Cinta datang ke apartemennya bersama Anna dan pengelola. Ia membawa salinan draf pernyataan di dalam map tertutup. Pengelola menjelaskan bahwa unit akan dibuka sekali lagi untuk pemeriksaan kerusakan, lalu akses ditutup kembali. Cinta bertanya apakah ia boleh mengambil gambar untuk catatannya sendiri. Pengelola mengizinkan selama barang tidak dipindahkan.
‘Kalau ada yang perlu disentuh, aku mau diberi tahu dulu,’ kata Cinta.
‘Baik,’ jawab pengelola. ‘Kami akan mencatatnya bersama.’
Pintu terbuka. Cinta tidak langsung melangkah. Ia menunggu sampai Anna berdiri di sisinya. Di ruang tengah, bekas kerusakan membuat tempat itu terasa asing. Kursi makan masih miring, beberapa hiasan pecah, dan pintu lemari terbuka. Tidak ada Daniel atau pengawalnya. Meski begitu, Cinta merasa tubuhnya bersiap menghadapi suara keras.
Anna bertanya pelan, ‘Kau ingin masuk?’
‘Iya. Tapi tetap dekat.’
Mereka memulai dari ruang tengah. Pengelola membaca daftar sementara, lalu Cinta memeriksa setiap item. Ia memotret barang yang rusak dari beberapa sisi setelah meminta izin, kemudian mencatat ukuran dan kondisi seperlunya. Ia tidak mengambil gambar barang pribadi yang tidak berkaitan. Bila ada kerusakan yang tidak pasti kapan terjadi, ia menandainya sebagai belum terverifikasi.
Di dekat meja, sebuah bingkai foto tergeletak dengan kacanya retak. Cinta mengambil napas tajam. Foto itu diambil saat ia dan Daniel masih tampak bahagia. Ia ingin membaliknya, tetapi tidak melakukannya sebelum pengelola mencatat keadaan. Setelah selesai, ia bertanya apakah boleh menyimpan foto tersebut. Pengelola mengangguk.
Cinta mengambil bingkai itu dan membungkusnya dengan kain yang ada di laci. Ia tidak tahu apakah akan menyimpan atau membuangnya. Untuk saat ini ia hanya tidak ingin membiarkannya terinjak.
Kamar tidurnya lebih sulit dilihat. Laci terbuka, pakaian terlempar, dan selimutnya masih di lantai. Anna menawarkan jeda. Cinta memejamkan mata sebentar, lalu memilih mencatat barang yang tampak rusak. Ia tidak memaksa diri memeriksa semuanya.
‘Kalau kau mau berhenti, kita bisa lanjut besok,’ kata Anna.
‘Aku mau menyelesaikan daftar dulu. Tapi aku tidak akan merapikannya hari ini.’
Pengelola mencatat keputusan itu. Cinta memeriksa meja kerja dan laptopnya. Laptop masih ada, tetapi beberapa kertas catatan cerita terinjak. Ia merapikan lembar-lembar itu hanya setelah pengelola selesai memotretnya. Beberapa halaman sulit dibaca karena terkena cairan. Cinta memasukkannya ke dalam map plastik, bukan untuk menyembunyikan kerusakan, melainkan agar tidak semakin hancur.
‘Ini naskah yang sedang kukerjakan,’ katanya kepada Anna. ‘Aku bahkan tidak tahu bagian mana yang hilang.’
‘Kita bisa urutkan nanti kalau kau siap.’
Cinta mengangguk. Pekerjaannya penting, tetapi ia belum mau menjadikannya tugas tambahan saat sedang ketakutan.
***
Di ruang baca, Cinta berhenti di ambang. Ruangan itu menjadi tempat ia bersembunyi saat Daniel datang. Ia mendengar suara petugas dari balik dinding, lalu tak mampu keluar. Ingatan itu bercampur dengan kejadian pernikahan yang dulu ia coba lupakan. Ia menempelkan tangan ke kusen untuk menstabilkan diri.
Anna tidak merangkulnya tanpa bertanya. ‘Mau keluar?’
