Cinta datang ke kantor pengacara bersama Anna dengan map yang ia susun sendiri. Ia memilih membawa salinan, bukan dokumen asli, dan memegang map itu di pangkuan selama menunggu. Anna duduk di sampingnya tanpa mengambil alih. Ketika sekretaris memanggil, Cinta berdiri lebih dulu.
Pengacara menyambut mereka dan mempersilakan duduk. Ia membaca kronologi, putusan perceraian, tanda terima penyimpanan rekaman, serta daftar kerusakan sementara. Cinta menjelaskan bagian yang ia lihat dan bagian yang hanya ia dengar dari ruangan lain. Ia menandai bahwa waktu kedatangan Daniel masih perkiraan. Pengacara tidak meminta Cinta mengisi kekosongan dengan dugaan.
‘Apakah saya perlu membuat laporan?’ tanya Cinta.
‘Pilihan itu ada pada Anda. Saya bisa menjelaskan manfaat dan hal yang perlu dipertimbangkan. Laporan dapat membuat kejadian tercatat secara formal dan membantu pihak terkait menilai bukti. Prosesnya mungkin memerlukan waktu, dan saya tidak bisa menjamin hasil tertentu.’
Cinta memandang mapnya. ‘Saya tidak mau memulai sesuatu hanya untuk membalas Daniel. Tapi petugas keamanan dipukul saat menjalankan tugas. Saya juga tidak mau kejadian itu dianggap tidak pernah ada.’
‘Itu alasan yang dapat Anda pertimbangkan. Anda bisa melaporkan bagian yang Anda alami dan menyebut saksi serta rekaman yang tersedia. Jangan mengatasnamakan petugas atau menceritakan hal yang tidak Anda saksikan.’
Anna menambahkan bahwa petugas belum siap ditemui. Pengacara mengatakan itu harus dihormati; keterangan petugas dapat disampaikan sendiri ketika ia siap. Cinta mengangguk. Ia tak ingin meminta orang itu berani demi memperkuat kasusnya.
‘Kalau saya membuat laporan, apakah Daniel langsung tahu?’
Pengacara menjelaskan bahwa ia tidak dapat menjanjikan bagaimana informasi akan berkembang. Ia akan membantu Cinta memahami prosedur dan menyiapkan dokumen yang diperlukan. Mereka dapat mengatur komunikasi melalui jalur resmi dan mencatat setiap kontak. Ia tidak menyarankan Cinta menghubungi Daniel untuk memperingatkan atau meminta pengakuan.
Cinta menatap Anna. ‘Aku ingin melanjutkan. Tapi aku mau menyusun pernyataan dengan benar dulu.’
Anna tidak menjawab untuknya, hanya mengangguk. Pengacara menyusun draf berdasarkan fakta yang Cinta sampaikan. Setiap kalimat dibaca kembali. Pada bagian tentang pemukulan, Cinta menjelaskan ia melihat petugas terluka setelah kejadian dan mendengar suara benturan dari tempat persembunyian. Ia tidak melihat siapa yang memulai atau berapa kali petugas dipukul. Draf mencatat batas penglihatannya.
Di bagian kerusakan, Cinta merujuk pada daftar pengelola dan menyebut bahwa pemeriksaan belum selesai. Pengacara menghapus kalimat ‘Daniel pasti berniat menculikku’ karena Cinta tidak memiliki bukti langsung untuk menyatakannya. Ia mempertahankan ucapan Daniel di telepon sebelumnya tentang ingin Cinta kembali, tetapi menandai bahwa panggilan tersebut tidak terekam dan hanya diingat Cinta.
Cinta membaca naskah dengan saksama. Ia ingin terdengar kuat, namun pengacara menjelaskan bahwa pernyataan yang akurat lebih penting daripada terdengar berani. Cinta menyetujui draf untuk dibawa ke pertemuan berikutnya, setelah ia memeriksa apakah ada detail yang perlu dikoreksi.
***
Dalam perjalanan keluar, Cinta merasa tenggorokannya sakit menahan kata-kata. Anna bertanya apakah ia ingin pulang atau makan dahulu. Cinta memilih duduk di kedai kecil dekat kantor. Ia memesan teh dan roti, tetapi belum menyentuhnya.
