Anna menunggu Cinta di tempat yang sudah mereka sepakati. Ketika sahabatnya datang, Anna tidak langsung bertanya bagaimana pertemuannya dengan Charles. Ia menunggu sampai Cinta duduk dan memesan teh.
‘Bagaimana rasanya?’
‘Lega karena dia tahu. Tapi aku belum tahu hubungan ini akan ke mana.’
‘Kau tidak harus tahu hari ini.’
Cinta memutar cangkir perlahan. ‘Aku suka Charles. Aku senang berkencan dengannya. Tapi aku juga takut kalau hubungan baru membuatku kehilangan kendali lagi.’
‘Kalau begitu, katakan batas yang kau perlukan. Orang yang tepat akan mendengarkan. Kalau nanti kebutuhan kalian berbeda, kalian juga berhak membicarakannya.’
Cinta tidak ingin membuat Charles menunggu tanpa kepastian, tetapi ia juga tak mau mengucapkan janji demi menenangkan orang lain. Ia memutuskan menghubunginya keesokan hari, setelah pikirannya lebih teratur. Ia juga ingin mengganti telepon lamanya. Tanpa alat untuk menghubungi pengacara atau Anna sendiri, ia merasa terlalu bergantung pada nomor orang lain.
‘Aku akan membeli telepon dengan uangku sendiri,’ katanya. ‘Lalu kubagikan nomornya kepada orang yang kupilih.’
Anna mengangguk. ‘Kau yang menentukan siapa.’
Mereka berjalan ke toko ponsel di pusat belanja. Cinta memilih perangkat sederhana sesuai kebutuhan. Ia tidak menganggap nomor baru akan membuatnya tak terlacak; ia hanya membutuhkan cara berkomunikasi lagi. Ia mengatur nomor baru sendiri dan mencatatnya di buku. Anna menunggu di luar meja layanan, tidak melihat layar atau bertanya sandi.
Cinta menghubungi pengacara dan menyimpan nomor kantor. Ia lalu menelepon pengelola untuk memastikan nomor tersebut digunakan hanya untuk keperluan unit dan tidak diberikan kepada orang lain tanpa izinnya. Pengelola menyanggupi. Cinta tidak meminta sistem keamanan canggih atau menyimpulkan bahwa perubahan nomor menyelesaikan ancaman.
Sebelum pulang, ia menatap daftar kontak. Anna menjadi kontak pertama. Pengacara kedua. Ia belum menyimpan Charles sampai berbicara dengannya lagi, dan belum memasukkan Patrick. Bukan sebagai hukuman, melainkan karena ia ingin menentukan akses secara sadar.
***
Sore harinya, Cinta menelepon Charles dari nomor baru. Ia menyampaikan bahwa ia sudah mengganti telepon dan bertanya apakah ia bersedia menerima nomor tersebut. Charles bertanya apakah ia ingin nomor itu disimpan atau hanya digunakan untuk satu panggilan.
‘Aku ingin kau menyimpannya. Tapi jangan berikan kepada orang lain, termasuk Anna, tanpa bertanya kepadaku.’
‘Tentu.’
Cinta memberikan nomor. Ia tidak menjelaskan PIN atau memperlihatkan telepon. Charles menyimpan kontaknya dan membacakan kembali beberapa angka terakhir agar tidak salah.
‘Aku ingin bicara tentang bagaimana kita berhubungan selama beberapa hari ini,’ kata Cinta. ‘Aku masih mau bertemu. Tapi aku mungkin membatalkan kalau sedang tidak sanggup. Aku akan memberi kabar sesegera mungkin.’
Charles terdiam sejenak. ‘Aku bisa menerima itu. Aku juga perlu menyampaikan batas dariku. Kalau rencana dibatalkan berulang kali tanpa kabar, aku akan merasa hubungan ini tidak punya ruang. Aku tidak minta kau selalu tersedia. Aku hanya ingin komunikasi yang jujur.’