Cinta menarik napas. ‘Sebentar lagi. Aku ingin mencatat bahwa ruang ini tidak rusak, tapi ada jejak orang masuk.’
Pengelola mengonfirmasi bahwa ada barang yang berpindah dari tempat semula. Ia tidak menyebut siapa yang memindahkannya. Cinta mencatat hal tersebut tanpa menyimpulkan tujuan Daniel. Setelah itu ia memilih keluar. Pemeriksaan hari itu cukup.
Pengelola membacakan rangkuman sementara. Cinta mengoreksi satu barang yang sebenarnya tidak pecah, hanya tergeser. Ia memastikan daftar tidak memuat barang hilang yang belum dapat ia pastikan. Pengelola mengirim salinan elektronik kepadanya dan Anna, sesuai izin Cinta.
Sebelum pintu ditutup, Cinta memandang ruang tengah sekali lagi. ‘Aku belum tahu kapan akan kembali tinggal di sini.’
‘Kau tidak perlu memutuskan sebelum siap,’ kata Anna.
Cinta meminta pengelola menjelaskan masa pengamanan akses dan perkiraan biaya perbaikan. Ia juga bertanya apakah ia bisa mengambil beberapa pakaian dan alat kerja pada kunjungan berikutnya, setelah prosedur akses jelas. Pengelola menyatakan bisa diatur dalam jadwal terpisah.
Di lobi, Cinta mengirim daftar kerusakan kepada pengacara. Ia menyampaikan bahwa rekaman tersimpan dan akses unit dibatasi. Ia bertanya apakah daftar ini cukup untuk melengkapi draf laporan. Pengacara menjawab bahwa dokumen tersebut berguna, tetapi perlu memastikan mana yang merupakan bukti langsung dan mana yang belum dapat dipastikan. Cinta menyetujui untuk bertemu lagi setelah daftar akhir dikirim.
Anna mengantar Cinta kembali. Dalam mobil, Cinta berkata ia ingin tinggal di apartemen Patrick malam ini karena tak ingin sendirian, tetapi akan mulai mencari tempat sementara yang lebih mandiri. Anna bertanya apakah ia ingin tinggal bersamanya.
‘Mungkin, tapi kita perlu memastikan Daniel tidak tahu alamatmu. Aku tidak mau membuatmu ikut terancam.’
‘Kita bicarakan dan pilih dengan sadar. Tidak harus sekarang.’
Cinta tersenyum tipis. ‘Terima kasih karena tidak memaksaku.’
Setibanya di rumah Patrick, ia menyimpan daftar kerusakan dan mengirimkan salinannya ke alamat surelnya sendiri. Ia memisahkan foto-foto dari foto pribadi dan memastikan hanya dokumen yang diperlukan masuk ke map. Langkah itu melelahkan, tetapi ia ingin bukti tetap utuh.
Malam itu ia duduk di kamar kosong dan membaca satu halaman naskah yang selamat. Ia memperbaiki dua kalimat. Setelah itu ia menutup laptop. Apartemennya masih miliknya, meski untuk sementara terasa asing. Ia akan memutuskan kapan kembali setelah mengetahui akses, biaya, dan risiko. Tidak ada yang berhak memutuskan atas namanya.
Sebelum pergi, Cinta memastikan pengelola memberikan daftar tertulis dan salinan dokumentasi kerusakan. Ia memeriksa bahwa tanggal serta nomor unit benar. Pengelola menjelaskan siapa yang dapat melihat berkas dan bagaimana permintaan tambahan ditangani. Cinta meminta pemberitahuan sebelum ada perubahan. Ia tidak ingin orang lain mengatur rumahnya tanpa persetujuan, bahkan dengan alasan merapikan.
Sebelum meninggalkan unit, Cinta meminta waktu beberapa menit sendirian di ruang tengah. Ia berdiri di dekat meja yang rusak, melihat benda-benda yang dulu ia pilih sendiri. Ia tidak berpura-pura tidak sedih, tetapi juga tidak membiarkan kenangan itu menuntutnya segera kembali. Setelah siap, ia mengunci pintu bersama pengelola dan memastikan kunci sementara tetap dipegang pihak gedung.