Dua hari setelah percakapan pertama, Cinta bertemu Charles lagi di kedai yang mereka sepakati. Kali ini ia membawa telepon barunya, namun membiarkannya tersimpan di tas. Ia tidak ingin memeriksa pesan saat sedang berbicara. Charles datang tepat waktu dan menunggu sampai Cinta memilih meja.
‘Aku senang kau datang,’ katanya.
‘Aku juga ingin bertemu.’
Mereka memesan minuman. Charles tidak membawa bunga atau hadiah. Cinta bersyukur, sebab ia belum ingin merasa perlu membalas perhatian dengan kedekatan. Mereka membicarakan hari-hari terakhir: laporan yang dibuat Cinta, unit sementara, dan petugas keamanan yang sedang beristirahat.
‘Apakah kau masih tinggal di apartemen Patrick?’ tanya Charles.
‘Tidak. Aku menyewa tempat sementara dengan uangku sendiri. Aku belum memberitahu alamatnya kepada banyak orang.’
Charles mengangguk. ‘Kau tak perlu memberitahuku kalau belum nyaman.’
Cinta memperhatikan bahwa ia tidak meminta alamat meski mereka sedang berkencan. Ia berkata, ‘Aku ingin kau tahu aku masih berniat mengenalmu. Tapi aku tidak bisa berjanji akan selalu tersedia. Kadang aku mungkin perlu membatalkan atau menjauh sebentar.’
‘Aku mengerti. Aku juga perlu jujur bahwa aku tidak mau hubungan kita hanya ada ketika semuanya nyaman. Aku bisa memberi waktu, tapi aku perlu komunikasi yang terbuka. Kalau kau tak sanggup bertemu, beri tahu aku saat bisa. Aku tidak akan datang tanpa diundang.’
Cinta menghargai batas itu. ‘Aku akan berusaha. Tapi kalau aku lambat membalas, jangan meminta Anna menjelaskan keberadaanku.’
‘Aku tidak akan melakukannya.’
Charles berhenti sejenak. ‘Aku cemburu saat mendengar kau tidur di tempat Patrick. Aku tidak ingin pura-pura tidak merasakannya. Tapi aku paham kau yang meminta ia menemanimu, dan itu terjadi karena kau ketakutan. Aku tidak berhak menjadikannya kesalahanmu.’
Cinta merasakan ketegangan yang ia bawa sejak pertemuan pertama mulai melonggar. ‘Terima kasih sudah jujur tanpa menuduh. Aku juga ingin jujur, aku belum tahu apakah aku siap menjalin hubungan serius. Aku suka kau, tapi aku tidak mau buru-buru mengubah rasa suka menjadi janji.’
‘Aku pun tidak meminta pernikahan atau janji besar.’ Charles tersenyum sedikit. ‘Aku ingin mengenalmu. Kita bisa lihat bagaimana rasanya saat keadaanmu lebih tenang.’
Mereka tidak membuat keputusan final. Cinta berkata ia masih mau berkencan, dengan pertemuan yang disepakati dan tanpa berbagi alamat dulu. Charles menerima. Ia juga menyampaikan bahwa minggu depan mungkin harus pergi beberapa hari untuk urusan dinas yang telah dijadwalkan. Ia belum tahu tepatnya kapan pulang, tetapi akan memberi kabar.
‘Kalau waktunya berubah, jangan khawatir. Urusan kerjamu bukan sesuatu yang perlu kau minta maafkan.’
Charles tertawa. ‘Aku senang kau masih bisa mengingatkanku agar tidak dramatis.’
Cinta tersenyum. Mereka berjalan sebentar di sepanjang deretan toko, tetap di tempat umum. Charles menawarkan lengannya, tetapi bertanya lebih dulu. Cinta menerima untuk beberapa langkah, lalu melepaskan saat mereka sampai di persimpangan. Charles tidak menganggap gerak itu sebagai penolakan atau janji.
