Siska berjalan cepat tanpa suara menghampiri Tabitha yang masih memeluk erat blazer putihnya dengan napas memburu. Bola matanya melirik waswas ke kanan dan kiri, ia mendekatkan wajahnya ke telinga Tita. "Tit..." bisiknya pelan dengan nada super rahasia. "Zyan, Tit. Tadi gue lihat sendiri...dia yang masang blazer lo ke standee promo."
"APPA?!"
Suara Tabitha langsung menggelegar hebat, memantul di antara dinding lobi hingga membuat Siska refleks mundur selangkah saking terkejutnya. "Pelan-pelan, Tiiit... dilihatin orang," cicit Siska panik. Begitu juga ketiga sahabatnya. Namun, Tabitha sudah tidak lagi mendengar peringatan Siska. Darahnya sudah mendidih langsung naik ke ubun-ubun. Kemarahan besar yang sejak pagi tadi sengaja ia tahan di dalam kubikel kini benar-benar telah mencapai puncaknya. "Kurang ajar... baru dua hari masuk kerja udah berani ngerjain gue!" desisnya dengan rahang mengeras. Tabitha langsung menyapu seluruh area lobi menggunakan tatapan mata yang tajam menyalang seperti elang yang siap menerkam mangsanya. Tak butuh waktu lama baginya untuk menemukan sang target operasional. Di dekat lift utama, berdiri pria dengan kedua tangan dimasukkan santai ke dalam saku celananya. Wajah blasterannya tampak begitu tenang, bahkan sesekali ia melirik ke arah kerumunan karyawan yang masih membicarakan insiden blazer sabun mandi. Begitu sepasang mata mereka bertemu di udara, seluruh sisa kesabaran Tabitha resmi menguap. Emosinya meledak total. "ZYAAAN!!!"
Pekikan nyaring itu lagi-lagi menggema kuat di seluruh sudut lobi. Hampir semua orang menutup telinganya. Dalam sekejap, suasana lobi yang semula riuh oleh bisikan- bisikan dan obrolan siang mendadak berubah menjadi hening. Percakapan para karyawan terputus di tengah jalan. Beberapa orang yang baru keluar dari lift bahkan menghentikan langkah kaki mereka demi menyaksikan drama live yang tengah berlangsung. Semua pasang mata kini bergantian memandang tegang ke arah dua orang yang berdiri berhadapan tapi berjarak beberapa meter itu, sang penguasa divisi, Tabitha, dan si anak baru, Zyan.
Melihat atmosfer yang mendingin, para karyawan di sekitar meja resepsionis mulai saling berbisik heboh.
"Fix... bakal ribut nih."
"Kasihan juga tuh anak baru, langsung kena amuk."
"Eh, belum tentu. Dari kemarin di pos keamanan, dia juga nggak kalah, tahu."
Meski jam istirahat sudah lama lewat, mereka sengaja tidak segera kembali ke meja kerjanya. Rasa penasaran yang membuncah membuat semua orang memilih bertahan di lobi demi menjadi penonton gratisan. Sementara itu, Zyan sendiri terlihat sama sekali tidak terusik dengan teriakan yang memanggil namanya. Pria itu tetap berdiri santai di dekat lift sambil mengorek salah satu telinganya, seolah suara teriakan Tita membuat telinganya sedikit gatal. Sesekali ia tampak mengatakan sesuatu pada Jo, Alan, atau Tomi yang berdiri di dekatnya, bahkan ia sempat terlihat terkekeh pelan, mungkin mendengar candaan sirkel barunya.
Sikap abai dan kelewat santai itu justru membuat darah Tabitha semakin mendidih tak terkendali. Ia mempercepat langkah kakinya, melesat membelah kerumunan hingga berdiri tepat di hadapan Zyan. "Jadi lo yang masang blazer gue di standee promosi?" tembak Tabitha dengan napas tersengal karena emosi. Zyan mengernyitkan dahi, pura-pura bingung. "Blazer?"
