Cinta tidak berniat menemui Patrick hari itu sampai pesan darinya masuk. Ia bertanya apakah mereka dapat berbicara di kedai dekat lobi, bukan di tempat tinggal. Cinta memilih menerima karena ia ingin memastikan batas yang mereka bicarakan tidak berubah menjadi diam yang menyimpan salah paham. Ia memberitahu Anna sebelum berangkat dan menyebut tempat serta perkiraan waktu.
Patrick sudah menunggu ketika Cinta tiba. Ia tidak berdiri terlalu dekat atau mencoba mengambil tasnya. Setelah Cinta duduk, ia berkata, ‘Aku tahu Daniel mengirim pesan lagi. Aku tidak tahu isinya, dan aku tidak meminta kau menceritakannya. Aku cuma ingin bilang aku marah.’
‘Marah kepadanya?’
‘Iya. Aku ingin pergi ke apartemennya dan mengatakan dia tidak boleh mengganggumu.’
Cinta memandangnya. ‘Kau sudah melakukannya?’
‘Belum.’
‘Jangan.’
Patrick menarik napas. ‘Aku tahu. Tapi rasanya sulit duduk diam ketika dia membuatmu takut.’
‘Ini bukan tentang duduk diam. Aku sedang menangani pesan itu lewat pengacara. Kalau kau mendatanginya, kau bisa membuat keadaan lebih buruk dan mengambil keputusan atas namaku.’
Patrick mengangguk, tetapi rahangnya tetap kencang. ‘Aku ingin melindungimu.’
‘Aku tidak meminta kau menyerang atau menakut-nakutinya. Aku meminta kau menghormati pilihanku. Kalau aku butuh bantuan praktis, aku akan bilang.’
Patrick menunduk ke cangkir. ‘Aku tidak akan menghubunginya.’
‘Bukan hanya karena aku melarang. Pikirkan akibatnya. Kalau terjadi sesuatu, Daniel bisa mengubah cerita menjadi pertengkaran antarpria dan mengabaikan apa yang ia lakukan terhadapku serta petugas keamanan.’
Patrick memahami maksudnya. Ia berkata dorongan untuk melindungi kadang membuatnya ingin jadi orang yang paling terlihat. Cinta mengingatkan bahwa perhatian bukan panggung untuk membuktikan keberanian.
‘Aku tahu selama ini aku sering bertindak tanpa bertanya,’ katanya. ‘Masuk lewat jendela, datang saat kau sedang bersama Charles, menganggap makananmu selalu untukku. Aku pikir karena kita dekat, aku punya tempat khusus. Tapi kedekatan bukan izin untuk melakukan apa pun.’
Cinta tidak langsung menjawab. Pengakuan itu penting, tetapi ia tidak ingin memberi pujian berlebihan. ‘Aku menghargai kau menyadarinya. Aku masih butuh waktu untuk percaya perubahan itu bertahan.’
‘Aku tidak minta kau percaya sekarang.’
‘Bagus. Karena aku tidak mau dibuat merasa bersalah kalau masih menjaga jarak.’
Patrick menatapnya. ‘Aku tidak akan melakukan itu.’
Mereka diam sejenak. Patrick kemudian bertanya apakah Cinta ingin makanan. Ia memang membawa roti yang dibeli di kedai, tetapi belum menyentuhnya. Cinta menolak dan Patrick tidak memaksa.
‘Kalau kau ingin, aku bisa membantu mengangkat barang dari apartemen lama saat pengelola memberi izin,’ katanya.
‘Mungkin nanti. Aku akan menghubungi kalau perlu.’
‘Baik.’
Cinta menghabiskan teh dan meminta diri pulang. Patrick tidak menawarkan mengantar. Ia hanya berkata hati-hati. Cinta berjalan sendiri ke tempat yang telah ia pilih. Dalam perjalanan, ia merasa lega karena mengatakan tidak, tetapi tidak merasa bertanggung jawab atas kekecewaan Patrick.
