"Tuan Hasan! Nyonya Wilda!" panggil Mirna, ART keluarga Arthur dengan panik.
"Apa, Bi?" sahut Hasan.
pria paruh baya itu menatap heran pembantunya yang berlari tergesa-gesa menuruni tangga. Hasan dan Wilda baru saja duduk di ruang makan, untuk memulai sesi sarapan pagi. Sebelum mereka melakukan sarapan, Wilda meminta Mirna untuk memanggil Jeremy yang masih belum keluar dari kamarnya.
"Ada apa, Bi? Kok mukanya panik begitu?" tanya Wilda heran.
"Itu, Tuan, nyonya, Tuan Jeremy ..." Mirna menunjuk ke arah lantai atas.
"Jeremy kenapa?" desak Hasan.
"Tuan Jeremy bersimbah darah di kamar mandi," jawab Art dengan gugup.
Wilda terperangah dan menjatuhkan rahangnya. "Apa?!"
Hasan dan Wilda segera berlari ke kamar mandi untuk melihat keadaan putra mereka. Keduanya menaiki tangga menuju lantai dua, dengan perasaan yang sangat cemas. Wilda, sang ibu, sampai terlebih dahulu dikamar Jeremy. Ia dengan cepat menuju kamar mandi dan berteriak ...
"Ya Tuhan! Jeremy!" pekik Wilda histeris.
Hasan yang ikut menyusul ke kamar mandi, tercengang melihat sang putra tergeletak di lantai kamar mandi dengan pergelangan tangan terdapat luka sayatan. Wajah Jeremy pun sudah terlihat pucat pasi. Mereka tidak menyangka bahwa Jeremy mencoba untuk mengakhiri hidupnya.
Wilda memeluk Jeremy dengan erat, mencoba membangunkan putranya. Wanita paruh baya yang masih cantik itu, mengguncang tubuh lemah putra semata wayangnya sembari menangis terisak.
"Jeremy! kamu kenapa begini, Nak?"
"Ayo cepat bawa ke rumah sakit!" kata Hasan
Hasan, sang ayah, dengan sigap mengangkat tubuh lemah Jeremy untuk ia bawa ke rumah sakit. Ia mengalungkan kedua tangan Jeremy ke lehernya dan ia gendong di belakang punggungnya. karena bobot tubuh Jeremy yang cukup berat Hasan meminta sang istri untuk membantu.
"Tolong bantu, Ma!"
Wilda membantu mengangkat tubuh lemah putranya ke atas punggung sang suami. Tangan Wilda terlihat gemetar mengangkat tubuh Jeremy karena merasa sangat syok.
Dengan tergopoh-gopoh, Hasan berlari keluar rumah dan berteriak memanggil sopir untuk membantu membukakan pintu mobil. Hasan berpikir tak ingin lagi merasakan kehilangan orang yang ia cintai seperti dulu. Hasan tak ingin merasakan kehilangan yang kedua kali, apalagi sampai kehilangan Jeremy.
Hasan memilih untuk mengendarai mobil sendiri. dia berpikir harus cepat sampai di rumah sakit karena nyawa Jeremy harus segera diselamatkan. Ramli, sama sopir turut ikut mengantar Jeremy.
Wilda yang duduk di bagian belakang memangku tubuh Jeremy dengan air mata yang tak berhenti mengucur. Hatinya sakit melihat keadaan sang putra semata wayangnya yang menyedihkan.
"Mohon tetaplah bertahan, Nak. Jangan tinggalkan Mama," isaknya.
Demi apapun, walau harus menggantikan dengan nyawanya, Wilda tak ingin kehilangan Jeremy. Jeremy adalah satu-satunya harapan hidup, dan penguat Wilda di masa-masa sulit dahulu. Tak dapat Wilda bayangkan hidup seperti apa yang akan ia jalani jika seandainya harus kehilangan Jeremy.
Hasan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. berulang kali Ramli yang duduk di samping Hasan mengingatkan untuk berhati-hati. Namun Hasan sedikit pun tidak menggubris ucapan sopirnya. Karena yang ia pikirkan, Jeremy harus cepat sampai di rumah sakit dan ditangani.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit, mobil akhirnya tiba di depan rumah sakit. Ramli dengan cepat membuka pintu mobil dan berlari menghubungi suster.
Hasan dengan hati-hati menggendong tubuh Jeremy untuk dipindahkan di atas brangkar. Dokter wanita yang kebetulan melintas, segera sigap menangani Jeremy.
Hasan bersama dengan Wilda, ikut mendorong brangkar dan mengantarkan putranya ke ruangan UGD. Wilda berulang kali memanggil putranya ...
"Nak! Tolong jangan pergi tinggalkan Mama, Nak! Mama tidak sanggup harus kehilangan kamu," mohon Wilda berbicara kepada Jeremy.
"Maaf, Pak, Bu! anda hanya boleh mengantar sampai di sini saja," titah Dokter ketika keduanya akan ikut masuk ke ruang UGD.
