Dalam perjalanan pulang dari lobi, Anna bertanya apakah Cinta ingin berhenti di tempat lain. Cinta menjawab ia ingin kembali ke apartemen Patrick, bukan karena ingin tinggal di sana selamanya, melainkan karena ia perlu memikirkan langkah berikut tanpa berdiri di lorong unitnya sendiri.
‘Kau yakin ingin kembali ke sana?’
‘Iya. Tapi setelah ini aku ingin menghubungi pengacara yang mengurus perceraianku.’
‘Baik. Kita cari nomornya dari dokumenmu.’
Patrick membukakan pintu setelah mereka mengetuk. Ia tidak langsung bertanya tentang pembicaraan mereka di lobi. Ia hanya menawarkan ruang tengah atau kamar kosong untuk bicara. Cinta memilih meja makan. ‘Aku ingin menggunakan laptopku. Tolong jangan melihat layarnya.’
‘Aku tidak akan,’ jawab Patrick. Ia mengambil koran lalu duduk agak jauh.
Cinta membuka surel lama dan mencari nama pengacara yang dahulu mendampinginya. Satu pesan memuat nomor kantor dan alamat surat elektronik. Ia membaca catatan perceraian yang tersimpan di folder, tetapi berhenti ketika menemukan beberapa foto bukti luka. Ia belum ingin melihatnya lagi. Anna tidak memaksanya. Mereka cukup mencari informasi kontak.
Cinta memakai telepon Anna. Sebelum panggilan tersambung, ia sempat ingin membatalkan. Selama perceraian, setiap langkah terasa seperti membuka pintu pada kenangan buruk. Namun kali ini ia tidak meminta pengacara mengurus semuanya. Ia hanya ingin tahu pilihan yang tersedia.
‘Daniel dan beberapa pengawalnya masuk ke apartemen saya tanpa izin,’ jelasnya saat pengacara menjawab. ‘Mereka merusak barang. Petugas keamanan datang dan dipukuli. Saya ingin tahu cara mendokumentasikan kejadian dan apa yang sebaiknya saya lakukan.’
Pengacara tidak menjanjikan hasil cepat. Ia bertanya apakah Cinta sedang berada di tempat aman dan apakah Daniel masih ada di gedung. Cinta menjawab ia tidak tahu, tetapi pengelola telah mengunci unit dan menyimpan rekaman. Pengacara meminta Cinta mencatat waktu, menyimpan pesan yang berkaitan, meminta daftar kerusakan tertulis, serta tidak menghubungi Daniel untuk berdebat. Jika memilih membuat laporan, ia sebaiknya memberikan fakta yang dapat ia sampaikan langsung.
‘Apakah saya harus kembali ke unit hari ini?’
‘Tidak kalau Anda belum merasa siap. Koordinasikan pemeriksaan dengan pengelola dan datang bersama pendamping yang Anda pilih. Tempat tinggal sementara dapat dipikirkan setelah Anda mengetahui keadaan unit.’
Cinta meminta janji konsultasi. Ia ingin membawa dokumen perceraian dan kronologi, tetapi tidak mau menandatangani sesuatu yang belum dipahami. Pengacara menyetujui. Tidak ada kewajiban memutuskan semuanya lewat satu telepon.
Setelah panggilan, Cinta mengembalikan telepon Anna. ‘Aku belum memutuskan soal laporan.’
‘Kau tidak harus memutuskan sekarang,’ kata Anna.
‘Aku ingin orang yang memukul petugas itu bertanggung jawab. Tapi aku takut Daniel akan menyerang lagi kalau aku membuat masalah.’
Anna meletakkan telapak tangan di meja. ‘Kita tak bisa memastikan reaksinya. Tapi mencari tahu hakmu bukan berarti kau memancingnya. Kita akan pikirkan keselamatan sambil menimbang langkah.’
Cinta mengangguk. Ia tahu Anna benar, tetapi rasa takut tidak hilang hanya karena kalimat yang masuk akal. Ia membiarkan tangannya terbuka di atas meja dan menunggu gemetarnya berkurang.