***
Patrick tetap duduk setelah Cinta pergi. Ia menyadari keinginannya mendatangi Daniel tidak sepenuhnya berasal dari kepedulian. Ada rasa cemburu, rasa tidak berdaya, dan harapan bahwa Cinta akan melihatnya sebagai pelindung. Ia malu mengakui campuran itu. Jika ia benar-benar ingin Cinta aman, ia harus berhenti menjadikan rasa takutnya sendiri sebagai alasan mengambil alih.
Ia pulang ke apartemen dan melihat jendela yang dulu ia gunakan untuk menyeberang. Beberapa minggu lalu, ia mungkin akan membuka jendela itu untuk mencari Cinta. Sekarang ia menutupnya dan mengunci. Ia tidak tahu alamat unit sementara Cinta, dan ia tidak akan mencarinya.
Ia mengetik pesan kepada Cinta, lalu menghapusnya. Ia ingin mengatakan betapa sulitnya menahan marah, tetapi kata-kata itu hanya akan meminta Cinta merawat perasaannya. Ia memilih tidak mengirim apa pun.
Ia kemudian duduk di meja makan dengan piring kosong. Dulu ia sering muncul saat Cinta memasak, merasa itu hal lucu yang membuat mereka dekat. Ia mulai memahami kebiasaan itu membuat Cinta menanggung beban menjadi tuan rumah tanpa pernah ditanya. Ia mengingat ucapan Cinta: makanan diberikan karena ia suka memasak, bukan sebagai persetujuan untuk hal lain.
Patrick mengambil telepon dan menghapus alamat lama yang tersimpan dalam catatan rute apartemen Cinta. Ia tidak mengubah apa pun yang berhubungan dengan urusan gedung; ia hanya memastikan tidak lagi memiliki informasi yang tidak perlu. Ia tahu tindakan itu tidak otomatis menghapus jejak sebelumnya, tetapi menjadi bagian dari keputusannya untuk tidak mengawasi.
Malam itu ia menulis pesan singkat untuk dirinya sendiri di buku: ‘Jangan mendatangi Daniel. Jangan menghubungi Cinta tanpa alasan. Tanyakan sebelum membantu. Terima jawaban.’ Ia menutup buku dan membiarkan malam berlalu.
Di unit sewanya, Cinta mengirim kabar kepada Anna bahwa pertemuan dengan Patrick selesai. Anna bertanya apakah ia merasa ditekan. Cinta menjawab tidak, tetapi Patrick masih perlu menunjukkan bahwa ia dapat menahan diri. Anna menyetujui.
Cinta lalu menulis beberapa baris dalam novelnya. Ia tidak merasa perlu menceritakan semua yang terjadi kepada Patrick. Hubungan mereka masih berada di tempat yang ia pilih: persahabatan dengan jarak, tanpa janji romantis. Ia menutup laptop setelah satu halaman selesai dan tidur tanpa menunggu pesan baru.
Sebelum pulang, Patrick bertanya apakah Cinta ingin mengakhiri pertemuan. Cinta menjawab iya. Ia tidak merasa perlu bertahan lebih lama demi membuktikan bahwa ia tidak marah. Patrick menerima jawaban itu, membayar bagiannya sendiri, dan tidak mengejar Cinta ke luar. Ia menyadari bahwa menerima batas tidak hanya berlaku saat percakapan sulit; ia juga harus menghormati akhir pertemuan.
Cinta berjalan menuju halte. Ia mengirim kabar kepada Anna bahwa ia telah pergi dan akan pulang sendiri. Anna tidak menanyakan apa yang dibicarakan. Cinta bisa menceritakannya nanti jika mau. Sampai di unit, ia makan malam dan mengerjakan satu halaman naskah.
Di rumah, Patrick kembali teringat ucapan Cinta bahwa ia tidak perlu menjadi pahlawan. Ia memutuskan untuk tidak menulis pesan lanjutan. Ia tidak ingin meminta Cinta menenangkan kemarahannya. Ia menaruh telepon dan menyelesaikan pekerjaannya sendiri. Perubahan itu kecil, tetapi ia tahu harus terus dilakukan tanpa meminta pujian.