***
Sebelum berpisah, Charles bertanya apakah ia boleh menelepon besok. Cinta menjawab boleh, pada sore hari. Jika ia tak bisa menjawab, ia akan mengirim pesan ketika senggang. Mereka saling menyebutkan batas itu lagi agar tidak ada harapan yang tak terucap.
Charles tidak mengantar Cinta pulang karena ia tidak tahu alamat tempat sementara. Ia berjalan bersamanya sampai halte setelah Cinta menyetujuinya. Di sana mereka berpamitan. Cinta merasa ia dapat menyukai seseorang tanpa menyerahkan semua keputusan kepadanya.
Dalam perjalanan, ia mengirim pesan kepada Anna bahwa pertemuan berlangsung baik. Anna bertanya apakah Cinta merasa ditekan. Cinta menjawab tidak. Charles mengatakan rasa cemburunya, tetapi ia tidak mengubahnya menjadi tuntutan. Anna membalas bahwa itu terdengar seperti percakapan yang sehat.
Sesampainya di unit, Cinta menyiapkan makan malam dan membaca catatan pengeluaran. Ia perlu memastikan biaya sewa sementara tidak mengganggu dana untuk memperbaiki apartemennya. Ia menulis angka di buku, menghitung kembali, lalu memutuskan ia mampu mempertahankan tempat tersebut setidaknya untuk dua minggu. Keputusan itu tidak bergantung pada apakah ia akan terus berkencan dengan Charles atau berteman dengan Patrick.
Ia bekerja satu jam. Setelah itu Charles menelepon tepat waktu seperti yang mereka bicarakan. Mereka berbicara tentang hal ringan, bukan Daniel. Cinta tertawa ketika Charles bercerita bahwa ia hampir salah membawa map kerja. Panggilan berakhir sebelum larut karena Cinta ingin tidur.
‘Aku senang bisa bicara denganmu,’ kata Charles.
‘Aku juga. Terima kasih sudah mendengar batas yang kubilang.’
‘Terima kasih sudah memberi tahu aku dengan jelas.’
Cinta mengakhiri panggilan. Ia tidak merasa semua masalah hubungan selesai, tetapi ia tidak lagi perlu menebak apa yang Charles harapkan. Mereka sama-sama berbicara dan sama-sama mempertahankan hak untuk menentukan langkah.
Sebelum tidur, ia menulis jadwal dinas Charles di kalender hanya sebagai informasi, bukan sebagai janji bahwa mereka akan bertemu saat ia pulang. Ia kemudian menyimpan telepon dan menutup pintu. Untuk malam itu, ia merasa cukup aman berada sendiri.
Keesokan pagi, Charles mengirim pesan bahwa jadwal dinasnya sudah pasti dan ia akan berada di luar beberapa hari pada minggu berikutnya. Ia tidak meminta Cinta menemuinya sebelum pergi. Cinta membalas bahwa ia berharap urusannya lancar dan mereka dapat berbicara setelah ia kembali, sesuai kesepakatan. Cinta lalu mengirim pesan kepada Anna bahwa ia masih ingin melanjutkan hubungan dengan Charles perlahan. Anna menjawab ia akan mendukung tanpa menjodohkan atau memberi nomor kepada siapa pun. Cinta mengingatkan agar Anna tidak menganggap keputusan itu permanen. Anna menyetujui. Cinta merasa didukung justru karena sahabatnya tidak menuntut kepastian.
Cinta sempat berpikir apakah membagikan nomor kepada Charles terlalu cepat. Ia mengingat bahwa ia sendiri yang memutuskan dan menetapkan batas. Ia boleh mengubah keputusan bila nanti tak nyaman. Ia juga tidak akan meminta Charles menyimpan rahasia yang seharusnya disampaikan dengan jujur. Mereka telah sepakat untuk tidak meneruskan nomor, dan Cinta percaya ia dapat menilai tindakannya dari waktu ke waktu. Ia menyiapkan makan malam sederhana, lalu mengatur alarm untuk esok. Tidak ada rencana mendadak untuk tinggal bersama atau bertemu setiap hari.