Seseorang melangkah memasuki ruangan dengan langkah tenang. Tatapannya lurus, ekspresinya datar. Rambut hitam yang tertata rapi, kulit putih, rahang tegas, serta sepasang mata cokelat yang tajam membuat sosok itu langsung mencuri perhatian seisi ruangan. Wajah blasterannya nyaris tak memiliki cela. Zyan Xavier Malik. Laki-laki berusia dua puluh tujuh tahun tapi babyface itu sempat mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan sebelum matanya berhenti sesaat pada Tabitha dan Mela."Oh, Tuhan... secepat ini?" desah Mela, langsung salah tingkah. Tangannya buru-buru merapikan rambut.Tabitha mendengus pelan. "Nggak usah lebay."Tabitha berusaha tetap terlihat tenang. Ia berpura-pura sibuk membuka laci kedua di bawah meja kerjanya, lalu mengambil sebuah map berisi dokumen. Namun, saat hendak menutup laci, Tita sedikit kehilangan fokus hingga map itu terlepas dan jatuh berdebam ke lantai.
Brak!
Jemarinya sempat berhenti sesaat ketika melihat Zyan berjalan semakin dekat ke arah areanya. Beruntung, suara pengumuman dari pengeras suara kantor memecah keheningan yang sempat mencekam itu."Selamat datang kepada karyawan baru Divisi Pemasaran. Mohon seluruh tim memberikan dukungan selama masa orientasi."Zyan berhenti tepat di meja kosong yang letaknya berhadapan dengan meja Tabitha. Kedua meja itu hanya dipisahkan panel rendah setinggi sekitar setengah meter, membuat mereka bisa saling melihat dengan jelas tanpa perlu berdiri. Ia meletakkan briefcase di atas meja, lalu menoleh ke arah Tabitha."Halo." Laki-laki itu mengulurkan tangan. "Gue Zyan. Semoga kita bisa kerja sama dengan baik."
Tabitha menatap uluran tangan itu selama beberapa detik. Entah mengapa, ada perasaan aneh yang sulit ia jelaskan mendadak menyusup ke dadanya. Namun, wajahnya tetap dikondisikan sedatar mungkin. Tanpa senyum, ia menyambut jabatan tangan Zyan sekilas."Tabitha." Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Di sisi lain, Mela masih terpaku memandangi wajah Zyan tanpa berkedip.
"Demi apa..." gumam Mela lirih, hampir tidak terdengar.
"Speknya Dylan Wang banget."
Tabitha memutar bola mata jengah. "Fokus kerja, Mel."
***
Siang hari di kantin.
"Gue suka deh sama namanya. Zyan," ucap Mela kegirangan sambil menyendok sebutir bakso ke dalam mulutnya. "Biasa aja."sahut Tita datar.
Kime mengangkat kepala. "Oh iya, gue denger-denger ada anak baru di Divisi Marketing, ya?" tanyanya, sahabat Tabitha dari Divisi Kreatif yang masih keturunan Tionghoa.Yuri yang duduk di sebelahnya ikut mengangguk setuju. Ia juga sahabat dekat Tabitha sekaligus rekan satu divisi dengan Kime.
"B aja Kim, nggak ada yang spesial." sahut Tabitha cuek. Kime dan Yuri saling berpandangan heran, lalu kompak melirik Mela. Tatapan mata mereka seolah bertanya tanpa suara, Kenapa lagi tuh anak? Mela hanya mengangkat kedua bahunya, tidak tahu harus menjawab apa. "Kalian tahu nggak sih... Zyan tuh ganteng banget! Mukanya mirip Dylan Wang, sumpah!" seru Mela bersemangat.
"Serius?" Kime langsung membulatkan matanya tak percaya. "Jadi penasaran gue."
"Iya, gue juga," timpal Yuri ikut antusias.
