Cinta menimbang beberapa jam sebelum menulis kepada Patrick. Ia ingin memberitahunya bahwa ia telah pindah dari kamar tamu ke unit sewa sementara, tetapi tidak ingin membagikan alamat. Ia juga ingin menjelaskan hubungan mereka hanya dapat berjalan bila Patrick menghormati batas yang sejak lama ia abaikan.
Ia mengetik pesan dari telepon barunya: ‘Aku sudah pindah ke tempat sementara. Aku aman dan tinggal dengan biaya sendiri. Aku belum ingin membagikan alamat. Kalau kau mau, kita bisa bicara di kedai dekat gedung apartemen sore ini.’
Patrick membalas bahwa ia bersedia dan tidak akan menanyakan lokasi. Ia tiba di kedai lebih dahulu, memilih meja dekat jendela, lalu menunggu. Cinta datang setelah mengirim kabar kepada Anna. Ia duduk tanpa membiarkan Patrick menggeser kursinya mendekat.
‘Aku senang kau punya tempat,’ kata Patrick. ‘Aku juga minta maaf karena tidak bisa menawarkan sesuatu yang terasa cukup aman.’
‘Ini bukan soal tawaranmu. Aku perlu tempat yang aku pilih sendiri.’
‘Aku mengerti.’
Cinta mengaduk teh. ‘Aku ingin kita tetap berteman, tapi aku harus bicara tentang kebiasaanmu. Selama ini kau masuk lewat jendela seolah itu hal lucu. Aku membiarkannya karena kami bertetangga dan aku tidak merasa terancam. Tapi itu tetap bukan izin yang selalu berlaku.’
Patrick menunduk. ‘Kau benar. Aku seharusnya mengetuk pintu.’
‘Bukan hanya seharusnya. Mulai sekarang, ketuk dan tunggu. Jangan masuk kalau aku tidak membuka. Jangan meminta kunci atau alamat tempat baruku. Dan jangan menganggap karena aku pernah minta dipeluk atau tidur di dekatmu, itu berarti aku menginginkan hubungan.’
‘Aku tidak akan meminta itu.’ Patrick menarik napas panjang. ‘Aku mengakui aku menyukaimu, tapi perasaan itu bukan hak untuk masuk ke hidupmu.’
Cinta memperhatikan wajahnya. Ia belum pernah mendengar Patrick mengatakannya sejelas itu tanpa gurauan. ‘Aku belum siap membalas perasaanmu. Aku juga masih menjalin hubungan dengan Charles.’
‘Aku tahu.’
‘Kalau kau ingin tetap berteman, aku butuh kau tidak menyindir Charles atau merendahkan perceraianku. Aku tidak mau setiap kali kita bicara, kau membuatku merasa bodoh karena pernah menikah atau karena memilih orang lain.’
Patrick mengangguk. ‘Aku pernah melakukan itu. Mulutku mendahului pikiranku. Aku minta maaf.’
Cinta tidak langsung mengatakan semuanya baik. Ia berkata ia menerima permintaan maafnya, tetapi perubahan perlu terlihat dari waktu ke waktu. Patrick menjawab ia paham. Ia tidak mencoba mengubah topik menjadi lelucon atau menanyakan apakah suatu hari Cinta akan memilihnya.
***
Mereka berbicara tentang hal praktis. Patrick bertanya apakah ada barang yang masih perlu dibawa dari unit Cinta. Ia tidak menawarkan diri tanpa diminta. Cinta mengatakan sebagian besar akan diambil setelah pengelola memastikan akses dan jadwal. Ia mungkin meminta bantuan mengangkat satu kotak lagi, tetapi belum tahu kapan.
‘Kalau kau meminta, aku akan datang,’ katanya. ‘Kalau tidak, aku tidak akan muncul.’
Cinta mengangguk. ‘Itu yang kubutuhkan.’
Patrick bercerita ia telah menutup jendela kamarnya setiap malam dan berhenti memakai jalur antarapartemen. Ia mengakui terasa aneh mengingat selama ini ia menganggap kebiasaan itu bagian dari kedekatan mereka. Cinta berkata kedekatan yang baik tidak seharusnya memerlukan seseorang menerima sesuatu yang tidak nyaman.