Cinta memahami. ‘Itu adil. Aku akan berusaha memberi kabar. Kalau aku tidak membalas segera, jangan datang ke tempatku atau meminta orang lain mencariku.’
‘Aku tidak akan melakukan itu.’
Mereka menyepakati pertemuan berikutnya di kedai yang sama dua hari lagi. Cinta yang memilih waktu dan mengirim lokasi publik. Charles bertanya apakah ia ingin Anna ikut. Cinta menjawab tidak untuk kali ini. Ia ingin berbicara berdua, tetapi tetap di tempat yang ia rasa nyaman.
Setelah panggilan, Cinta mengirim pesan kepada Anna bahwa ia telah berbicara dengan Charles dan membagikan nomor baru. Anna mengingatkan agar ia tidak merasa wajib membuktikan sesuatu. Cinta menjawab bahwa ia tahu.
Malam itu ia berada di unit sewanya, menyusun bahan yang akan dibawa ke konsultasi pengacara. Telepon baru berada di meja. Ia mendengar bunyi pesan masuk, melihat nama Anna, lalu membalas ketika siap. Ia tidak merasa perlu mengawasi layar sepanjang waktu.
Cinta menyimpan kontak Charles dengan namanya, bukan label lain. Ia menulis batas yang mereka bicarakan di buku pribadi: kabari bila rencana berubah; tidak membagikan nomor; tidak datang tanpa izin. Aturan itu berlaku dua arah. Ia pun harus menghormati batas Charles dan tidak mengharapkan ia menunggu selamanya dalam ketidakpastian.
Sebelum tidur, ia melihat kalender. Pertemuan Charles dua hari lagi dan pemeriksaan akses apartemen terjadwal. Keduanya adalah keputusan yang ia buat sendiri. Ia tetap takut Daniel akan muncul, tetapi rasa takut tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang menentukan agenda hidupnya.
Cinta menyadari nomor baru tidak menghapus kemungkinan Daniel menghubunginya lewat alamat lain. Ia tidak menganggap telepon itu perisai. Ia hanya membagikan kontak kepada orang yang dipilihnya dan menyimpan komunikasi yang penting. Ia meminta Anna tidak meneruskan nomor itu kepada Patrick atau Charles tanpa izin, meski mereka dekat. Anna menyanggupi. Cinta kemudian menyimpan telepon di laci saat bekerja. Ia ingin tetap bisa dihubungi, tetapi tidak ingin setiap pesan mengatur perhatiannya. Setelah satu jam menulis, ia memeriksa layar dan menemukan tidak ada pesan mendesak. Ia merasa lega karena bisa memilih kapan membuka komunikasi.
Sore itu Cinta mencoba menulis daftar kecil orang yang boleh menerima nomor baru. Ia menuliskan Anna dan pengacara, lalu berhenti pada nama Charles. Setelah mempertimbangkan, ia menambahkannya dengan catatan bahwa nomor tidak boleh diteruskan. Patrick belum ia masukkan karena belum memutuskan apakah ia ingin komunikasi langsung. Ia merasa sedikit bersalah, tetapi kemudian mengingat bahwa akses ke nomor pribadi bukan ukuran persahabatan. Ia dapat memberikannya nanti bila nyaman. Malamnya telepon berdering dari nomor tidak dikenal. Cinta membiarkannya masuk ke pesan suara. Tidak ada pesan. Ia tidak menyimpulkan Daniel yang menelepon; ia hanya mencatat waktu dan melanjutkan makan. Anna menanyakan apakah ia ingin memblokir nomor itu. Cinta memilih menunggu sampai tahu apakah panggilan berulang. Keputusan kecil itu memberinya kendali tanpa membuat setiap hal menjadi ancaman.
Ia menyimpan kontak itu dengan hati-hati dan tidak membagikannya kepada siapa pun.
Sesudah itu, ia mengalihkan perhatian pada hal yang benar-benar dapat dikerjakan. Langkah kecil yang jelas jauh lebih berguna daripada kekhawatiran yang berputar tanpa arah.