Setelah kondisi Jeremy membaik dan dokter memperbolehkan Jeremy untuk pulang, pria itu memaksa kepada kedua orang tuanya untuk mengajak ia pergi ke makam Alka. Sejak dari beberapa hari lalu, Jeremy memaksa untuk mendatangi makam Alka. Namun Ayah dan ibunya mengatakan Jeremy harus dalam keadaan membaik dulu baru boleh mengunjungi makam istri tercinta.
Di sore hari yang cerah, Jeremy berkunjung ke pusara yang bertuliskan nama sang istri dengan membawa sebuket bunga mawar merah. Bunga mawar berwarna merah, adalah bunga kesukaan Alka. Jeremy membeku ketika menatap gundukan tanah merah yang ia ketahui sebagai tempat istirahat terakhir sang istri.
Tentu saja makam itu adalah makam palsu, karena Hasan telah membayar seseorang untuk membuat makam tersebut, dan diberi nisan bertuliskan nama lengkap Alka. Hasan dan Wilda telah menyiapkan itu jauh sebelum Jeremy sadar, sebagai bukti kepada Jeremy bahwa istrinya telah meninggal.
Pria paruh baya yang masih sehat, dan gagah itu, telah mengatur segala rencana dengan sangat rapi. Dimulai dari bangunnya Alka, lalu kemudian memindahkan dokter Herman ke kota lain. Alasan Hasan untuk memindahkan dokter Herman adalah, supaya Jeremy tidak bertanya mengenai keadaan istrinya lewat dokter Herman. Karena dokter Herman menangani Alka juga.
Tangis Jeremy seketika pecah. Pria berahang tegas itu menjatuhkan lutut dengan lesu di samping pusara. Ia memegangi dadanya yang terasa sakit. Ingin rasanya Jeremy ikut serta pergi bersama Alka. Sebelah tangan Jeremy, mengusap batu nisan bertuliskan nama istrinya.
"Kenapa kamu begitu cepat pergi meninggalkan Mas, Sayang? Kenapa?" Jeremy memeluk erat nisan itu.
Kelvin yang ikut serta berziarah ke makam tersebut, ikut menangis. Ia terbawa suasana hati sahabatnya yang tengah hancur dan porak poranda. Kelvin tidak menyangka bahwa kehidupan Alka berakhir dengan tragis.
"Padahal Mas telah berjanji akan membahagiakan kamu. Tetapi mengapa kamu malah pergi secepat ini? Mungkinkah kamu lelah menghadapi kehidupan yang tidak adil untuk kamu? Maafkan Mas tidak bisa melindungi kamu," isaknya.
Wilda menatap sang putra yang menangisi kepergian sang istri, menghela napas secara kasar. Jujur ia sakit melihat Jeremy yang memeluk erat batu nisan bertuliskan nama lengkap Alka dengan tubuh yang bergetar hebat. Setiap orang yang kehilangan cintanya, pasti akan mengalami hal yang sama seperti Jeremy. Terlebih lagi, Wilda bersama suaminya yang telah membuat Jeremy menjadi hancur seperti sekarang.
Wilda menurunkan tubuhnya merangkul kedua bahu Jeremy. "Sudah, Nak. Sudah."
"Aku menyesal, Ma. Aku menyesal tidak bisa melindungi istriku," tuturnya.
"Kamu tidak bersalah, Nak. Kepergian Alka itu sudah menjadi takdir Tuhan. Bukan karena kesalahanmu." Wilda menenangkan hati putra semata wayangnya.
"Sabar, Jeremy. Bukan hanya kamu yang merasakan kehilangan Alka. Tapi kami juga," ujar Hasan.
Walaupun Wilda dan Hasan mencoba menenangkan hati Jeremy, Jeremy tetap saja menangis. Bagi Jeremy tidak ada yang bisa menenangkan hatinya selain Alka. Terutama di saat Jeremy sedang marah atau sedih. Alka berusaha membujuk dan memeluk suaminya agar tenang.
Hilang sudah penenang hati dan jiwa Jeremy. Tidak ada lagi senyuman manis dan suara lembut yang menyirami hatinya. Jeremy merasakan dunia yang hampa dengan kepergian belahan jiwa untuk selamanya.
Cukup lama Jeremy bersama kedua orang tuanya dan Kelvin berada di areal pemakaman. Hingga waktu hampir gelap, Hasan memutuskan untuk mengajak pulang.
"Sudah cukup. Ayo kita pulang! Jika kamu rindu kepada Alka, kapan waktu datanglah ke sini lagi," kata Hasan.
Jeremy menggeleng keras. "Aku tidak mau pulang. Aku ingin disini saja bersama istriku."