***
Sore menjelang, pengelola mengirim kabar melalui telepon Anna. Petugas yang terluka telah sadar dan sedang diperiksa. Ia belum ingin menerima tamu. Cinta merasa lega, lalu segera merasa bersalah karena dirinya selamat sementara petugas itu yang menanggung pukulan.
‘Aku bisa mengirim pesan terima kasih lewat pengelola,’ katanya. ‘Tapi aku tidak akan meminta dia bercerita.’
Anna setuju untuk menyampaikan keinginan itu dan meminta persetujuannya lebih dulu.
Patrick, yang sejak tadi menyiapkan teh, mendengar percakapan tersebut. ‘Aku bisa ikut kalau kau nanti mau mengunjunginya.’
‘Aku belum memutuskan akan pergi. Dan kalau jadi, aku sendiri yang memilih siapa yang ikut.’
Patrick terdiam sejenak. ‘Maaf. Aku terlalu cepat menawarkan.’ Ia kembali ke dapur tanpa menambahkan bahwa ia hanya ingin membantu.
Anna menjelaskan ia dapat menemani Cinta hari ini dan besok, tetapi ia juga harus mengurus pekerjaannya. Cinta tak mau memaksa sahabatnya meninggalkan semua urusan. Mereka menyusun pilihan: Cinta bisa tinggal sementara di kamar kosong Patrick, menginap di tempat Anna bila mereka menilai itu aman, atau mencari tempat lain. Tidak satu pun harus diputuskan malam ini.
‘Aku takut Daniel akan datang ke rumahmu,’ kata Cinta.
‘Kita bisa memikirkan itu bersama. Aku tidak akan memberitahunya alamat atau keberadaanmu.’
Cinta mengangguk. Ia memutuskan menunggu jadwal pemeriksaan apartemen dan konsultasi hukum sebelum pindah. Ia juga meminta Patrick untuk tidak memakai jendela sebagai jalan masuk lagi.
‘Aku memang sering melakukannya,’ kata Patrick pelan. ‘Aku menganggap jendelamu terbuka sebagai undangan. Itu keliru. Setelah ini aku akan mengetuk pintu dan menunggu izinmu. Setiap kali.’
‘Bukan hanya karena Daniel sedang mengawasiku.’
‘Setiap saat, Cinta.’
Anna memperhatikan Patrick, seakan memastikan ia memahami bahwa ini bukan gurauan. Patrick mengangguk. Ia meminta maaf tanpa meminta Cinta segera melupakan kebiasaannya. Cinta menerima permintaan maaf itu, tetapi masih ingin batas tersebut terbukti lewat tindakan.
Menjelang malam, Anna pulang setelah memastikan Cinta nyaman. Cinta memilih kamar kosong Patrick dan meminta kuncinya. Patrick memberikan kunci, menunjukkan kamar mandi, lalu mundur. Ia tidak menyarankan tidur berdekatan atau mengulang pelukan semalam.
Di kamar itu, Cinta duduk di tepi ranjang. Ia ingat malam lalu ia sendiri yang meminta Patrick menemani, tetapi persetujuan itu tidak otomatis berlaku untuk malam ini. Ia menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Kamar tersebut memberinya ruang pribadi, sementara keputusan tentang apartemen dan Daniel tetap ia pegang sendiri.
Sebelum tidur, ia menulis catatan singkat: pengelola menyimpan rekaman; petugas sadar dan sedang diperiksa; konsultasi dengan pengacara sudah dijadwalkan; laporan belum diputuskan. Ia menyimpan catatan itu, mematikan lampu, dan mencoba tidur. Pikirannya tetap kembali pada Daniel, tetapi sekarang ada beberapa pertanyaan konkret yang bisa ia ajukan besok.
Cinta kemudian menanyakan apakah ia boleh menyimpan nomor pengacara langsung di buku catatan, bukan bergantung pada telepon Anna. Anna mengangguk dan mendiktekan nomor kantor. Cinta menulisnya sendiri lalu mengirim pesan singkat ke alamat surel pengacara untuk memastikan kontak tersebut benar. Langkah itu sederhana, tetapi membuatnya merasa tetap memegang akses atas urusannya. Ia juga mengingat bahwa ia dapat meminta salinan dokumen perceraian kapan pun diperlukan.