Cinta mengawali pagi dengan memeriksa kabar dari pengelola. Unit miliknya masih terkunci dan belum ada perubahan pada barang yang rusak. Daftar akhir belum tersedia karena beberapa bagian perlu diperiksa lagi. Ia membalas bahwa ia akan menunggu pemberitahuan dan tidak memberi izin siapa pun masuk tanpa koordinasi.
Anna menemuinya setelah itu. Mereka membahas biaya sewa sementara dan pengeluaran perbaikan. Cinta ingin memperpanjang sewa bila diperlukan, tetapi tidak ingin membuat keputusan jangka panjang hanya karena Daniel mungkin kembali. Ia menghubungi pengelola unit dan menanyakan tenggat untuk memperpanjang. Ia meminta salinan syarat tertulis, lalu menyimpan dokumen itu tanpa menandatangani apa pun.
‘Kau sudah memikirkan apa yang ingin kau lakukan dengan apartemenmu?’ tanya Anna.
‘Belum. Aku ingin aksesnya jelas dan biaya kerusakan diketahui. Kalau kembali, itu karena aku ingin, bukan karena takut membayar tempat lain.’
Anna tidak menambahkan pendapat. Ia membantu Cinta menandai beberapa pertanyaan yang belum terjawab: akses kunci, jadwal perbaikan, dan berapa lama rekaman disimpan. Cinta merasa lebih tenang saat masalah dibagi menjadi hal-hal yang dapat ditanyakan satu per satu.
Sore hari, Cinta bekerja di laptop. Ia menyunting bagian novel yang tertunda. Saat membaca dialog tokoh fiksinya yang berkata ‘kau tidak bisa pergi’, ia berhenti. Kalimat itu membawanya pada Daniel. Ia menghapusnya, lalu menulis ulang adegan agar tokohnya memilih keluar sendiri. Pekerjaan itu terasa personal, tetapi ia tidak membiarkan kenangan mengambil seluruh waktu.
Pemberitahuan surel masuk. Nama pengirim membuat tubuhnya menegang: Daniel.
Ia tidak langsung membuka. Ia mengambil napas dan memanggil Anna, yang sedang di dapur. ‘Ada surel dari dia.’
Anna berjalan mendekat, tetapi tidak melihat layar. ‘Kau ingin membacanya sekarang atau nanti?’
‘Aku ingin membacanya. Tapi tetap di sini.’
Cinta membuka pesan. Isinya singkat: Daniel mengatakan ia datang ke apartemen dan mendapati tempat itu kosong. Ia menuntut Cinta menemuinya untuk membicarakan ‘kesalahpahaman’ dan meminta jawaban segera. Ia tidak menuliskan ancaman langsung, tetapi kalimatnya membuat Cinta merasa seolah ia masih berhak menentukan kapan mereka bertemu.
Jemari Cinta mulai dingin. Ia membaca sekali lagi, lalu menutup layar tanpa membalas.
‘Dia tahu apartemen kosong,’ kata Cinta. ‘Dia ingin aku bertemu.’
‘Kau tidak harus menjawab sekarang,’ kata Anna. ‘Kita bisa teruskan ke pengacara.’
Cinta meneruskan surel itu ke alamat pengacara dan menambahkan pertanyaan apakah ia perlu merespons. Ia tidak menghapus pesan asli. Ia menyimpan salinan di folder dengan tanggal hari itu. Ia tidak mengirimkan alamat barunya kepada Daniel.
***
Pengacara membalas beberapa saat kemudian. Ia menyarankan Cinta tidak berdebat atau bertemu tanpa pendamping. Jika ingin menanggapi, ia dapat mengirim penolakan singkat melalui alamat surel yang sama, tanpa mengungkap lokasi atau membuka percakapan panjang. Cinta membaca saran itu dan memikirkan apakah ia siap membalas.
‘Aku ingin menolak. Tapi aku takut kalau dia akan datang lagi,’ katanya.
Anna mengangguk. ‘Kita tidak tahu reaksinya. Pengelola sudah tahu, dan kau bisa memberi tahu mereka jika ada orang mencoba masuk. Kita ikuti langkah yang sudah disiapkan.’
