Jeremy berulangkali menggerakkan jari-jari tangannya secara perlahan. mata yang masih tertutup itu, bergerak-gerak ke kanan dan kiri. Beberapa hari terakhir, setelah 2 bulan mengalami koma, hasil pemeriksaan dari dokter menunjukkan bahwa Jeremy semakin menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Hal itu disambut dengan lega oleh Wilda maupun Hasan.
Tak lama kemudian, Jeremy membuka matanya, dan menatap sekeliling ruangan. Langit-langit putih yang pertama kali ia tatap, dan aroma obat-obatan yang menusuk indra penciuman, menyadarkan dirinya tengah berada di rumah sakit. Jeremy merasakan pusing di kepalanya.
Jeremy mencoba mengingat kejadian apa yang membuat dirinya terbaring di rumah sakit seperti sekarang ini. Sontak, Jeremy melebarkan matanya ketika mengingat sesuatu. Raut wajah yang semula lemah, seketika berubah menjadi khawatir.
"Di mana istriku? Apa dia baik-baik saja?" gumamnya.
Tak lama kemudian, terdengar suara daun pintu terbuka. Jeremy menoleh untuk melihat siapa yang datang. Seorang perawat membawa sebuah clip board dan pulpen, masuk untuk memeriksa keadaan Jeremy. Perawat yang baru saja masuk tersebut, langkahnya terhenti sejenak ketika melihat Jeremy membuka mata dan menoleh ke arahnya.
"Pak Jeremy sudah sadar. Kalau begitu, aku harus panggil Dokter dulu."
Perawat itu kemudian melangkah lagi keluar. Dan hampir 5 menit lamanya, perawat itu kembali lagi bersama seorang Dokter. Kali ini dokter yang menangani Jeremy bukan lagi dokter Herman. Melainkan Dokter William, karena dokter Herman dipindah tugaskan ke kota lain.
"Suster! Tolong hubungi keluarganya dan kabarkan bahwa pasien telah sadar," pinta Dokter.
Suster mengangguk. "Baik Dokter."
Perawat tersebut kemudian pergi dari ruangan itu dan menyisakan Jeremy bersama Dokter William. Dokter William mengambil stetoskop, dan mulai melakukan pemeriksaan kepada Jeremy. Dokter William tersenyum ramah dan menyapa Jeremy.
"Apa ada yang sakit?"
Jeremy menggeleng. "Tidak ada selain kepala saya."
Dokter William menganggukkan kepalanya. "itu wajar karena anda telah terlalu lama tertidur."
"Ini berapa?" Dokter mengacungkan ketiga jarinya.
"3."
"Anda ingat nama anda siapa?" tanya Dokter William.
"Nama saya Jeremy," jawabnya.
"Anda mengalami kecelakaan, dan koma selama 2 bulan. Anda baru sadar dan saya ingin melakukan serangkaian yang tes dan GCS untuk mengetahui kesehatan anda lebih lanjut," beritahu dokter.
"Saya ingat bahwa saya kecelakaan. Dan ... ada istri saya yang bersama dengan saya ketika kecelakaan terjadi. Apa istri saya baik-baik saja, Dok?" tanya Jeremy penasaran.
"Mohon maaf. Saya menangani anda baru satu bulan ini. Soal istri anda, saya tidak tahu karena saya tidak menanganinya. Mungkin ditangani oleh dokter lain atau dirawat di rumah sakit lain."
Jeremy diam mendengarkan rentetan penjelasan dari Dokter. selama dokter William melakukan serangkaian tes terhadapnya, pria itu bergelut dengan pikirannya. Jeremy penasaran dengan apa yang terjadi kepada alga setelah kecelakaan. Entah mengapa ada firasat buruk yang seolah akan terjadi.
Setelah dokter William selesai melakukan serangkaian tes kepada Jeremy, kedua orang tua Jeremy dan juga Kelvin datang ke RS. Wilda dan Hasan langsung terbang dari Makassar setelah mendapatkan kabar sang putra tercinta telah bangun. Dan saat ini, Wilda tengah berada di samping Jeremy tersenyum bahagia karena putra tercintanya telah sadar.
Hasan dan Kelvin berada di luar ruangan untuk menunggu giliran bertemu dengan Jeremy. sudah menjadi peraturan rumah sakit, bawa pasien yang sedang koma, atau baru sadar dari koma, hanya boleh ditemui satu orang saja.
"Mama! Istriku di mana? Dia baik-baik saja kan?"
Wilda menunduk mendengar Jeremy menanyakan sang istri. Wanita paruh baya itu memejamkan matanya dan menghalang napas. Ia sudah menduga bahwa Jeremy pasti akan menanyakan tentang Alka.
dengan suara lemah Wilda berkata, "istrimu ... istrimu sudah tidak ada. Dia ... meninggal."
Duaarr ...
