Pagi itu sisa embun masih menempel samar di dedaunan area smoking room, beradu dengan hawa dingin AC lobi yang menusuk kulit. Disana sebagian karyawan menunggu waktu jam kerja mulai sambil bercengkrama. Namun di seberang gedung, beberapa karyawan dengan id-card bergelantungan sudah tampak bergerombol menuju warkop estetik di pinggir jalan utama. Spot legendaris yang selalu menjadi pelarian andalan anak-anak kantor kalau sedang gabut atau pas kerjaan lagi free.Di warkop itu, Jo, Doni, Alan, dan Tomi sudah berkumpul membentuk sirkel kecil. Rutinitas pagi mereka selalu sama: sharing session alias bergosip sambil menikmati pisang goreng hangat dan es kopi s**u. Namun, atmosfer nongkrong pagi itu mendadak agak mendung karena Jo langsung ngedumel tanpa henti. Wajahnya ditekuk kusut, sangat kesal dengan isu kenaikan harga BBM non-subsidi yang baru saja diumumkan pemerintah. Doni, Alan, dan Tomi sebetulnya saling berpandangan heran. Mereka bingung, kenapa Jo bisa se emosional itu menanggapi harga BBM yang naik, padahal biasanya dia paling cuek urusan berita nasional.
“Gila aja, naiknya nggak ngotak! Kantong gue boncos kalau begini terus tiap bulan,” omel Jo sembari menggigit pisang gorengnya dengan gusar.“Elo kenapa sih, Jo? Sensitif amat pagi-pagi, kayak habis di cancel netizen aja,” celetuk Doni sambil mengaduk es kopinya santai.
“Iya, Jo. Gue heran sama lo. Rumah lo kan deket banget dari kantor, tinggal jalan kaki terus nyeberang jalan doang udah nyampe. Lagian lo kan ke mana-mana naik ojek online, gak punya motor, apalagi mobil. Jadi, kenapa lo yang paling heboh kesel pas harga BBM naik? Kecuali yang ngeluh bokap atau abang lo yang punya kendaraan, baru masuk akal. Lah elo?” tanya Doni heran.“Tahu lo, Jo. Gak ada pengaruhnya sama sekali buat dompet lo,” tambah Tomi sambil geleng-geleng kepala.Alan hanya terkekeh geli melihat Jo yang disudutkan oleh teman-temannya di pojok warkop pagi itu.Jo mendengus kesal, langsung menatap Doni dan Tomi dengan pandangan tersinggung.“Heh, siapa bilang gak ada pengaruhnya buat gue?!” serang Jo enteng. Ia kemudian merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah korek besi bermerek, lalu menjentikkannya hingga apinya menyala. “Korek Zippo gue ini kan isinya juga bensin, Maliiih! Minyak Zippo ikutan naik tahu nggak!”
Setelah menjawab dengan nada super yakin tanpa beban, Jo langsung menyalakan sebatang rokoknya dengan gaya sok keren. Doni, Tomi, dan Alan seketika melongo, lalu kompak melempar tisu bekas ke arah Jo karena tingkat ke-absurdan sahabatnya itu sudah di luar nalar.
Tepat setelah kehebohan korek Zippo itu mereda, sebuah Pajero hitam tampak melipir dan berhenti tak jauh dari area warkop tempat mereka nongkrong. Dari pintu kemudi, sesosok laki-laki berusia 24 tahun dengan wajah tampan blasteran dan postur tubuh tegap yang manly melesat turun. Ia menyampirkan tote bag kecilnya dengan santai di pundak."Eh, Guys, itu si Zyan!" ujar Doni, matanya langsung tertuju ke arah parkiran."Oh, iya tuh! Panggil, Don, suruh join ke sini!" seru Tomi antusias.Doni langsung berdiri dari bangkunya, lalu berteriak sambil melambaikan tangan. "Hei! Zyan! Sini lo!"Zyan menoleh ke arah sumber suara. Mengetahui dirinya dipanggil, ia mengurungkan niat untuk langsung masuk ke dalam lobby gedung kantor. Kakinya melangkah lebar menyusul sirkel teman-teman barunya itu."Hei! What's up?" sapa Zyan ramah begitu sampai di meja warkop.Plak!Tanpa basa-basi, Tomi langsung menepuk bahu Zyan dengan keras, membuat cowok itu sedikit terkejut."Gila, hebat banget lo kemarin! Berani-beraninya langsung head-to-head ngelawan si Cleo Tabitha!" ujar Tomi heboh sambil merangkul dan menggiring Zyan untuk duduk di tengah-tengah sirkel warkop itu. Zyan cuma bisa nyengir kuda. Di dalam hati, ia sebenarnya merasa agak sebal dan tengsin. Ia curiga, apakah teman-teman barunya ini sedang sarkas atau terang-terangan meledeknya? Karena jujur saja, di matanya sendiri, insiden kemarin di kantin kantor hingga pos security itu adalah momen di mana dia kalah telak dan zonk karena dikerjai habis-habisan oleh cewek sialan itu.
Namun, melihat raut wajah mereka, sepertinya geng teman barunya ini benar-benar tulus memujinya, bukan sedang sarkas.“Serius gue, Zyan. Lo keren parah kemarin,” ujar Tomi meyakinkan.“Lo tahu nggak? Kita-kita aja nih yang udah kerja lama di kantor ini, nggak ada satu pun yang punya nyali buat ngejawab kalau si Tita udah mulai ngomel-ngomel.”Jo dan Alan kemudian ikut menimpali. Mereka bergantian sharing tentang betapa besarnya power yang dimiliki Tabitha di perusahaan ini, terutama di area divisi lantai tiga. Fakta bahwa Tita adalah keponakan dari major shareholder alias pemegang saham terbesar perusahaan, membuat posisinya benar-benar tidak tersentuh. Ditambah lagi, Tita itu paket lengkap, dia galak, berani, pintar, dan harus diakui fisiknya pun cantik banget. Paket komplit itu membuatnya dijuluki "Cleopatra SCBD". Banyak karyawati baru yang langsung merapat menjadi "anak buah" atau sirkel terdekatnya. Sayangnya, rata-rata dari mereka jadi kehilangan attitude asli dan nggak punya keinginan untuk menunjukkan personality mereka sendiri. Mereka cuma cari aman supaya kariernya selamat dengan cara surrender alias bergabung di kubu Tabitha. Alhasil, si Tita jadi makin dominan dan sok tahu.
“Makanya, kalau lo emang berniat buat ngeruntuhin d******i dan empire yang dia bikin, kita-kita di sini bakal support lo seratus persen. Dan gue yakin, anak-anak cowok dari divisi lain juga bakal sejalan sama kita,” ucap Tomi menggebu-gebu.“Mungkin lo emang diutus Tuhan ke kantor ini buat jadi counter atau tandingan dia. Soalnya selama ini nggak ada ksatria yang seberani lo,” tambah Jo dengan penuh semangat, sampai menyemburkan sedikit asap rokoknya.“Ah, elo mah berlebihan! Kayak apaan aja!” tampik Zyan sambil tertawa kecil, berusaha tetap membumi.Tapi jujur saja, harus diakui kalau dukungan penuh dari teman-teman barunya ini sukses menyuntikkan booster semangat baru ke dalam dirinya. Ego dan jiwa kompetitif Zyan langsung terusik. Ia jadi makin termotivasi dan tidak sabar untuk menyusun strategi demi membalas sekaligus mengerjai balik cewek sialan itu di kubikel nanti.