"Sstt... tuh dia!"Ketiganya spontan menoleh ke satu arah. Zyan baru saja melintas di area kantin sambil membawa sebuah paper bag di tangan kanannya. Beberapa karyawati yang kebetulan berpapasan dengannya langsung mendapat senyum ramah dari pria itu."Ganjen," gumam Tabitha pelan, mendengus sinis. Perhatian Mela justru langsung tertuju pada benda yang dibawa oleh cowok baru itu. "Eh, dia bawa apaan, tu...?"
"Pisang goreng kali," celetuk Tita asal.
"Ih, sembarangan aja lo, Tit! Masa cowok seganteng itu makan pisang goreng? Nanti bibirnya berminyak," protes Mela langsung mengembuskan napas panjang sambil menopang dagunya. "Kan gue juga yang repot, harus bersihin bibirnya pake bibir gue."
"Heh." Tabitha mendelik tajam. "Musibah kali kalau tuh cowok sampai dicium sama lo.”Mendengar itu, Yuri dan Kime langsung tertawa terbahak-bahak. "Gue ikutin, ah. Penasaran dia bawa apaan," celetuk Mela mendadak. Tanpa menunggu jawaban dari teman-temannya, ia buru-buru bangkit dari kursi. "Heh! Mau ke mana lo?" seru Yuri kaget. Refleks, Yuri dan Kime ikut menyusul di belakang Mela karena khawatir. Mau tak mau, Tabitha pun akhirnya ikut bangkit dan membuntuti ketiga sahabatnya itu.
Tak jauh dari meja mereka, Zyan masih berjalan santai menyusuri koridor kantin yang dipenuhi para karyawan sambil terus mengembangkan senyum. Sebuah paper bag bergelayut di tangan kanannya, diayun pelan seiring siulan kecil yang keluar dari bibirnya. Karena terus terayun, isi di dalam wadah kertas itu sedikit menyembul keluar. Ujung kain satin berwarna pink tampak menyembul dari dalam paper bag. Kilau lembut kain tersebut seketika menarik perhatian Tabitha. Langkah kaki Tabitha mendadak terhenti di tempat. Matanya menyipit tajam, berusaha memastikan objek yang baru saja ditangkap oleh inderanya.
Tunggu... Bukannya itu selendang tari miliknya yang hilang sejak kemarin sore?Setelah benar-benar yakin dengan penglihatannya, emosi Tabitha langsung tersulut. Ia mempercepat langkah kakinya dengan gusar."Heh! Tunggu!”
Tabitha langsung berdiri tepat di depan Zyan, menghadang jalannya dengan agresif.
Mela, Yuri, dan Kime yang berada beberapa langkah di belakang mereka langsung menghentikan langkah dengan syok. Mela bahkan spontan mengepalkan kedua tangannya rapat-rapat sambil memejamkan mata pasrah.Ya Tuhan... jangan sampai Tita bikin onar di kantin, batin Mela menjerit panik.
Zyan menghentikan langkah kakinya yang terhadang. Ia menatap Tabitha dengan sorot mata yang tetap tenang dan lempeng. "Ada apa?"
Tabitha melipat kedua tangannya di depan d**a angkuh, lalu mulai berjalan mengitari tubuh Zyan dengan tatapan penuh selidik dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Baru juga masuk kerja, udah berani macam-macam, ya?"Tatapannya beralih sengit pada paper bag di tangan pria itu. "Mau jadi maling lo?"Suara lantang Tabitha menggema cukup keras, hingga membuat riuh rendah obrolan para karyawan di sekitar mereka perlahan-lahan mereda. Satu per satu kepala mulai menoleh ke arah mereka, penasaran dengan keributan yang tiba-tiba terjadi di tengah jam makan siang ini.
"Maling?” Zyan mengulang kata itu dengan nada pelan. Ia sama sekali tidak mengerti dengan tuduhan ekstrem yang baru saja dilontarkan rekan kubikelnya itu tepat di depan mukanya.
Bersambung…