Setelah pintu ruangan UGD tertutup, Wilda menjatuhkan tubuhnya yang terasa lemas. Hasan segera membantu sang istri untuk bangun dan mengajaknya duduk di kursi ruang tunggu.
"Tenanglah! Tidak akan terjadi apapun terhadap Jeremy," ucap Hasan menenangkan.
Wilda menangis terisak memeluk suaminya. Hasan mengusap punggung sang istri untuk memberi ketenangan. Selama lebih 1 jam Jeremy di tangani, dokter belum juga keluar memberikan kabar. Kegelisahan mereka berdua, teralihkan sebentar dengan suara seorang wanita yang berlari mendekati keduanya.
"Pak Hasan! Ibu Wilda! apa yang terjadi dengan Jeremy?" tanya wanita itu.
"Jeremy melakukan bunuh diri, Diana. Bagaimana keadaannya, kami belum tahu karena dokter sedang menanganinya," jawab Hasan.
"Beruntung sekali menjadi Alka. Sudah mati saja masih dicintai dan begitu besar," batin Diana mendengus kesal.
Setelah lebih dari 1 jam menunggu, Dokter wanita yang menangani Jeremy keluar dari ruangan. Hasan dan Wilda bangkit dari duduknya dan mendekati dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan putra kami, Dokter?"
"pasien sudah berhasil melewati masa kritisnya. Sekarang tinggal menunggu sadar. beruntung segera dibawa ke sini. karena jika telat sebentar saja, nyawanya sudah tidak ada," jelas dokter.
"Ya Tuhanku!" Wilda mengusap dadanya.
"Kalau begitu saya permisi, Pak, Bu!" pamit dokter.
"Terima kasih Dokter," ucap Wilda dan Hasan secara bersamaan.
dokter tersenyum mengangguk. "Sama-sama. Mari!"
Hasan dan Wilda akhirnya bisa bernapas lega Jeremy bisa diselamatkan. sebelumnya mereka berdua berharap-harap cemas saat Jeremy mengalami koma setelah kecelakaan. dan kini mereka mengalami kecemasan juga setelah Jeremy melakukan bunuh diri. Beruntung nyawa Jeremy berhasil diselamatkan.
"Diana! Persiapkan dirimu untuk menikah dengan Jeremy minggu depan," ucap Hasan dengan tiba-tiba.
Diana dan Wilda terkejut dengan ucapan Hasan barusan.
"Apakah harus cepat itu?" tanya Diana.
"Papa jangan buru-buru begitu, Pa," usul Wilda. "dipikirkan baik-baik dulu. Jeremy masih dalam keadaan depresi. Kenapa kamu mau menikahkan anakmu segera?"
Hasan menghela napas. "Justru karena dia sedang depresi, dia tidak akan bisa memberontak. Ini adalah waktu yang tepat. Sebelum dia kembali bangkit dari keterpurukannya saat ini."
Sebagai seorang ayah yang mengawasi tumbuh kembang putranya, Hasan cukup tahu seperti apa Jeremy. Jika Jeremy sudah kekeh dengan pilihannya meskipun orang tua menentang dan mengancamnya, Jeremy tidak mempedulikan apapun. Sama seperti Jeremy ketika mengambil keputusan untuk menikahi Alka.
Kedua orang tua Jeremy menentang keinginan Jeremy untuk menikahi Alka. Dan Hasan mengancamnya dengan tidak akan memberikan warisan kepada pria itu. Tetapi Jeremy tetap bertekad dengan pilihan hatinya. Maka dari itu, sebelum Jeremy kembali move on, Hasan menggunakan kesempatan tersebut untuk menikahkan putranya dengan Diana.
"Tapi apa kata orang nanti? Masa istrinya baru meninggal dia langsung menikah lagi?" protes Wilda.
"Mengapa kamu pedulikan apa kata orang? lagipula pernikahan Jeremy dan Alka tidak disorot oleh media," ketus Hasan.
"Iya sih. Tapi ..."
"Lebih cepat lebih baik. Sebelum dia melakukan bunuh diri lagi. Kamu juga tidak ingin kehilangan anakmu kan?"
"Ya sudahlah, Pa. Terserah kamu."
"Persiapkan diri kamu mulai dari sekarang Diana! Saya akan menghubungi orang tua kamu lewat telepon nanti," kata Hasan.
Diana mengangguk. "Baik, Pak. Saya akan segera pulang ke Surabaya untuk mempersiapkan diri. Semuanya saya serahkan kepada Pak Hasan dan Papa saya."
"Terima kasih karena sudah mau menerima Jeremy."
Diana tersenyum penuh kemenangan. "Bapak tidak perlu berterima kasih. Memang dari awal, yang ditunjuk dan dipilih sebagai istri Jeremy adalah saya kan?"
Hasan tersenyum lega karena sebentar lagi keinginannya untuk menyatukan Jeremy dengan Diana akan terwujud. Diana menampilkan sebuah senyuman misterius. Hasan tidak sadar, bahwa keputusannya menikahkan Jeremy dengan Diana dapat membawanya ke sebuah jurang yang terjal.