Hujan deras dan suara petir menggelegar menandai berakhirnya musim kemarau. Di malam pertama turun hujan, aroma petrichor tercium menguap ke udara. Aroma antara tanah kering dan air hujan yang menyatu memang sangat menyenangkan. Sekaligus ucapan rasa syukur atas rahmat Tuhan karena diberikan keberkahan atas turunnya hujan setelah musim kemarau yang panjang.
Di rumah Nena, tepatnya di Yogyakarta, wanita yang merupakan kakak sepupu Alka itu tersenyum bahagia. Bagaimana tidak, tanaman bunga dan sayuran yang mulai akan mati, kini setidaknya ikut tersenyum bahagia karena diguyur hujan.
"Alhamdulillah! Sudah turun hujan. Kamu akan tumbuh subur lagi," ucap Nena dengan penuh rasa syukur sambil melihat tanaman-tanamannya.
Nena mencoba membuka tirai di jendela rumahnya untuk memandang hujan turun. Namun, bukannya melihat aliran air yang turun dari sudut genting, Nena malah terpaku dengan seseorang yang berdiri di depan rumahnya. Nena penasaran dengan sosok itu.
"Siapa itu hujan-hujanan di depan rumah?" gumam Nena.
Nena mengerutkan kening memandang seorang perempuan yang berdiri dekat teras. Perempuan itu seperti memandang sendu rumah Nena. Jika niat untuk bertamu atau berteduh, seharusnya kaki perempuan itu menaiki teras bukan malah membiarkan dirinya hujan-hujanan. Begitu pikir Nena.
Penasaran dengan sosok perempuan itu, Nena memutuskan menaruh cangkir kopinya di atas meja ruang tamu. Ia kemudian membuka pintu rumah untuk melihat keluar. Sontak saja Nena terkejut melihat siapa yang ada.
"Ya Alloh! ... Alka?!" Nena terkejut melihat kedatangan adik sepupunya.
"Mbak Nena! ... Hiks ... Hiks ...," tangis Alka pecah melihat sang kakak menyambut kedatangannya dengan raut wajah terkejut.
"Kamu kenapa?" tanya Nena khawatir.
"Suamiku ... Suamiku ..." Alka tak sanggup untuk melanjutkan ucapannya.
Nena mengerutkan kening. "Kenapa suamimu?"
Alka tak menjawab namun hanya menggelengkan kepala. Dari tatapan mata adik sepupunya, Nena dapat menebak ada sesuatu yang tidak beres. Sorot mata Alka menyimpan kesedihan. Nena memutuskan untuk mengajak Alka masuk ke rumah.
"Ayo masuk dulu ke rumah! Jangan hujan-hujanan begini. Nanti kamu sakit." Nena menarik tangan Alka untuk naik ke teras.
Nena mengajak Alka masuk ke rumah dan meminta gadis itu untuk berganti pakaian. Nena juga membantu mengeringkan rambut panjang Alka dengan handuk. Mengerti Alka yang sedang dilanda kesedihan, Nena memutuskan untuk membuatkan teh hangat guna menenangkan hati Alka. Alka meminum sedikit demi sedikit teh hangat buatan Nena.
"Sudah lebih tenang?"
Alka mengangguk. Nena menghela napas sebelum menanyakan sesuatu yang kemungkinan terjadi kepada Alka.
"Kamu kenapa? Apa yang terjadi sama kamu? Kok bisa kamu kembali ke sini sampai hujan-hujanan seperti itu?"
Sebelum menjawab pertanyaan Nena, Alka menghela napas terlebih dahulu. "Setelah pulang dari sini, aku dan Mas Jeremy mengalami kecelakaan."
Nena sontak menutup mulut dengan kedua tangannya. "Astaghfirullahaladzim."
"Lalu?" Nena tidak sabar mendengar Alka melanjutkan ucapannya.
Terlihat Alka menghela napas berat. Seperti ada beban yang di tanggung sangat berat dan tak mampu ia pikul sendirian. Melihat Alka yang terlalu lama diam, Nena tak sabar dan kembali bertanya ...
"Setelah itu apa yang terjadi? Bagaimana suami kamu?"
"Suamiku koma, Mbak," jawab Alka lesu.
"Allahu Akbar," ujar Nena, "astagfirullah."
Alka kemudian menangis terisak. Gadis itu mengangkat kedua tangan untuk menutupi wajahnya. Nena ikut sedih melihat adik sepupunya yang terlihat hancur.
Nena tidak menyangka bahwa kepulangan Jeremy dan Alka dari Yogyakarta ke Jakarta, mengalami kecelakaan yang sangat mengerikan. Mendengar kondisi Jeremy yang mengalami koma, kemungkinan kecelakaan itu sangat parah dan mengakibatkan sebuah benturan yang membuat Jeremy mengalami koma.
"Lalu kenapa kamu ke sini? Kenapa nggak menunggu suami kamu? Di saat-saat yang sangat mengkhawatirkan seperti sekarang mengenai kondisi dia, dia sangat membutuhkan kekuatan dari kamu. Meskipun Jeremy mengalami koma, Mbak yakin alam bawah sadarnya pasti mendengar suara kamu kalau kamu mengajaknya bicara. Kamu bisa mengajak dia berbicara untuk memberikan semangat agar dia bisa melewati masa seperti sekarang," ucap Nena menasehati.