‘Aku takut proses ini membuat Daniel semakin marah,’ katanya.
‘Aku mengerti.’ Anna tak berkata bahwa Daniel pasti akan berhenti. ‘Kau bisa memilih langkah keselamatan sambil menjalankan proses. Kita tidak tahu semua hasilnya, tapi kau tidak sendirian.’
Cinta menarik napas. ‘Aku ingin membuat laporan. Bukan karena aku tidak takut, tapi karena takut tidak boleh membuat pemukulan itu lenyap dari catatan.’
Anna menyentuh punggung tangannya. ‘Kalau itu keputusanmu, aku mendampingi.’
Cinta mengirim pesan kepada pengacara untuk mengonfirmasi bahwa ia akan kembali setelah mengoreksi draf. Ia lalu menghubungi pengelola dan meminta daftar kerusakan akhir serta salinan tanda terima rekaman. Pengelola menyatakan pemeriksaan berikutnya dapat dilakukan besok dengan Cinta hadir. Ia memastikan unit tidak akan dibersihkan sebelum itu.
Mereka pulang ke apartemen Patrick. Patrick bertanya bagaimana pertemuan berlangsung. Cinta menjawab ia sudah berdiskusi dengan pengacara dan sedang menyiapkan pernyataan.
‘Aku bisa ikut kalau kau butuh—’
‘Aku sudah meminta Anna. Aku belum ingin membicarakan detail.’
Patrick langsung berhenti. ‘Baik. Maaf.’
Cinta memperhatikan bahwa ia tidak mendesak. Ia meletakkan map di kamarnya dan mengunci pintu. Malam itu ia membuka kembali draf hanya untuk memeriksa urutan peristiwa. Ia mengubah satu waktu yang terlalu pasti menjadi perkiraan. Ia juga memastikan tidak ada kalimat yang menyatakan ia melihat pengawal memukul petugas. Ia tidak melihatnya. Ia mendengar dan kemudian mengetahui akibatnya.
Setelah selesai, Cinta mengirim koreksi kepada pengacara. Ia meletakkan telepon dan menatap halaman kosong laptopnya. Pekerjaannya sebagai penulis terhenti sejak Daniel menemukan apartemennya. Ia mengetik satu paragraf, berhenti, lalu menyimpan berkas. Menulis belum kembali lancar, tetapi ia tidak menyerahkan seluruh harinya kepada perkara Daniel.
Sebelum tidur, ia mengingat keputusan yang baru dibuat. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah laporan diajukan. Namun ia tahu ia telah membaca setiap kalimat, menyetujui sendiri langkah selanjutnya, dan memilih Anna sebagai pendamping. Ketakutan masih mengikutinya, tetapi bukan ketakutan yang memutuskan semuanya.
Sebelum meninggalkan kantor, Cinta meminta salinan draf pernyataan dalam format yang dapat ia baca kembali. Ia ingin memastikan tidak ada kata yang membuatnya seolah menyaksikan sesuatu yang hanya ia dengar. Pengacara menandai bagian berdasarkan penglihatan langsung dan bagian yang ia ketahui dari pengelola. Cinta merasa kaku membaca kisahnya sendiri dalam bahasa yang rapi, tetapi ia tidak mengubah fakta agar terdengar lebih meyakinkan. Ia membubuhkan paraf pada setiap halaman yang diperiksa. Anna menunggu di luar ruang konsultasi sampai Cinta memanggilnya. Setelah keluar, Cinta menyerahkan salinan kepadanya hanya untuk disimpan sementara, bukan dibagikan.
Di rumah, Cinta membaca draf sekali lagi sendirian. Ada rasa malu melihat namanya tercantum dalam laporan, tetapi ia mengingatkan dirinya bahwa bukan ia yang menerobos masuk. Ia menyiapkan pertanyaan untuk pertemuan berikutnya dan meletakkan map di laci. Anna mengirim pesan bahwa ia sudah tiba di rumah. Cinta membalas singkat dan berterima kasih karena sahabatnya tidak mengambil keputusan untuknya.