‘Aku pikir kau selalu baik-baik saja karena kau sering memasakkan makanan,’ kata Patrick.
‘Aku memasak karena aku suka memasak. Bukan karena aku memberi izin untuk semua hal.’
‘Ya. Aku baru mengerti betapa mudahnya aku menyamakan keduanya.’
‘Jangan menjadikannya alasan untuk menyalahkan dirimu terus. Cukup ubah caramu.’
Patrick tersenyum tipis. ‘Aku akan mencoba.’
Cinta tahu kata ‘mencoba’ tidak cukup, tetapi ia juga tidak meminta janji yang muluk. Ia akan memperhatikan tindakan, lalu menentukan sendiri batas berikutnya. Ia menghabiskan minumannya dan meminta diri pulang.
Patrick berdiri, tetapi tidak mengantar sampai kendaraannya tanpa bertanya. ‘Kau ingin aku menemani sampai depan?’
‘Tidak. Aku bisa sendiri.’
‘Baik.’
Cinta pergi tanpa merasa harus menenangkan kekecewaan Patrick. Dalam perjalanan, ia mengirim pesan kepada Anna bahwa pertemuan berjalan baik dan ia telah menyampaikan batasnya. Anna membalas bahwa ia senang Cinta dapat bicara terus terang.
Di unit sementara, Cinta menyimpan telepon dan mulai bekerja. Ia menulis beberapa halaman, lalu berhenti karena pikirannya melayang. Ia tidak memaksa dirinya terus mengetik. Ia membuat teh dan membaca kembali kalimat-kalimat yang sudah ditulis. Pekerjaannya masih berjalan lambat, tetapi ruang itu miliknya.
Malamnya, pesan dari Patrick masuk: ‘Terima kasih sudah bicara. Aku akan menghormati batasmu.’ Cinta membalas, ‘Terima kasih sudah mendengarkan.’ Ia tidak menambahkan janji apa pun. Setelah itu ia menutup layar dan kembali pada novelnya. Persahabatan mereka mungkin dapat bertahan, tetapi hanya bila Patrick menunjukkan bahwa ia memahami kata ‘tidak’ tanpa membuat Cinta merasa bersalah.
Cinta berjalan pulang sendiri, tetapi ia mengirim kabar kepada Anna bahwa ia sudah berangkat dan nanti akan memberitahu saat tiba. Ia tidak membagikan lokasi kepada Patrick. Sesampainya di unit, ia menerima pesan dari Patrick yang mengucapkan terima kasih karena batasnya dijelaskan. Ia membaca pesan itu, menyimpan telepon, dan membalas setelah beberapa menit: ia menghargai sikapnya. Ia tidak menambahkan kalimat yang dapat ditafsirkan sebagai janji. Ia kemudian menulis di buku bahwa persahabatan mungkin dapat bertahan jika Patrick terus menjaga jarak. Ia tidak harus memutus hubungan karena belum membalas rasa suka, tetapi ia juga tidak bertanggung jawab menghibur Patrick atas pilihannya. Catatan itu membuatnya merasa lebih jernih.
Cinta membaca ulang catatan tentang kebiasaan Patrick masuk lewat jendela. Dulu ia menganggapnya lucu karena Patrick selalu datang dengan wajah memohon makanan. Kini ia mengerti bahwa ia sering membiarkannya bukan karena memberi izin tanpa batas, melainkan karena tak ingin membuat hubungan bertetangga menjadi canggung. Ia tidak menyalahkan dirinya karena dulu tidak menyampaikan batas dengan tegas. Ia bisa mengatakannya sekarang. Ia kemudian mengirim pesan kepada Patrick bahwa ia akan menghubunginya bila perlu bantuan mengangkat barang berikutnya. Patrick menjawab ia mengerti. Cinta menyimpan telepon dan beristirahat. Pertemuan singkat itu selesai tanpa ia harus menenangkan atau menghibur Patrick.