yang ia pilih memberinya waktu, bukan jawaban final.