Alka menggeleng perlahan. "Nggak mungkin aku bisa memberikan kekuatan untuk suamiku, Mbak."
"Kenapa nggak bisa?"
"Kedua orang tua Mas Jeremy datang dari Makassar," beritahu Alka.
"Mertuamu datang?"
Alka mengangguk. "Iya, Mbak. Dan aku tidak diperbolehkan berada di sisi suamiku."
"Kamu dicaci maki dan dihina-hina lagi sama mertuamu?"
"Bukan hanya sebatas caci maki dan hinaan saja, Mbak."
"Terus?"
Alka memejamkan mata dengan erat sebelum lanjut berbicara. Ia mencoba mencari kekuatan dari dalam hatinya. Dan Nena dapat melihat itu dengan jelas.
"Ibu Mas Jeremy, mengusir aku. Dia menyuruh dan memaksa aku untuk meninggalkan suamiku, Mbak," isaknya.
"Apa?!" Nena terkejut.
"Aku sedang berada di samping Mas Jeremy untuk menguatkan suamiku. Tapi mertuaku datang dan menyeretku secara paksa. Aku harus mau meninggalkan suamiku. Jika tidak ..."
"Jika tidak apa?"
Alka menceritakan kepada Nena bagaimana kejamnya Wilda menyeret Alka dengan kasar dan mencaci maki Alka. Alka ditekan dan dipaksa oleh Wilda untuk meninggalkan Jeremy yang saat ini sedang berjuang diantara hidup dan mati. Wilda juga menyampaikan ancaman kepada Alka jika Alka tidak ingin meninggalkan Jeremy dan tetap berada di samping suaminya. Alka yang takut dengan ancaman Wilda, memilih pergi dengan terpaksa dan kembali ke Yogyakarta.
"Ya Alloh ..." Nena kemudian memeluk erat tubuh Alka dan ikut menangis.
Alka menumpahkan semua tangisan dan rasa sakit di dalam pelukan Kakak sepupunya. Saat ini, Alka membutuhkan sandaran untuk menguatkan jiwa dan dirinya. Ia bisa saja langsung pulang ke rumah milik peninggalan orang tua. Namun, ia memilih untuk datang ke rumah Nena untuk mengadu.
Dan saat ini, hanya Nena satu-satunya orang yang berada di sisi Alka. Hanya Nena kerabat yang Alka miliki. Hanya Nena tempat untuk Alka mengadu dan menumpahkan semua kesedihan. Dan hanya Nena, yang akan selalu berada di dekat Alka dalam kesedihan dan kebahagiaan.
***
Kelvin saat ini tengah duduk berdua dengan Hasan di sebuah restoran dekat rumah sakit tempat Jeremy dirawat. Mereka melakukan sarapan bersama. Kelvin tidak pernah bosan untuk bolak-balik antara rumah sakit dan kantor untuk melihat keadaan sahabatnya.
"Pak Hasan!" panggil Kelvin di sela-sela sarapan mereka berdua.
"Hmm."
"Alka istri Jeremy dirawat di RS mana? Kemarin saya tanya pihak rumah sakit, tidak ditemukan Alka dirawat di rumah sakit ini."
"Dia ada di rumah sakit lain," jawab Hasan.
"Ini aneh. Kecelakaan itu hanya menyebabkan tiga korban luka. Korban yang menyebabkan kecelakaan itu adalah sopir mobil box yang menabrak mobil Jeremy, dan dia dirawat di RS yang sama dengan Jeremy. Masa Alka tidak satu RS dengan suaminya?"
Hasan menaruh sendok di piring, diam sejenak, dan menatap Kelvin. "Memangnya kenapa?"
"Kenapa tidak dijadikan satu RS dengan suaminya? Jadi kalau misalkan kalian ingin melihat sebentar, tidak perlu bolak-balik."
"Kami tahu di mana Alka dirawat. Tapi kami tidak peduli terhadap istri Jeremy," ketus Hasan.
"Ya tidak bisa begitu, Pak," protes Kelvin, "bagaimanapun dia istri Jeremy dan juga keluarga Bapak."
"Kalau kamu mau menjenguk Alka di rumah sakit lain, silahkan. Jangan meminta kami peduli terhadapnya."
"Kalau begitu di mana Alka dirawat? Saya ingin melihat keadaannya?"
"Kamu cari saja sendiri di rumah sakit mana Alka dirawat. Bukankah hobi kamu mencari orang tanpa harus bertanya?"
"Kondisi Alka tidak beda jauh dengan suaminya. Bedanya Jeremy masih ada harapan. Sedangkan Alka tidak. Silakan kalau kamu mau mencari Alka!"
Hasan kembali melanjutkan sarapannya yang terhenti karena berbicara kepada Kelvin. Kelvin menatap lekat pria paruh baya yang duduk di depannya.
"Aku harus mencari tahu di mana Alka," batin Kelvin.