Cinta bangun beberapa kali malam itu untuk memeriksa apakah surel Daniel membalas. Menjelang pagi, ia sadar teleponnya berada di laci dan ia belum membukanya. Ia menahan keinginan meraih layar. Ia sudah menyampaikan batasnya; ia tidak harus berjaga menunggu jawaban.
Ketika akhirnya ia mengambil telepon, ada satu surel baru dari Daniel. Pesannya pendek dan dingin. Ia menuduh Cinta mempermalukannya dengan melibatkan pengacara, lalu meminta pertemuan lagi. Tidak ada ancaman langsung, tetapi kalimatnya membuat Cinta merasa seolah penolakan itu tak dianggap.
Ia tidak menjawab. Ia mengambil tangkapan layar, menyimpan surel utuh, dan meneruskannya kepada pengacara. Setelah itu ia menulis tanggal serta jam penerimaan di buku catatan. Tangannya gemetar, tetapi ia tidak menghapus pesan atau membalas dengan kata-kata marah.
Anna menelepon setelah Cinta mengirim pesan singkat. ‘Kau ingin aku datang?’
‘Tidak perlu datang sekarang. Aku ingin kau tetap bisa dihubungi.’
‘Baik. Sudahkah kau meneruskannya ke pengacara?’
‘Sudah.’
‘Kalau begitu, tunggu arahan sebelum membalas.’
Cinta menutup telepon. Ia merasa kesal karena Daniel bertindak seolah batas yang ia sampaikan hanyalah awal tawar-menawar. Ia membaca surel itu sekali lagi, lalu menutup aplikasi. Ia tidak ingin seluruh paginya habis untuk menebak apakah Daniel sedang marah atau sedang menyusun langkah berikutnya.
Pengacara membalas setelah beberapa waktu. Ia meminta Cinta tidak menjawab pesan kedua tersebut dan menyimpan seluruh komunikasi dalam folder yang sama. Jika ada upaya datang ke tempat tinggal, Cinta dapat memberi tahu pengelola dan menghubungi pihak berwenang. Ia tidak diminta menunggu sendirian atau menemui Daniel.
Cinta membaca arahan itu dengan Anna lewat panggilan. ‘Aku ingin tahu apakah dia akan mencari alamat baruku.’
‘Kita belum tahu,’ kata Anna. ‘Tapi pengelola sudah tahu bahwa hanya kau yang boleh memberi izin akses. Kita catat jika ada sesuatu.’
Cinta membalas pengacara bahwa ia tidak akan merespons lebih lanjut. Ia meminta semua komunikasi yang berkaitan disimpan melalui jalur tersebut. Pengacara mengonfirmasi. Keputusan itu membuat Cinta merasa sedikit lebih teratur, meski ketakutan masih ada.
***
Patrick hanya mengirim pesan singkat pada sore hari: ‘Kau butuh makanan atau sesuatu dari apartemenmu?’ Cinta membaca, lalu menimbang apakah ia ingin menjawab. Ia memilih mengatakan bahwa ia sudah cukup dan tidak membutuhkan bantuan malam itu. Patrick membalas bahwa ia mengerti. Tidak ada pertanyaan tentang isi surel Daniel atau lokasi tempat sewa.
Cinta menyadari bahwa balasan sederhana itu membantu. Ia tidak harus memutuskan apakah Patrick sepenuhnya berubah berdasarkan satu percakapan. Ia cukup melihat bahwa kali ini ia menyampaikan batas, dan Patrick tidak memaksanya menjelaskan lebih lanjut.
Ia menelepon Anna dan menceritakan surel kedua Daniel serta saran pengacara. Anna mendengarkan. ‘Aku ingin membalas bahwa dia tidak bisa terus memerintahku,’ kata Cinta.
‘Kau sudah menolak bertemu. Kalau kau membalas lagi, itu bisa membuka percakapan yang tak kau inginkan. Apa yang paling aman dan sesuai dengan keputusanmu?’
Cinta diam cukup lama. ‘Tidak membalas.’
‘Kalau itu yang kau pilih, aku mendukung.’
