Zyan melangkah santai memasuki gedung menuju ruang kerja Divisi Marketing & Creative. Suasana kantor sudah cukup ramai. Beberapa karyawan yang baru saja tiba langsung sibuk menyalakan komputer, sementara yang lain masih asyik mengobrol diantara sekat kubikel sebelum briefing pagi dimulai.
Di salah satu sudut ruangan, meja Tabitha kembali dikerubungi beberapa rekan kerja. Bukan karena sedang membahas proyek atau strategi pemasaran, melainkan karena koper berisi aneka camilan miliknya kembali dibuka. Pagi ini, ia malas menjajakan camilannya di kantin.
"Tit, makaroni level lima masih ada?"
"Ready dong..."
Tita segera mengeluarkan permintaan pelanggannya.
"Gue pesen keripik Padang baladonya dua bungkus, ya."
"Tita, si Melly nitip kacang mede pedas. Nanti sekalian anterin ke ruangannya ya,"
Tabitha mengangguk kecil sambil memasukkan pesanan ke kantong plastik.
"Oke. Nanti gue antar."
Tangannya bergerak lincah melayani satu per satu pelanggan, seolah membuka minimarket dadakan di tengah kantor.
Zyan yang baru masuk menghentikan langkahnya sejenak. Tatapannya beralih dari kerumunan karyawan menuju koper di samping meja Tabitha.
"Ini kantor, kan?" tanyanya polos.
Tabitha mengangkat kepala.
"Kenapa memangnya?"ketus Tita.
"Nggak, gue kira salah masuk gedung."
Kening Tabitha langsung berkerut.
"Kirain lagi ada bazar UMKM."
"Maksud lo?"
"Kantor segede ini kok bisa-bisanya ada yang buka lapak gorengan. Nggak profesional banget."
"Heh!" Tabitha mendelik. "Gue jualan camilan, bukan gorengan!"
"Lagian nggak ada larangan karyawan berjualan di kantor. Yang penting nggak ganggu kerjaan."balas Tita tak mau kalah.
"Oh..." Zyan mengangguk pelan.
Jo, Tomi, dan Alan yang berdiri di belakang Zyan langsung menahan tawa mendengar Zyan hanya menanggapi dengan "oh."
Tabitha sampai terpaku beberapa detik.
Baru kali ini ada orang yang menyebut dagangannya seperti itu.
Mela, Yuri, dan Kime saling berpandangan. Melihat perubahan ekspresi Tabitha yang mulai menggelap, ketiganya otomatis memilih bungkam.
Namun, Zyan sama sekali tidak merasa bersalah.
"Sekalian jual cotton bud sama tisu basah juga, lumayan. Biar paket hemat."
Brak!
Telapak tangan Tabitha menghantam meja hingga membuat beberapa karyawan menoleh kaget.
Ia langsung berdiri. Tatapannya tajam menusuk pria yang sejak kedatangannya sukses menguji kesabarannya.
Segudang kalimat pedas sudah mengantre di ujung lidah, siap dimuntahkan kapan saja. Namun...
"Selamat pagi, semuanya."
Suara berat Pak Amir, Manajer Divisi Marketing, terdengar dari ambang pintu kaca besar.
Suasana ruangan seketika hening. Para karyawan yang tadi masih sibuk membeli camilan buru-buru kembali ke meja masing-masing. Ada yang pura-pura menatap monitor, ada yang merapikan dokumen, bahkan mengetik asal di keyboard demi terlihat sibuk.
Mela dan Yuri bergerak cepat membantu Tabitha memasukkan sisa dagangannya yang tergeletak di atas meja ke dalam koper. Sementara itu, Zyan hanya menarik sudut bibirnya tipis sebelum duduk santai di kursinya. Tabitha menggertakkan gigi.
Mau tak mau, ia harus menelan kembali semua kata-kata makian yang siap meluncur. Ia harus menahan kekesalan yang sudah memenuhi kepalanya.
"Awas aja nanti," gumamnya pelan sambil menatap tajam ke arah Zyan.
Seolah menyadari tatapan marah itu, Zyan mengangkat kepala. Tatapan mereka bertemu. Alih-alih merasa takut, pria itu justru mengangkat sebelah alis, lalu...
Dip!
Tatapan tajam Tita dibalas dengan satu kedipan mata oleh Zyan.
Rahang Tabitha langsung mengeras. Dadanya naik turun penuh emosi.
"Tabitha Azzahra."tegur Pak Amir.
Tita langsung menunduk menatap berkas di mejanya dengan tangan terkepal erat.
"Berani-beraninya dia..."
***
Lima jam berikutnya berlalu sangat lambat bagi Tabitha.
Di depan layar komputer, ia berusaha menyelesaikan laporan proyek yang harus dikirim sore nanti.
Sayangnya, setiap kali mencoba fokus, bayangan wajah menyebalkan pria di depannya seolah berputar-putar di kepalanya.
"Tunggu aja jam istirahat. Gue bakal bales."
Akhirnya, waktu makan siang pun tiba.
Begitu jam istirahat dimulai, Tabitha langsung berdiri dan melihat ke meja Zyan yang berada tepat di depannya.
Kosong.
Laptopnya masih menyala. Beberapa berkas berserakan di atas meja, tetapi pemiliknya sama sekali tak terlihat.
"Kemana, sih?" gumam Tabitha.
Siska yang baru kembali dari pantry menghampiri Tita.
"Nyari Zyan?"
Tabitha mengangguk.
"Tadi dipanggil Pak Ardi ke lantai empat."
"Lantai empat?"
"Iya. Tim Periklanan lagi butuh revisi materi promosi. Katanya Zyan diminta bantu di sana."
Tabitha mendecak pelan.
"Cih... dasar pengecut. Kabur duluan."
Mela yang sejak tadi berdiri di sampingnya langsung menepuk bahu Tabitha.
"Udah, nanti aja marah-marahnya. Sekarang makan dulu. Kasihan Yuri sama Debi udah nunggu."
Tabitha akhirnya mengembuskan napas panjang. Dengan malas, ia mengikuti langkah Mela menuju kantin.
Padahal, tanpa sepengetahuan Tabitha, Zyan benar-benar sedang bekerja di lantai empat, bukan sedang melarikan diri dari amarahnya.
Di ruangan Divisi Periklanan, Pak Ardi menatap hasil revisi yang baru saja diselesaikan Zyan.
"Bagus. Cepat juga kamu nangkep brief."
"Terima kasih, Pak."
Zyan menutup laptop, tetapi tiba-tiba wajah seseorang terlintas di benaknya.
Tabitha.
Perempuan yang sejak pagi tak berhenti memasang wajah galak setiap kali meliriknya. Sudut bibir Zyan kembali terangkat.
"Miss Perfect..."
"Calon istri tuh?"gumamnya.
Ia terkekeh pelan sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.
Bersambung…