“Jadi lo, yang ngambil selendang tari gue!” tuduh Tita langsung, to the point. Zyan mengernyitkan dahinya. “Selendang? Ngambil?”
Tita berdiri tepat di hadapan Zyan, jarak posisi mereka berdua kini hanya tersisa satu meter.“Iya, itu yang lo bawa-bawa itu selendang tari gue…!” Tita maju setengah langkah, menatap lawan bicaranya dengan pandangan menantang. “Lo kalo mau maling, yang kerenan sedikit dong. Masa properti cewek lo ambil juga,” sinis Tita. Seisi kantin mendadak hening. Semua karyawan terdiam sambil menahan napas, perhatian mereka terpusat penuh ke arah Tita dan Zyan. Bahkan untuk sekadar berbisik-bisik pun mereka tidak berani. Zyan menoleh ke arah paper bag yang dibawanya. Pria itu ikut maju setengah langkah, menyeimbangkan d******i Tita. “Lo kalo nuduh jangan sembarangan. Kain ini gue lihat tergeletak di atas meja ruang rapat kemarin sore. Sekarang mau gue bawa ke bagian informasi, biar yang punya tahu di mana barangnya dititip secara official.”
“Nggak perlu. Itu barang punya gue,” potong Tita ketus sembari menyambar paksa paper bag tersebut. Namun dengan gerakan refleks yang cepat, Zyan menggeser tangannya yang membawa paper bag ke belakang punggung. Tita mendongak, menatap Zyan dengan sorot mata tajam yang siap membunuh. Jari telunjuknya terangkat tepat di depan wajah pria itu.“Lo jangan kurang ajar ya!” sentak Tita keras. Zyan bukannya takut, ia malah tersenyum tipis. Sebuah senyuman meremehkan yang memicu adrenalin. “Gue harus lapor dulu ke security. Siapa tahu ini selendang bukan punya lo, dan lo cuma ngaku-ngaku.”
Sontak bola mata Tita membola sempurna, ia tak percaya ada anak baru yang seberani ini. Jari telunjuknya langsung berubah menjadi telapak tangan yang siap melayangkan tamparan keras ke pipi Zyan. Tepat saat tamparan itu dilayangkan, dengan gerakan fast-response, Zyan menahan pergelangan tangan Tita. Tanpa melepas cengkeramannya, Zyan langsung menarik dan menyeret Tita menuju pos security. Tita berontak sekuat tenaga, namun semakin ia melakukan resistensi, semakin erat Zyan menggenggam pergelangan tangannya dan semakin cepat langkah kaki pria itu. Setelah mereka menjauh dari kantin, barulah para karyawan dan karyawati yang ada di sana pecah dalam kehebohan, sibuk bergosip.“Gila, berani banget anak baru.”
“Iya, selama ini nggak ada yang berani nyentuh barang-barang Tita, biarpun ketinggalan di sembarang tempat.”
“Fix sih, gue respect banget sama anak baru itu. Mentalnya baja.”
Sesampainya di pos security. Pak Jaka menarik napas dalam-dalam lalu mendekat pada Zyan dengan wajah pias. “Aduh… Mas Zyan, kenapa ngambil selendang punya Mbak Tita?!”
Zyan mengernyitkan dahi, bingung dengan respons sang penjaga keamanan. “Saya nggak tahu ini punya dia, Pak. Lagian, memangnya kenapa? Saya cuma berniat mengamankan lost and found barang karyawan yang ketinggalan.”
“Huh…” Pak Jaka menghela napas panjang, tampak frustrasi. “Nggak ada yang berani pegang apalagi ngutak-ngatik barang Mbak Tabitha, Mas. Pak Direktur aja nggak berani mengusik dia, apalagi kita yang cuma staf biasa.”Zyan terdiam, mencerna informasi barusan. Sementara itu, Tita melangkah masuk ke dalam pos dengan emosi yang masih menyala. Gadis itu menarik paksa paper bag-nya, namun Zyan tetap bersikukuh menahannya. Terjadilah aksi tarik menarik paper bag yang kekanak-kanakan di antara mereka berdua.
Pak Jaka yang panik melihat situasi semakin chaos segera melerai. “Sudah, sudah. Mas Zyan, kembalikan aja sama Mbak Tita.”
Zyan bergeming, ia ragu. Ragu karena gengsi. Tapi mau tak mau Zyan melepaskan juga genggamannya. Sepertinya selendang tari warna pink itu memang valid milik gadis di hadapannya.“Huh! Lain kali tanya-tanya dulu sebelum bertindak ya, biar nggak clueless,” putus Tita sarkas sembari melenggang pergi membawa paper bag-nya.
***
“Pak Thomas Parlindungan Siregar, salah satu major shareholder alias pemegang saham terbesar di korporat ini emang om nya dia. Ya, emang sih bukan om kandung, tapi Pak Thomas udah sahabatan dekat banget sama papinya Tita.” ucap Tomi.
Alan membenarkan saat mereka mengobrol di ruang kubikel sore itu. Zyan terdiam membisu. Ternyata Tabitha tidak main-main dengan ancaman dan sikap diktatornya tadi. Beruntung ia masih bisa menahan diri untuk tidak mentoyor dahi si "Cleopatra SCBD" yang sudah sukses membuatnya menanggung malu di hari pertama onboarding kerja di kantor pusat ini.
Padahal, sudah sejak tahun lalu Zyan mengajukan request mutasi ke kantor pusat ini. Di kantor cabang sebelumnya, Zyan sudah sangat terkenal dengan portofolio desain dan jurus marketing-nya yang selalu break the record. Ia sengaja pindah karena mendengar kantor pusat dipenuhi oleh orang-orang pintar dan canggih yang setara dengannya. Namun yang terjadi di hari pertama justru bertolak belakang dengan career plan yang ia susun. Sore itu, matahari Jakarta masih saja terasa menyengat. Zyan melangkah lesu melewati lobby utama dengan kepala tertunduk, bersiap menunggu mobil Pajero hitam yang menjemputnya. Di saat yang sama, rombongan Tita, Kime, Mela, dan Yuri melintas tanpa menoleh sedikit pun. Begitu juga dengan karyawan lain yang mendadak menjaga jarak dari Zyan. Namun, Mela sempat melirik sekilas dengan tatapan kasihan.“Kalian masih ingat si Adipati nggak?” tanya Tita pada teman-temannya dengan volume suara yang sengaja dikencangkan.Teman-temannya terdiam, tampak mencoba mengingat-ingat memori lama.“Masa kalian nggak ingat sih? Itu loh, karyawan baru yang masuk tahun lalu, yang sekarang udah resign dari kantor kita?” pancing Tita lagi.“Oh, iya! Gue ingat! Padahal masa probation tiga bulan aja belum selesai tapi dia udah buru-buru cabut. Hahaha,” Yuri dan Kime langsung tertawa terbahak-bahak begitu ingatannya kembali.“Kalian ingat kan, dia resign gara-gara apa?”
“Iya, berani banget nyerobot jobdesk kita. Songong banget langsung submit proposal ke atasan tanpa approval atau kasih tahu tim dulu.”
Tita menjentikkan jarinya dengan puas. “Nah, itu dia point-nya. Makanya, jangan mentang-mentang cowok bisa seenaknya saja bertindak over-proud di depan cewek.” Tita melirik sekilas, melempar tatapan penuh peringatan ke arah Zyan sebelum melangkah pergi.
Bersambung…