Cinta meminta pendapat pengacara tentang kalimat penolakan yang netral. Pengacara mengirim contoh singkat: ia tidak bersedia bertemu dan meminta komunikasi hanya melalui jalur yang telah disepakati. Cinta membacanya beberapa kali. Ia menghapus bagian yang terasa terlalu panjang dan menulis dengan kata-katanya sendiri.
‘Aku tidak bersedia bertemu. Untuk urusan terkait apartemen, silakan sampaikan melalui pengacara. Jangan datang ke tempat tinggalku.’
Ia belum menekan kirim. Ia memastikan kalimat itu tidak menyebut alamat sewa atau berdebat tentang pernikahan. Anna bertanya apakah ia ingin pengacara meninjau lebih dahulu. Cinta memutuskan iya. Ia mengirim draf kepada pengacara, menunggu konfirmasi, dan tidak membiarkan rasa panik mendorongnya menekan tombol.
Malam tiba. Jawaban pengacara belum datang. Cinta menyimpan draf dan menutup laptop. Ia makan bersama Anna, lalu menjelaskan bahwa ia akan memutuskan setelah menerima masukan. Anna menerima tanpa mendesak.
Sebelum pulang, Anna memastikan Cinta tahu ia dapat menelepon bila merasa tidak aman. Cinta mengucapkan terima kasih. Ia mengunci pintu unit sewa dan memeriksa kuncinya dari dalam. Surel Daniel tetap tersimpan, belum dijawab. Ia tahu pesan itu meminta pertemuan, tetapi belum memberi Daniel jawaban yang ia inginkan. Besok ia akan menuntaskan respons lewat cara yang telah dibicarakan dengan pengacara.
Pagi berikutnya, balasan pengacara datang. Ia menyetujui draf singkat tersebut dan mengingatkan Cinta menyimpan salinan serta tidak melanjutkan perdebatan bila Daniel menjawab. Cinta membaca pesan itu, lalu memastikan alamat pengirim benar. Ia tidak buru-buru mengirim. Ia memeriksa apakah kalimatnya menyebut fakta yang perlu dan tidak membuka lokasi. Anna duduk tidak jauh darinya, namun tidak menyentuh telepon. Cinta menekan kirim setelah yakin. Ia menyimpan surel keluar dan menutup aplikasi. Jantungnya berdebar, tetapi ia tidak segera membaca ulang. ‘Sudah,’ katanya. Anna mengangguk. ‘Kau menyampaikan batasmu.’ ‘Ya. Sekarang aku ingin menjalani hari.’ Cinta membuka laptop dan kembali pada pekerjaannya. Ia masih takut, tetapi ia telah menolak pertemuan melalui jalur yang disarankan, tanpa menyerahkan alamat baru atau membuka ruang negosiasi tentang pernikahan mereka.
Cinta lalu menulis tanggal surel Daniel dan menyimpan salinan utuh, termasuk alamat pengirim dan waktu penerimaan. Ia tidak meneruskannya kepada Patrick. Informasi itu hanya ia bagikan kepada pengacara dan Anna. Ia menyadari bahwa menolak bertemu tidak menjamin Daniel akan berhenti, sehingga ia memberi tahu pengelola bahwa mantan suaminya kembali menghubunginya dan meminta mereka mencatat bila ada kunjungan. Pengelola menjawab bahwa mereka akan menyampaikan jika ada upaya masuk, tetapi tidak dapat menjamin orang itu tak datang ke lobi. Cinta menerima jawaban yang jujur tersebut. Ia menutup telepon dan memilih tidak memeriksa surel selama sisa malam. Ia memasak, membaca beberapa halaman, dan tidur. Besok ia akan menjalani urusan berikutnya dengan bantuan yang sudah ia pilih.
Setelah menutup laptop, ia menyimpan telepon di laci dan meminta Anna tidak menghubungi Daniel atas namanya. Ia ingin tiap kata yang disampaikan kepadanya berasal dari dirinya sendiri.