Cinta menutup telepon dan menulis di catatan bahwa pesan Daniel telah diteruskan kepada pengacara dan belum dijawab. Ia menuliskan rasa takutnya juga, namun tidak mengubahnya menjadi prediksi. Ia tidak tahu apakah Daniel akan datang. Ia bisa mengabari pengelola jika ada kunjungan dan mencari bantuan resmi bila seseorang mencoba masuk.
Sebelum tidur, ia memeriksa pintu satu kali dan menyimpan telepon di meja. Ia tidak mengunci semua jendela berulang kali atau menghabiskan malam di dekat pintu. Ia memilih membaca beberapa halaman novel yang ia sukai, lalu mematikan lampu. Ketakutan tidak hilang, tetapi ia mengizinkan dirinya berhenti berjaga.
Pagi berikutnya, Cinta bangun dan bekerja selama satu jam. Ia membuat kopi, memperbaiki dialog pada naskahnya, dan mengirim satu bagian kepada editornya. Aktivitas itu terasa kecil dibanding pertengkaran hukum yang mungkin datang, tetapi pekerjaan tersebut miliknya. Tidak ada pesan dari Daniel pagi itu.
Anna mengirim kabar bahwa ia tersedia jika Cinta ingin bertemu. Cinta membalas bahwa ia akan menghubunginya setelah menyelesaikan urusan pengelola. Ia mulai memahami bahwa dukungan tidak harus berarti seseorang selalu berada di sisinya; cukup ada pilihan untuk meminta bantuan tanpa kehilangan kendali.
Sebelum makan siang, pengacara menelepon untuk memastikan Cinta menerima sarannya. Ia bertanya apakah Cinta menginginkan komunikasi berikutnya tetap lewat alamat surel yang sudah dikenal atau melalui kantor pengacara. Cinta memilih agar urusan apartemen dan permintaan bertemu diteruskan lewat pengacara. Ia tidak ingin bertukar pesan pribadi dengan Daniel.
‘Kalau dia datang ke gedung tempat unitmu berada?’ tanya Cinta.
‘Jangan temui dia sendiri. Beri tahu pengelola dan ikuti prosedur keselamatan gedung. Jika ada upaya masuk atau ancaman langsung, cari bantuan resmi. Catat waktu dan apa yang terjadi.’
Cinta mengulang langkah itu dengan kata-katanya sendiri. Ia tidak menganggapnya jaminan, tetapi ia merasa lebih siap daripada sebelumnya. Pengacara juga menegaskan bahwa Cinta tidak perlu menyerahkan lokasi barunya kepada Daniel.
Setelah telepon, Cinta mengirim surel kepada pengelola, meminta agar setiap kunjungan yang mencari dirinya dicatat dan tidak ada informasi tentang unit sewanya diberikan kepada siapa pun. Ia menanyakan batas yang dapat diterapkan pengelola tanpa membuat janji keamanan yang tak bisa mereka penuhi. Pengelola menjawab bahwa staf akan mengikuti aturan privasi dan memberi tahu Cinta bila ada yang mencari. Cinta menyimpan balasannya.
Ia membuat catatan satu halaman dengan tiga bagian: komunikasi Daniel, urusan unit lama, dan orang yang dapat ia hubungi. Di bagian terakhir, ia menulis Anna dan pengacara. Patrick tidak ia masukkan karena hubungan mereka masih perlu dibangun kembali. Ia bisa mengubah daftar kapan pun ia mau.
Sore itu Cinta memasak untuk dirinya sendiri. Ia memotong sayur perlahan dan membiarkan dapur kecil dipenuhi aroma bawang. Tidak ada yang mengetuk pintu meminta ikut makan. Ia duduk di meja, menyantap hidangan sederhana, lalu membersihkan piringnya sendiri. Rutinitas itu membuatnya merasa kembali memiliki ruang untuk menentukan hal kecil.
Sebelum tidur, ia menulis satu kalimat pada buku catatannya: ‘Aku sudah menolak. Aku tidak perlu mengulang penolakan setiap kali ia meminta.’ Ia menutup buku dan menaruhnya di laci. Tidak ada pesan baru dari Daniel malam itu.