Jeremy menggeleng keras. "Tidak mungkin ... tidak mungkin istriku meninggal, Ma."
Jeremy menangis terisak. Dadanya terasa bagai disambar oleh petir belahan jiwanya pergi untuk selamanya. Pria itu merasakan rasa sesak yang mendera.
"Jeremy ..." Wilda menatap dengan wajah sendu.
"Kenapa istriku meninggal? Aku baik-baik saja. Harusnya istriku juga baik-baik saja," protes Jeremy.
"Tidak ada yang tahu umur manusia dan rahasia Tuhan. Kamu harus bisa mengikhlaskan istrimu."
"Aku tidak tahu aku bisa ikhlas atau tidak. Aku merasa bersalah karena tidak bisa melindunginya. Seandainya saja ... aku ... tidak mengajaknya pergi ke sana ..." Jeremy tak sanggup melanjutkan bicaranya.
"Sudah, Nak. Tidak baik berkata seperti itu."
Di luar ruangan, Kelvin dan Hasan menatap Jeremy yang merasa terpukul dan hancur. Siapapun yang mencintai pasangannya dengan tulus, ketika merasakan kehilangan pasti hancur.
"Kasihan Jeremy. Dia pasti terpukul karena kehilangan istrinya," gumam Kelvin.
"Tentu saja. Karena dia sangat mencintai istrinya," jawab Hasan cuek.
Kelvin menoleh menatap Ayah sahabatnya. "Saya ingin tanya sama bapak, dan tolong jawab jujur! Sebenarnya, Alka dirawat di mana? Saya mengecek semua rumah sakit yang ada di kota ini, tidak ada data pasien bernama Alka."
"Alka dirawat di RS milik keluarga Wirawan," jawab Hasan berbohong.
Kelvin mengerutkan kening. "bukannya RS itu khusus untuk tunanetra?"
"Wirawan adalah calon besan saya. Oleh karena itu, saya menitipkan menantu saya di sana. Selain itu juga, saya tidak ingin media menyelidiki dan menyorot siapa istri Jeremy."
"Anda tidak ingin Alka di sorot media. Memangnya kenapa? Faktanya, Jeremy memang sudah menikah bukan?"
"Walaupun berita itu sudah tersebar, kamu tahu kalau saya membantahnya kan?"
Pada saat Jeremy mengalami kecelakaan bersama istrinya, berita tersebar ke seluruh pelosok negeri. Keluarga Arthur adalah keluarga pengusaha dan pejabat yang kerap disorot oleh media. Dan foto-foto kecelakaan Jeremy bersama seorang wanita serta berita yang mengatakan bahwa Jeremy telah menikah, menimbulkan tanya bagi masyarakat.
Apakah benar Jeremy telah menikah? Dan seperti apa sosok wanita yang menjadi istri Jeremy? Seperti itulah pertanyaan masyarakat yang beredar di sosial media.
Hasan yang mendengar putranya mengalami kecelakaan dengan cepat mengambil penerbangan ke Jakarta. Ia juga membayar ketua komisi dewan pers untuk menutup berita tersebut dan juga melakukan klarifikasi bahwa putranya belum menikah. Hasan bahkan meminta istrinya untuk membawa Alka pergi jauh agar tidak bertemu lagi dengan Jeremy.
"Tentu saja anda membantahnya. Karena anda malu memiliki menantu seperti Alka lantaran dia berasal dari keluarga sederhana," sindir Kelvin.
Hasan menatap sinis sahabat putranya tersebut. "Apa saya salah, menginginkan pasangan yang sepadan dengan anak saya?"
"Apakah sepadan harus dilihat dari strata sosial? Sayang sekali Jeremi tidak menuruti sifat orang tuanya," komentar Kelvin berhasil membuat Hasan geram.
"Jika saya boleh tahu, apa yang menyebabkan Alka meninggal?" tanya Kelvin.
"Pembuluh darah di otaknya pecah," jawab Hasan.
Kelvin memicingkan matanya curiga. Entah mengapa, ia merasa bahwa pria paruh baya itu seperti menyembunyikan sesuatu. Kecurigaan Kelvin berawal dari Minggu lalu saat Hasan mengajaknya datang ke makam palsu bertuliskan nama Alka. Seandainya saja Kelvin tahu, bahwa Alka tidak meninggal tetapi dipalsukan kematiannya oleh Hasan.
Hasan dan Wilda telah bersepakat untuk memisahkan Jeremy dari istrinya selagi Jeremy masih belum sadar. Hasan bahkan mengatur kepindahan dokter Herman, dokter yang merawat Jeremy dan juga Alka agar memuluskan aksinya. Wilda yang menyeret Alka keluar dari RS, melakukan ancaman agar Alka mau meninggalkan suaminya.
Wilda keluar ruangan untuk memberitahu sang suami. "Pa ... Jeremy memaksa ingin ke makam Alka."
"Jeremy ingin berziarah ke makam Alka?"