Cinta menunggu sampai siang sebelum meminta telepon Anna. Ia tidak ingin mengirim pesan singkat tentang hal yang mengubah perasaan aman di antara mereka. Ia juga belum siap memberi tahu alamat tempat sementara. Ia ingin bertemu Charles di tempat umum dan mengatakan sendiri apa yang terjadi.
‘Boleh aku menghubunginya dari teleponmu?’ tanyanya.
‘Tentu. Kau mau aku tetap di ruangan ini?’
‘Tidak. Aku akan bicara sendiri.’
Anna menyerahkan telepon lalu pergi ke dapur. Cinta mencari nomor Charles yang tersimpan di daftar kontak sahabatnya. Sebelum menekan panggil, ia menatap layar beberapa detik. Kencan mereka yang indah, kecupan di tepi pantai, dan telepon Daniel sesudahnya berputar dalam pikirannya. Ia tidak ingin menjadikan Charles pelindung yang harus membuktikan cinta dengan mengambil alih hidupnya.
Charles menjawab dengan suara lega. ‘Cinta. Aku sudah berusaha menghubungimu. Nomormu tak aktif.’
‘Aku tahu. Aku menghancurkan telepon lama setelah merasa nomorku terlacak. Aku belum membeli yang baru.’
‘Apa kau baik-baik saja?’
‘Aku aman saat ini. Daniel menemukan apartemenku dan masuk bersama pengawalnya. Mereka merusak barang. Petugas keamanan datang, lalu dipukuli.’
Charles terdiam. ‘Ya Tuhan. Kau terluka?’
‘Tidak. Aku berlindung di tempat tetangga.’ Cinta berhenti, lalu meluruskan diri. ‘Aku tidak tinggal bersamanya sebagai pasangan. Aku berada di sana karena Daniel masuk ke rumahku dan aku ketakutan.’
‘Aku tidak bermaksud menuduh.’ Suara Charles melembut. ‘Aku hanya perlu memahami keadaan.’
‘Aku ingin bicara langsung. Bisa bertemu di kedai dekat kantor pengacara sore ini? Aku tidak akan mengirim alamat tempatku sekarang.’
‘Tentu. Aku akan datang. Kau ingin aku membawa sesuatu?’
‘Tidak. Aku ingin kita berbicara.’
Mereka sepakat waktu dan tempat. Cinta mengembalikan telepon kepada Anna. Ia meminta sahabatnya tidak ikut dalam pertemuan itu kecuali ia sendiri meminta. Anna menerima. ‘Aku menunggu di tempat yang sama setelahnya kalau kau mau.’
Cinta memilih pakaian sederhana dan membawa map tipis berisi salinan tanda terima laporan. Ia tidak membawa seluruh dokumen. Sebelum pergi, ia mengirim pesan kepada Anna dari teleponnya: ia bertemu Charles dan akan kembali setelah selesai. Anna tidak meminta alamat atau menyelanya dengan saran.
Charles sudah menunggu di kedai. Ia berdiri saat melihat Cinta, tetapi tidak langsung memeluknya. ‘Boleh?’ tanyanya.
Cinta mengangguk. Pelukan itu singkat dan terasa hangat. Mereka duduk di meja yang tidak terlalu dekat dengan orang lain. Charles bertanya apakah Cinta ingin minum. Ia memilih teh. Ia tidak ingin alkohol atau suasana yang membuat pikirannya tumpul.
‘Ceritakan dari bagian yang kau ingin ceritakan,’ kata Charles.
Cinta menjelaskan bahwa Daniel melihatnya di supermarket, lalu menemukan alamat apartemennya. Ia tertidur setelah kembali, kemudian mendengar pintu digerakkan. Ia bersembunyi di kamar baca Patrick. Para pengawal memukuli petugas keamanan yang datang. Patrick membantunya malam itu, dan ia mengizinkan Patrick menemaninya tidur karena sangat takut. Pagi harinya ia memutuskan tak mau tinggal di apartemen yang sama dulu.
