Pagi itu, Cinta membaca catatan semalam sebelum keluar dari kamar. Ia sengaja tidak menghapus kata ‘belum diputuskan’ pada bagian laporan. Ketidakpastian itu bukan kelemahan; ia memang belum mengetahui cukup banyak. Ketika Anna datang, mereka memeriksa jadwal dari pengelola. Pemeriksaan unit dapat dilakukan siang hari, bersama pengelola dan pendamping pilihan Cinta.
‘Aku ingin kau ikut,’ kata Cinta. ‘Tapi aku yang akan bicara dengan pengelola.’
‘Tentu.’
Patrick muncul dari ruang tengah dan bertanya apakah Cinta membutuhkan tumpangan. Ia tidak memaksa ikut. Cinta menolak dengan sopan. ‘Aku ingin pergi dengan Anna. Aku akan mengabarimu setelah selesai.’
‘Baik. Hati-hati.’
Di lobi, pengelola menjelaskan prosedurnya sekali lagi. Ia yang akan membuka unit. Cinta dapat mencatat kerusakan dan memberi tahu barang mana yang harus diperiksa lebih lanjut. Tidak ada yang akan memindahkan barang tanpa izinnya. Rekaman kamera telah disimpan utuh, dan bila diperlukan pihak yang berwenang dapat meminta salinannya sesuai prosedur gedung.
Cinta bertanya siapa yang memiliki akses ke unit sejak kejadian. Pengelola menjelaskan petugas pengelola menutup akses dan melakukan pengamanan sementara. Ia memberikan daftar waktu tindakan serta menjelaskan bahwa kunci unit belum dikembalikan kepada penghuni karena mekanisme pintu perlu diperiksa. Cinta meminta semuanya ditulis, termasuk kapan ia dapat memegang kembali kendali akses.
‘Aku tidak menuduh pihak gedung,’ jelas Cinta. ‘Aku hanya perlu tahu siapa yang bisa masuk ke rumahku.’
‘Permintaan itu wajar,’ jawab pengelola.
Saat pintu dibuka, Cinta berdiri lama di ambang. Ruang tengah berantakan. Kursi makan terguling, beberapa benda pecah, dan laci terbuka. Anna berdiri di sampingnya tanpa mendorongnya masuk.
‘Kau ingin berhenti?’
‘Belum. Tapi jangan sentuh apa pun.’
Mereka masuk. Cinta menulis benda yang rusak satu per satu, sedangkan pengelola membuat daftar sendiri. Ia tidak memotret sebelum memastikan bahwa dokumentasi dengan ponsel diperbolehkan dan tidak mengubah keadaan. Setelah mendapat persetujuan, ia mengambil gambar dari jarak yang cukup, tidak menggeser barang.
Kamar tidur lebih sulit. Selimutnya berada di lantai, laci meja terbuka, dan beberapa barang pribadi berserakan. Napas Cinta mulai pendek. Ia menutup mata sejenak dan mencari satu benda yang dapat ia lihat dengan jelas: sisi meja yang masih utuh.
‘Aku bisa menunggu di luar,’ kata Anna.
‘Temani aku. Jangan pegang barang-barangku.’
Anna mengangguk. Cinta melihat bahwa beberapa barang masih ada, tetapi ia tak yakin apakah semuanya lengkap. Ia menulis ‘belum dapat dipastikan’ alih-alih menuduh seseorang mengambil apa pun. Pengelola pun mencatat kondisi itu tanpa membantah.
Mereka memeriksa ruang baca. Pintu tidak rusak, tetapi Cinta tahu Daniel sempat masuk ke sana dan melihat barangnya. Ingatan itu membuat tengkuknya dingin. Ia tidak berlama-lama. Ia meminta pengelola mencatat ruangan tersebut juga.
***
Setelah sekitar dua puluh menit, Cinta meminta berhenti. Pengelola menutup unit dan memberikan tanda terima daftar sementara. Tidak ada yang membereskan atau membuang barang. Cinta belum ingin tidur di sana, namun tidak ingin menyerahkan apartemen begitu saja.