"Iya! Jangan pura-pura b**o ya lo!" sentak Tabitha dengan suara bergetar.
Zyan mengedipkan matanya beberapa kali dengan ekspresi tanpa dosa, lalu melirik ke arah standee promosi di ujung lobi yang kini sudah tak lagi mengenakan blazer putih. "Oh... jadi baju putih di patung sabun itu punya lo?” tanyanya dengan nada datar yang terkesan meremehkan.
"Zyan! L... Lo..."
Plak!
Satu tamparan keras mendarat telak di pipi kiri Zyan. Suara hantaman kulit itu menggema nyaring di tengah keheningan lobi, sukses membuat semua penonton terdiam membeku dengan mata membelalak. Tak ada satu pun orang di ruangan itu yang menyangka bahwa seorang Tabitha Azzahra akan benar-benar melayangkan kontak fisik pada rekan kerjanya. Kepala Zyan sedikit berpaling akibat tamparan keras Tabitha. Namun, hanya butuh waktu beberapa detik bagi Zyan untuk menguasai keadaan. Ia kembali meluruskan kepalanya, menatap Tabitha tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Tak ada kilatan amarah di matanya, tak ada gerakan untuk membalas. Ekspresi wajahnya kembali datar dan luar biasa tenang.
Namun, respons diam dari Zyan justru membuat d**a Tabitha terasa semakin terhimpit dan sesak. Rasa malu karena blazernya dijadikan bahan lelucon, amarah yang membakar, serta rasa kesal yang sejak pagi ia pendam sendiri kini bercampur aduk menjadi satu bongkahan emosi yang tak lagi mampu ia bendung. Matanya yang memerah mulai memanas. Cairan bening mulai menggenang di pelupuk mata. Bibirnya bergetar hebat menahan gejolak di dalam d**a. "Gue... benci banget sama lo..." ucap Tabitha dengan suara yang mendadak lirih dan serak. Pertahanan kokoh yang selama ini ia bangun runtuh seketika. Air mata yang sedari tadi berusaha ia tahan di depan para staf akhirnya jatuh juga ke pipinya. Satu tetes, lalu langsung disusul tetesan berikutnya yang mengalir deras disertai bahu yang bergetar. Tabitha terpaksa menundukkan wajahnya dalam-dalam, tak lagi mampu menyembunyikan isak tangis yang mulai lolos dari tenggorokannya. Yah, namanya juga perempuan, sejutek dan segalak apa pun ia mencoba mendominasi di hadapan dunia, ada satu titik di mana ego dan energinya habis, menyisakan sisi rapuh yang runtuh begitu saja. Seluruh karyawan yang menyaksikan pemandangan langka itu saling berpandangan dengan ekspresi melongo. Suasana lobi yang tadinya tegang berubah menjadi canggung.
"Serius... si Tita nangis?"
"Baru kali ini dalam sejarah kantor gue lihat Miss Perfect nangis bombay."
"Kayaknya yang ini bener-bener bikin dia sakit hati banget sih."
Bahkan Mela, Yuri, dan Debi yang berdiri di belakang ikut terpaku di tempat. Mereka sangat mengenal Tabitha sebagai sosok perempuan yang keras kepala, mandiri, dan pekerja keras. Ia selalu tampak tangguh menguasai keadaan. Tak pernah sekalipun dalam bertahun-tahun pertemanan mereka melihat Tita meneteskan air mata di depan banyak orang seperti sekarang.
Sementara itu, Zyan selaku tersangka utama dari keributan masih berdiri mematung di tempatnya. Sepasang mata coklat tajam miliknya sama sekali tak lepas dari wajah cantik Tabitha yang kini menunduk sambil menangis sesenggukan di depannya. Detik itu juga, untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di kantor ini, senyum jahil dan aura menyebalkan di wajah tampannya benar-benar lenyap tanpa sisa, digantikan oleh sorot mata penuh rasa bersalah yang mendalam.
Bersambung…