Charles mendengarkan tanpa menyela sampai Cinta selesai. Ia tampak marah, tetapi tidak menyalurkan kemarahan itu kepada Cinta. ‘Aku turut sedih kau harus mengalami itu. Aku juga lega kau tidak terluka.’
‘Aku ingin jujur tentang Patrick karena tahu dia ada di sana.’
‘Aku sempat cemburu ketika mendengar kau berlindung di apartemennya,’ katanya. ‘Tapi aku tahu malam itu bukan soal memilih dia. Aku tidak ingin membuatmu merasa bersalah karena mencari tempat aman.’
Cinta menatapnya. Ia lega Charles mengatakannya tanpa menuduh. ‘Aku tidak mau keselamatan jadi alasan untuk menentukan hubungan kita. Aku juga belum siap memberi alamat baruku atau meminta kau datang.’
‘Aku mengerti. Kau tidak harus membuktikan apa pun kepadaku.’
***
Mereka berbicara hampir satu jam. Charles bertanya apa yang Cinta butuhkan darinya. Ia menjawab ia ingin ia mendengarkan dan tidak menghubungi Daniel, pengelola, atau Patrick tanpa izin. Charles mengulang batas itu untuk memastikan ia memahami. Ia juga bertanya apakah Cinta ingin tetap bertemu sebagai pasangan.
‘Aku masih ingin mengenalmu,’ kata Cinta. ‘Tapi aku belum tahu apa yang bisa kujanjikan. Aku perlu menyelesaikan keadaan ini dan memikirkan diriku sendiri.’
‘Aku tidak akan meminta janji hari ini.’ Charles menaruh cangkirnya. ‘Aku juga perlu jujur bahwa aku ingin hubungan yang bisa dibicarakan terbuka. Kita bisa tetap saling mengenal, kalau itu juga yang kau mau. Tapi aku tidak akan menggunakan rasa khawatir untuk menekanmu.’
Cinta merasakan ketegangan di dadanya sedikit berkurang. ‘Aku mau tetap bertemu, tapi untuk sekarang di tempat yang kita sepakati. Kalau aku merasa tidak sanggup, aku akan bilang.’
‘Baik.’
Ia tidak menyebut Patrick atau masa depan mereka lagi. Mereka membicarakan hal ringan sebentar, lalu mengakhiri pertemuan dengan saling mengucapkan terima kasih. Charles menawarkan mengantar Cinta. Ia menolak dan memilih kembali bersama Anna. Charles tidak memaksa.
Di luar, Cinta mengirim kabar kepada Anna bahwa pertemuan selesai. Ia merasa lega telah menjelaskan, namun percakapan itu juga membuka pertanyaan tentang bagaimana ia ingin menjalin hubungan. Jawabannya belum pasti. Yang pasti, Charles kini mengetahui keadaan dari dirinya sendiri dan menghormati batas yang ia tetapkan.
Setelah sampai di unit, Cinta menulis urutan kejadian untuk dirinya sendiri. Ia mencatat bahwa Charles mengetahui tempat sementara hanya sebagai unit sewa, bukan alamatnya. Ia juga mencatat Charles menyebut rasa cemburu tanpa meminta ia meminta maaf. Cinta ingin mengingat percakapan itu dengan tepat, bukan membentuknya menjadi bukti bahwa Charles pasti akan selalu memahami. Hubungan mereka masih baru dan perlu diuji dalam waktu biasa. Anna bertanya apakah Cinta ingin menelepon lagi. Cinta berkata tidak malam ini. Ia ingin membiarkan percakapan mereka selesai tanpa mengirim pesan tambahan hanya karena cemas. Anna tersenyum. ‘Kau boleh berhenti ketika sudah mengatakan yang perlu.’ Cinta mengangguk dan kembali menyunting naskah.
Cinta juga bertanya kepada Charles apakah ia ingin ia memberi kabar setelah urusan pengelola selesai. Charles menjawab ia menghargai kabar, tetapi tak ingin Cinta merasa diawasi. Mereka sepakat kabar itu cukup bila Cinta ingin membaginya, bukan kewajiban. Setelah panggilan ditutup, Cinta mencatat kesepakatan tersebut dan tidak merasa harus segera menindaklanjuti.