"Kamu tidak boleh seperti ini. Alka di sana akan sedih dan tidak tenang dalam istirahatnya jika melihat suaminya seperti ini," ucap Wilda mengingatkan.
Jeremy tetap dengan pendiriannya untuk tidak mau diajak pulang. Kedua orang tuanya, dan juga Kelvin berusaha keras untuk membujuk pria itu agar mau pulang. Wilda bahkan merasa putus asa melihat sang putra yang sulit untuk dibujuk. Akhirnya, setelah berulangkali di bujuk oleh Kelvin, Jeremy menurut diajak pulang.
"Sikapmu seperti ini tidak bisa menghidupkan istrimu kembali. Yang harus kamu lakukan, adalah pulang dan mendoakan istrimu. Kamu juga baru pulang dari rumah sakit dan harusnya menjaga kesehatan. Bukan malah menyiksa diri seperti ini," ucap Kelvin.
"Ayo, Nak! Pulang, ya," bujuk Wilda dengan lembut.
Jeremy akhirnya menurut dan bangkit melepaskan pelukannya dari batu nisan itu. Dengan tubuh yang lemah, Jeremy menatap nanar gundukan tanah yang akan ia tinggalkan.
"Beristirahatlah dengan tenang di sana. Mas akan selalu mendoakanmu. Mas janji akan ke sini lagi untuk menemui kamu," batin Jeremy.
Dari kejauhan, di balik sebuah pohon, terdapat seorang wanita menangis menitikan air matanya menetap Jeremy dengan sedih. Sungguh ia tak sanggup melihat Jeremy dalam keadaan hancur seperti sekarang. Perpisahan seperti ini, sungguh bukanlah kemauannya. Tetapi ia terpaksa harus melakukan demi kebahagiaan Jeremy.
Wanita itu mengusap perutnya secara perlahan. Dan di dalam sana, ada sebuah nyawa sedang bertumbuh hasil dari buah cintanya bersama Jeremy. Andai Jeremy tahu bahwa dirinya sedang mengandung, Jeremy pasti sangat bahagia karena akan menjadi seorang ayah.
"Maafkan Alka, Mas. Maafkan karena telah meninggalkanmu. Semoga kamu bahagia."
"Maafkan Ibu karena telah memisahkan kamu dari ayah. Kita doakan agar ayahmu bahagia, ya. Mohon kuatlah di dalam sana untuk ibu. Hanya kamu yang Ibu punya saat ini," ucapnya mengajak berbicara perutnya.
Wanita itu adalah Alka, istri yang sangat dicintai oleh Jeremy. Di desa, Alka meminta tolong kepada temannya yang bernama Nur, untuk mencari tahu mengenai keadaan Jeremy karena Alka tidak mungkin harus di Jakarta apalagi berada di dekat Jeremy.
Nur adalah seorang wanita dari desa di Jawa Tengah yang merantau ke Jakarta. Nur adalah tetangga di wilayah perumahan tempat Alka dan Jeremy mengontrak. Nur dan Alka berteman baik. Dari Nur juga lah, Alka mengetahui kapan Jeremy keluar dari rumah sakit.
Alka kemudian datang ke Jakarta secara diam-diam untuk memantau dari kejauhan. Alasan Alka untuk datang ke Jakarta, karena ia sangat merindukan suaminya itu. Namun ia tak berani mendekati Jeremy. Dan hanya dari kejauhan seperti saat ini, Alka bisa mengobati rindunya dengan menatap suami yang ia cintai.
"Alka!" panggil seorang wanita, "Udah. Ayo pulang, yuk!"
Alka mengusap air matanya dan mengangguk. "Iya."
"Kamu nangis?"
Alka diam tanpa ingin menjawab. Tentu saja ia menangis setelah melihat Jeremy. Siapa yang tidak akan menangis melihat Jeremy dalam keadaan menyedihkan seperti tadi.
"Kamu yang sabar ya Alka. Kalau kamu dan Jeremy ditakdirkan berjodoh, selama apapun kalian berpisah pasti akan dipersatukan kembali."
"Terima kasih, Nur. Sudah menguatkan aku," tutur Alka.
"Sama-sama. Mulai sekarang, kita menjadi sahabat, ya. aku janji akan selalu berada di sisi kamu."
Nur ikut sedih dan menangis melihat Alka yang bernasib malang. Jika Nur menjadi Alka, Nur tidak tahu bisa kuat atau tidak. Apalagi harus meninggalkan suami dalam keadaan hamil. Dan lebih parah lagi, keluarga suami Alka, membuat kebohongan kepada Jeremy bahwa Alka telah meninggal.