‘Apakah aku harus memutuskan pindah sekarang?’ tanyanya.
‘Tidak,’ kata Anna. ‘Kau bisa menilai pilihan setelah tahu biaya, akses, dan saran pengacara.’
Cinta setuju. Ia meminta pengelola menjelaskan perkiraan perbaikan dan cara mengganti akses kunci. Ia ingin mengurus biaya sesuai haknya sebagai pemilik, bukan memakai uang yang diberikan Daniel secara rutin. Ia selama ini tidak pernah memakai santunan itu dan tak ingin kejadian sekarang membuatnya bergantung pada mantan suaminya.
Pengelola menjawab bahwa daftar biaya akan disusun setelah kerusakan ditinjau. Ia juga akan membicarakan perubahan akses dengan Cinta sebelum tindakan dilakukan. Cinta tidak menyetujui hal yang belum ia pahami. Mereka menjadwalkan percakapan lanjutan keesokan hari.
Di lobi, Cinta bersandar pada dinding. Tangannya dingin. Anna bertanya apakah ia ingin pulang atau duduk dulu. Cinta memilih duduk. ‘Aku benci dia bisa mengubah rumahku jadi tempat yang membuatku takut.’
Anna tak mengatakan semuanya akan segera baik. ‘Kau masih punya hak atas rumah itu. Hari ini kau melihat kondisinya, membuat catatan, dan menghentikan orang merapikan tanpa izinnya. Itu langkahmu.’
Cinta memandang tanda terima di tangannya. Rumah itu masih miliknya, meski untuk saat ini ia belum sanggup kembali tidur di sana. Ia tidak harus menjadikan ketakutan sebagai keputusan final.
Mereka kembali ke apartemen Patrick. Cinta memberi kabar kepadanya bahwa pemeriksaan selesai. Patrick bertanya apakah ia ingin bercerita. Ia menjawab belum. Patrick berkata ia mengerti dan tak bertanya lebih lanjut.
‘Untuk malam ini, aku ingin tetap memakai kamar kosong,’ kata Cinta. ‘Besok aku akan memutuskan lagi.’
‘Kamarnya milikmu selama kau menginginkannya.’
‘Bukan milikku. Aku hanya tinggal sementara.’
Patrick tersenyum kecil. ‘Benar. Maaf. Kau tinggal di sana sementara, selama kau memilih.’
Perbaikan kalimat itu membuat Cinta merasa didengar. Ia masuk kamar, menutup pintu, dan menyimpan tanda terima bersama dokumen. Ia belum merasa aman di apartemennya sendiri. Namun ia telah kembali ke sana, melihat keadaan dengan pendamping, dan memutuskan kapan harus berhenti. Rumahnya terusik, tetapi keputusan tentangnya belum dirampas.
Di kamar tamu, ia menyusun dokumen itu di atas meja kecil: tanda terima, catatan pribadinya, dan salinan keputusan perceraian. Ia tidak membaca isi semuanya. Ia hanya memastikan tiap lembar berada di tempatnya. Saat melihat tanggal pada putusan, ia teringat betapa lama ia harus meyakinkan diri bahwa hubungan itu benar-benar berakhir. Daniel pernah berjanji berubah, tetapi janji itu tidak menghapus apa yang telah ia lakukan.
Anna bertanya lewat pesan apakah Cinta ingin ia menginap. Cinta mengetik jawaban, menghapusnya, lalu menulis bahwa ia ingin mencoba tidur sendiri di kamar Patrick yang terkunci. Ia akan menelepon bila membutuhkan teman. Anna membalas bahwa ia siap datang jika diminta, tanpa bertanya lebih jauh.
Patrick mengetuk pintu kamar sebelum mengucapkan selamat malam. Ia tidak membuka pintu. Cinta menjawab dari dalam. Tindakan kecil itu membuatnya dapat tidur tanpa mendengarkan setiap langkah di luar. Ia masih belum tahu apakah rumahnya akan kembali terasa seperti miliknya, tetapi ia mulai menyusun jalan untuk memilihnya sendiri.