BAB 8
“Coba aja ya, Om. Masa si Zyan itu berani berbuat kurang ajar begitu!”
Tabitha duduk di sofa ruang tamu di rumah Pak Thomas dengan wajah yang masih dipenuhi kekesalan. Sejak tadi, perempuan itu tanpa henti menceritakan kejadian-kejadian yang mengganggunya sejak kedatangan Zyan mulai dari selendang tari miliknya, saling tarik menarik paperbag di pos security hingga blazernya yang dipasang pada papan stadee promosi dengan menggebu-gebu.
Pak Thomas Parlindungan Siregar hanya mendengarkan. Ia merupakan salah satu sahabat dekat papinya, sekaligus salah satu pendiri perusahaan tempat Tabitha bekerja. Bagi Tabitha, mengadu kepada pria paruh baya itu sama saja mengadu pada ayahnya. Sudah seperti itu sejak dulu. Karena ayah Tita bertugas di luar negeri.
Biasanya, sekali ia mengadu, Pak Thomas akan langsung bertindak. Namun, kali ini berbeda. Pak Thomas justru tampak tenang, meski raut wajahnya sedikit menunjukkan kebingungan. Ia hanya menanggapi aduan Tabitha dengan anggukan pelan sebelum menyandarkan punggungnya ke sofa.
“Kok dia bisa berani gitu, ya?” gumamnya.
“Makanya, Om!” Tabitha langsung menyambar. “Tita juga nggak habis pikir. Baru berapa hari masuk kerja di kantor kita, masa dia sudah berani mempermalukan Tita di depan semua orang. Sumpah, Tita malu banget, Om.”
Pak Thomas menghela napas.
“Setahu Om, Zyan itu anak baik dan cukup sopan.”
Tabitha langsung menegakkan tubuh.
“Sopan apanya, Om? Dia ambil blazer Tita di loker pribadi, terus dipasang di standee promosi di lobi! Semua orang lihat! Apa baiknya? Kalau Om nggak percaya, tanya saja sama karyawan yang lain. Mereka semua bisa jadi saksi.”
Lagi-lagi Pak Thomas hanya menanggapi dengan mengangguk-angguk pelan.
“Lalu... apa kamu yakin dia yang melakukan itu?”
Tabitha terdiam sesaat. Ia bingung kenapa Om-nya justru merespons seolah-olah tidak percaya pada ucapannya.
“Siska lihat sendiri.”
Pak Thomas menatap putri tunggal sahabatnya, Adnan.
“Siska bilang sendiri sama Tita kalo dia lihat Zyan memasangkan blazer itu?”
“Iya, Tita.”
Pak Thomas mengusap dagunya.
“Kalau begitu, nanti Om cari tahu dulu.”
Tabitha langsung mengerutkan kening.
“Kenapa harus dicari tahu lagi sih, Om? Jelas-jelas dia pelakunya.”
“Tabitha.”
Nada suara Pak Thomas terdengar pelan, tetapi cukup tegas untuk membuat perempuan itu terdiam.
“Om cuma heran. Zyan baru beberapa hari bekerja di perusahaan ini. Kalau benar dia melakukan itu, berarti ada sesuatu yang membuat dia sampai berani bertindak seperti itu.”
Tabitha mendengus.
“Ya karena dia memang kurang ajar.”
“Atau...” Pak Thomas menatapnya lekat-lekat. “Kamu yang lebih dulu memancingnya?”
Tabitha tersentak.
“Loh? Om Thomas kok malah ngebelain dia?”
“Bukan membela, Tabitha.”
“Terus?”
“Om cuma mencoba melihat masalahnya dari dua sisi.”
Tabitha kembali menyandarkan tubuhnya ke sofa dengan wajah semakin kesal.
“Ya, kenyataannya Zyan memang sudah mempermalukan Tita. Kenapa Om masih banyak pertimbangan?”
Pak Thomas menghela napas panjang.
“Ya sudah. Nanti Om panggil Zyan dan beri dia peringatan.”
“Peringatan?”
Tabitha langsung kembali menegakkan tubuh.
“Serius, Om cuma diperingatkan?”
“Iya. Untuk sementara. Karena Zyan masih baru.”
“Kenapa nggak langsung kasih surat peringatan ketiga? Atau sekalian mutasi dia ke cabang yang jauh?”
Pak Thomas menahan senyum melihat tingkah putri tunggal sahabatnya itu.
“Memangnya kamu mau mengusir dia dari kantor?”
“Kalau perlu, iya!”
“Tabitha.”
“Apa? Om aneh banget sih.”
“Dia bukan karyawan yang bisa kamu singkirkan hanya karena kamu sedang marah.”
Tabitha terdiam mendengar perkataan Thomas. Suaranya memang direndahkan, tetapi masih terdengar jelas.
“Kalau dia memang terbukti bersalah, tentu akan ada tindakan sesuai aturan perusahaan,” lanjut Pak Thomas. “Tapi jangan berharap Om langsung memecat dia hanya berdasarkan cerita dari satu pihak.”
Tabitha mendecakkan lidah.
“Tita cuma nggak suka dia kurang ajar sama Tita.”
Pak Thomas mengangguk pelan.
“Itu bisa Om pahami.”
Tabitha kembali bersandar sambil menyilangkan kedua tangan di d**a.
Namun, saat hendak melanjutkan protes, Pak Thomas sudah berkata dengan suara lebih rendah,
“Karena kalau menyangkut Zyan...”
Ia berhenti sejenak. Tatapannya berubah serius.
“...tidak semudah itu, Tita.”
Tabitha mengernyit dalam.
“Maksud Om?”
Pak Thomas tidak langsung menjawab. Hanya senyum tipis yang muncul di wajah pria itu.
“Sudahlah. Kamu pulang dulu sana. Sudah sore. Urusan Zyan, biar Om yang tangani.”
Tabitha masih menatapnya penuh curiga.
Untuk pertama kalinya, ia merasa ada sesuatu tentang Zyan yang tidak ia ketahui.
Dan entah kenapa...
Hal itu justru membuatnya semakin penasaran.