Aroma pekat kopi hitam dan gurihnya kuah soto ayam memenuhi setiap sudut kantin kantor yang mulai ramai pagi itu. Sebagian karyawan tampak bergegas menghabiskan sarapan sebelum fingerprint masuk berbunyi, sementara yang lain masih asyik bertukar gosip hangat bersama rekan satu divisi. Namun, di tengah keriuhan itu, ada satu orang yang sama sekali tidak menyentuh sarapan pesanannya. Tabitha Azzahra, atau yang akrab dipanggil Tita. Ia justru berjongkok tampak sibuk di samping meja sudut. Di dekat kakinya, tergeletak sebuah koper kain berukuran sedang. Begitu ritsletingnya ditarik, isi di dalamnya langsung menyembul. Bukan laptop, berkas laporan, atau dokumen penting kantor, melainkan deretan stoples dan bungkusan camilan yang tersusun sangat rapi bak etalase berjalan."Tit, makaroni yang level tiga satu dong!" seru seorang staf dari divisi pemasaran yang baru datang."Okey, sebentar," sahut Tita cekatan. Tangannya langsung menyelam ke dalam koper, mengambil satu kemasan makaroni merah menyala."Oh iya, Tit. Si Melly Batak titip dua bungkus kacang mede ya. Katanya nanti uangnya di tf barengan kayak biasa," tambah pelanggan satunya lagi sembari menunjuk stoples di pojok koper. "Sama bonusin permen kopinya dong, tit. Buat ngusir ngantuk pas brainstorming nanti."Tita tersenyum lebar, "Boleh, boleh." Jemarinya lalu dengan lincah menghitung total belanjaan sambil mencatatnya di nota kecil. Kantin setiap pagi bukan hanya menjadi tempat mengisi perut bagi karyawan, tetapi juga menjadi ladang bisnis yang menjanjikan baginya.
“Tiiit...! Tiiit...!”
Pekikan nyaring Mela membahana, memantul di antara dinding-dinding kantin kantor yang sedikit ramai pagi itu. Langkah kakinya yang terburu-buru menciptakan irama panik di atas lantai keramik. Seketika, riuh rendah gosip sarapan pagi terhenti. Puluhan kepala menoleh serentak. Reaksi para karyawan pria mendadak kompak dan menggelikan. Ada yang spontan menyilangkan tangan, mendekap bagian tengah tubuh mereka dengan wajah pias. Ada yang buru-buru menunduk, pura-pura batuk sambil diam-diam memeriksa ritsleting celananya. Ada yang refleks merapatkan pahanya takut kalau-kalau adik kecilnya bangun tanpa disadari.
Di sudut lain, seorang staf senior melirik sinis saat Mela melesat melewatinya."Nggak nyangka, si Mela ternyata doyan banget nyebut yang begituan di tempat umum," bisiknya setengah mencibir. Para karyawati pun tidak kalah heboh. Suasana kantin langsung dipenuhi bisik-bisik tetangga."Ih, sejak kapan Mela jadi agresif dan suka ‘barang’ begituan?"
"Ya Allah, berdosa banget. Punya cowok kok malah dijadikan konsumsi publik."
Mela terus melesat, abai dengan tatapan menghakimi dan atmosfer canggung yang baru saja ia ciptakan. Targetnya hanya satu, meja di pojok kanan.
"Tit!"
"Apaan sih lo? Teriak-teriak nggak jelas, bikin malu tahu nggak!" semprot Tita ketus, wajahnya merah menahan malu karena meja mereka mendadak jadi pusat perhatian seisi kantin.Tanpa memedulikan omelan sahabatnya, Mela langsung menghempaskan tubuhnya ke kursi dengan napas terengah-engah. ”Aduh, Tit. Lo harus lihat,” ucapnya masih mengatur napas. "Lo kalo manggil nama gue yang bener dooong..."
Mela cengar cengir.
”Lagian liihat apa sih? Hantu?”
“Hantu ganteng, Tit.”
Tita tersenyum tipis sembari memutar bola matanya jengah. ”Apaan sih lo, nggak jelas banget,” ucapnya sambil menutup rapat kopernya setelah memasukkan camilan dagangannya.“Tadi di lobby, lo ada ketemu cowok nggak?” tanya Mela.
”Ketemu,” jawab Tita singkat.
“Dia duduk di ruang tamu kan? Ganteng kan? Ya Allah, Tit, sumpah ya...”
“Dia nggak duduk kok, berdiri dekat pintu masuk,” potong Tita cepat sembari menarik pegangan koper.
“Ish, itu sih Pak Tobi, security!” sungut Mela jengkel melihat Tita cuma nyengir. ”Tiap pagi juga berdiri di situ…”
“Oh, ya?”
“Sumpah, Tit! Yang satu ini keren, tinggi, putih, muka blasteran… usia diperkirakan 30 tahunan, duda anak satu, mendambakan istri setia, pintar masak, dan...”
“Stooop! Kok jadi kayak biro jodoh sih? Lo mau nyuruh gue blind date?” potong Tita kesal.
”Udah ah, gue mau balik ke meja.”Tita ngeloyor pergi meninggalkan Mela yang masih sibuk membayangkan wajah laki-laki yang dilihatnya tadi. Tita melangkah santai ke ruangannya. Divisi pemasaran terletak di sudut kanan lantai tiga, tepat setelah melewati pintu kaca buram bertuliskan Marketing & Creative Division. Berbeda dengan divisi keuangan yang sunyi dan disekat dinding papan tinggi mirip labirin, area pemasaran terasa jauh lebih hidup dan dinamis. Di tengah ruangan, terdapat sebuah pulau besar (cluster) yang menyatukan enam meja kubikel dalam formasi saling berhadapan. Tiga meja di sisi kiri dan tiga meja di sisi kanan. Meja-meja ini menggunakan material kayu light oak berwarna cerah, ditopang oleh rangka aluminium kokoh yang memberikan kesan modern dan minimalis. Hal yang paling membedakan area ini adalah tinggi sekat partisinya. Panel pembatas antar meja sengaja dipilih yang bermodel rendah, hanya sekitar empat puluh lima sentimeter dari permukaan meja. Sekat ini dilapisi kain flanel abu-abu gelap yang berfungsi ganda sebagai papan pin (pinboard). Alih-alih pembatas yang mengisolasi, sekat rendah ini justru menjadi jembatan interaksi. Para staf hanya perlu sedikit mendongak atau menengok ke samping untuk saling melempar ide kampanye iklan, berdiskusi tentang tren t****k terbaru, atau sekadar meminjam kabel charger.
Meja sudah hampir terisi dengan staf. Tita mendorong kopernya ke bawah meja bersamaan dengan ia menjatuhkan tubuh di kursinya. Mela yang duduk di sebelahnya meletakkan tas dan paper bag dengan terburu-buru.”Pokoknya lo harus lihat, Tiit...!”Seketika suara Mela terhenti. Terdengar tarikan napas yang tertahan di tenggorokan seperti terkejut.“Itu dia…”
Bersambung…