Sepanjang lunch break itu, wajah Tita tampak jauh dari kata tenang. Matanya sering kali berkeliling mencari sosok Zyan, bibirnya pun selalu cemberut. Normally, ia bisa menikmati makan siang sambil bercanda dan bergosip bersama Mela, Yuri, dan Debi. Namun kali ini, selera makannya mendadak hilang total. Pikirannya benar-benar tidak fokus. Yang terus berputar di kepalanya hanya satu nama. Zyan. Tabitha masih tak habis pikir. Baru sehari kerja di kantor pusat, pria itu sudah berani menyindirnya habis-habisan di depan umum. Jualan gorengan. Buka lapak UMKM. Semakin diingat, semakin panas pula kepalanya."Emangnya dia punya andalan apa sih sampai berani ngudik gue?" gerutunya dalam hati. Selama bekerja di perusahaan itu, belum pernah ada satu pun rekan kerja yang berani berkomentar apalagi menyinggungnya secara terang-terangan. Jangankan mengejek, membantah pendapatnya saat meeting saja kebanyakan orang harus berpikir dua kali. Semuanya baik-baik saja... sampai si Zyan itu datang. Sejak kemunculan pria itu, hidup Tabitha rasanya langsung dipenuhi gangguan. Tak heran jika sepanjang jam istirahat, ia sibuk mencari keberadaan pria tersebut ke berbagai sudut kantor. Mulai dari pantry, ruang loker, hingga area smoking room yang biasanya banyak staf laki-laki. Namun hasilnya tetap nihil. Saat ia bertanya kepada beberapa rekan kerja, bukannya mendapat jawaban, mereka malah meledeknya habis-habisan.
"cieee, cinta pada pandangan pertama ni..."
celetuk salah seorang rekannya.
"Lho, kok anak baru jadi penting banget? Sampai lo cariin ke mana-mana. Jadi penasaran gue sama itu anak baru."ucap Yuri.
"Iya, Tit. Jangan-jangan, lo mulai suka ya, kangen?"
"Wah... baru ilang sebentar aja udah dicariin."
Tabitha memutar bola matanya jengah. "Enak aja. Gue cari dia karena mau bikin perhitungan sama tuh anak."Ucapan itu justru membuat rekan-rekannya tertawa semakin keras.
Tak terasa, jam istirahat pun berakhir. Para karyawan kembali ke meja kerjanya masing-masing. Suara keyboard mulai bersahutan, diselingi dering telepon kantor dan obrolan pelan antar divisi. Belum lama Tabitha duduk di kubikelnya, notifikasi dari grup internal Divisi Marketing muncul di layar komputernya.
Pak Amir "Meeting bersama klien PT Aruna dimajukan pukul 15. 30. Tim Marketing harap segera bersiap di ruang meeting lantai dua belas."Yah... buru-buru banget. Gue belum prepare lagi," Tabitha menghela napas. Ia langsung berdiri dari kursinya. "Mel, gue ke locker room bentar."
"Mau ngapain, Ta?"
"Ambil blazer buat meeting. Biar nanti nggak bolak-balik."
"Oke."
"Eh, Tit. titip sepatu gue."
Tabitha mengacungkan jempol sembari berjalan cepat menuju ruang loker karyawan. Begitu pintu lokernya dibuka, tangannya langsung meraih gantungan blazer putih yang selalu ia kenakan saat bertemu dengan klien penting. Namun... tangannya hanya menyentuh ruang kosong. Tita mengeluarkan hanger.
"Hah?" Ia mengernyit bingung.
Map presentasi masih ada di tempatnya. Sepatu heels cadangan juga masih tersimpan rapi. Laptop pun tak berpindah tempat. Hanya satu hal yang hilang dari lokernya. Blazer putih kesayangannya.
"Nggak mungkin, nggak ada..." Tabitha mulai panik dan tangannya bergerak cepat mengeluarkan satu per satu isi loker mengingat pekerjaannya yang belum selesai. Tapi yang dicari tetap tidak ada. "Siapa yang iseng, sih?"
Dengan langkah cepat dan emosi yang mulai tersulut, ia kembali ke ruang kerja.
"Mela!"
Sahabatnya langsung menoleh. "Kenapa,Tit?"
"Lo lihat blazer gue?"
Mela menggeleng heran. "Biasanya kan lo simpan di dalam loker?"sahut Mela.
"Iya. Tapi nggak ada."
Mela langsung berdiri dari kursinya. "Gue bantu cari deh."
Tak lama kemudian, Yuri dan Kime turun dari lantai empat. Mereka ikut membantu setelah melihat kepanikan mereka dua sahabatnya. Mereka mencari ke berbagai penjuru loker, mulai dari bagian atas lemari loker, loker kosong, ruang pantry, hingga ruang arsip. Tetap saja blazer itu tidak ketemu. "Nggak mungkin kan, blazer gue jalan-jalan dikantor?"ucap Tita mulai putus asa. "Ngaco aja lo. Kita balik dulu deh, sambil lo inget-inget, Tit. Taruh dimana blazer lo?"putus Yuri. Ketiganya mengangguk lalu kembali menuju meja kerja Tita. Saat keempatnya melewati area lobi utama perusahaan, suara tawa tertahan dari beberapa karyawan membuat langkah mereka terhenti.
"Hei tunggu... itu kan..."
"Ya ampun..."
“Astaga…”
"Siapa sih yang berani ngelakuin ini?"
Tabitha spontan mengikuti arah pandangan mereka. Langkahnya mendadak membeku.
Di samping meja resepsionis berdiri sebuah standee promosi berukuran besar untuk kampanye produk sabun mandi keluarga yang akan segera diluncurkan perusahaan.
Yang membuatnya terpaku bukan standee itu. Melainkan blazer putih miliknya yang dipakaikan pada gambar ilustrasi perempuan di standee tersebut.
Di bagian d**a, tertempel secarik post-it kuning bertuliskan,
JANGAN DIPINJAM TANPA IZIN
Wajah Tabitha langsung memerah padam.
Blazer favoritnya...
Yang biasa ia kenakan saat bertemu klien penting...Kini justru menjadi bahan lelucon di depan seluruh karyawan. Bahkan dua orang resepsionis menunduk dalam menahan tawa.
Tanpa pikir panjang, ia menghampiri standee itu, mencabut post-it tersebut, lalu menarik blazer miliknya dengan kasar.
"Siapa yang ngelakuin ini?!"teriak Tita dengan mata yang menyalang penuh emosi.
Suaranya menggema di area lobi. Matanya menatap satu persatu karyawan.
Semua orang yang berada di sana hanya saling pandang. Beberapa terlihat menahan tawa, sementara yang lain pura-pura tidak tahu. Tak ada satu pun yang berani menjawab.
Di saat bersamaan...
Ting!
Pintu lift terbuka.
Zyan keluar sambil membawa beberapa map dan sebuah tablet. Melihat kerumunan di depan resepsionis, ia menghentikan langkah.
"Ada apa?"
Pertanyaan itu justru menjadi sumbu yang membuat emosi Tabitha memuncak. Kalau bisa mengeluarkan asap, mungkin dari telinga dan hidung Tabitha saat ini sedang mengepul.
Tatapan mereka bertemu. Suasana mendadak hening.
Di kepala Tabitha, hanya ada satu kesimpulan.
"Pasti dia yang bikin ulah."
Bersambung…