Salah satu pria tersebut menarik tangan Mentari, ketika Mentari terus memundurkan langkahnya, saat perasaannya merasa tidak beres, karena dirinya masih mengingat paman dan bibi Celin yang selalu Celin bicarakan sudah tua.
“Lepaskan aku!” teriak Mentari dan mencoba melepas tangannya, tapi apalah daya, Mentari tidak bisa melawan ke dua pria kekar tersebut, meskipun dirinya terus melawan.
“Tari!!!!”
Mentari yang hafal dengan suara seseorang yang memanggilnya, menghentikan aksinya saat terus melawan kedua pria tersebut yang memegangi tangan kanan dan kirinya.
“Celin!” ucap Mentari dan tatapan matanya langsung tertuju ke arah Celin yang berada di lantai ruang tamu dengan tangan di ikat ke belakang dan tanpa menggunakan sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya. “Aku mohon lepaskan tanganku,” pinta Mentari pada ke dua pria di samping kanan dan kirinya.
Dan kedua pria tersebut langsung melepaskan Mentari, atas perintah seorang pria yang sedang duduk dengan kaki kirinya bertumpu pada paha kanannya, dan tak lupa di tangan kanannya memegang botol minuman keras, yang duduk di sebuah kursi tidak tidak jauh dimana Celin berada.
Lalu Mentari berlari menuju ke arah Celin, kemudian melepas sweater yang dirinya kenakan untuk menutupi tubuh Celin, tak lupa Mentari juga melepas ikatan di tangan Celin dan membawanya ke dalam pelukannya.
“Kamu tidak apa-apa? Kenapa ini bisa terjadi?” tanya Mentari dan Celin langsung balas memeluknya.
“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Celin balik tanpa menjawab pertanyaan Mentari.
Mendengar pertanyaan Celin, Mentari mengerutkan keningnya, pasalnya tadi dirinya menerima telepon dari Celin, untuk datang ke rumah di mana dirinya berada.
“Kamu yang menyuruhku,”
“Aku tidak pernah menghubungimu, ponselku saja tidak tahu ke mana,”
Dan dari pernyataan Celin, Mentari baru Menyadari, jika yang menghubunginya bukanlah Celin, karena memang tadi yang menghubunginya suaranya berbeda, dan mengaku kalau Celin sedang flu.
Mentari menatap seorang pria yang sedang duduk di sofa, yang sekarang beranjak dari tempatnya.
“Siapa kamu? Dan lepaskan temanku!”
Pria yang sedang duduk di atas sofa hanya mengukir senyum, tanpa menanggapi ucapan Mentari lalu beranjak dari duduknya, dan meletakkan botol yang ada di tangannya ke atas meja, sebelum melangkahkan kakinya mendekat ke arah Mentari.
“Mentari, nama yang cantik, secantik orangnya dan juga tubuhnya begitu menggoda, benar-benar makhluk Tuhan yang sangat sempurna,” ucap pria tersebut sambil berjalan mengelilingi Mentari.
Mentari benar-benar terkejut, saat pria yang mengelilinginya tahu namanya.
“Siapa kamu, kenapa kamu tahu namaku?”
“Oh iya, aku belum memperkenalkan diriku, perkenalkan aku Berto,” ujar Berto sambil mengulurkan tangannya kehadapan Mentari. Tapi Mentari langsung menampik tangannya.
“Lepaskan temanku!”
“Kamu sudah melepaskannya bukan, lagian aku tidak membutuhkan dia lagi, karena kamu sudah berada di sini. Kamu tahu, temanmu ini sangat payah, miliknya sudah sangat longgar tentu saja tidak dapat memuaskan ku di atas ranjang. Dan aku hanya menginginkan kamu,”
Pria tersebut memegang dagu Mentari, tapi dengan segera Mentari menampik tangannya dengan kasar.
“Wow, aku suka wanita sepertimu,”
“Jangan sentuh dia!”
Celin beranjak dari tempatnya, lalu Menarik tangan Mentari ke belakang tubuhnya.
“Kamu yang sudah membayar ku, habiskan malam mu denganku, jangan pernah sentuh temanku!” tegas Celin dan hanya di balas senyum oleh Berto.
“Denganmu, tentu saja tidak, yang aku inginkan hanya Mentari,”
“Jadi kamu membayar ku untuk menjebak temanku?”
“Bisa di sebut begitu, untuk apa mengeluarkan uang hanya untuk wanita sepertimu, menyingkir dari hadapanku, dan jangan menghalangiku untuk menatap makhluk Tuhan yang begitu sempurna,”
Berto menyingkirkan tubuh Celin dengan kasar hingga jatuh tersungkur.
“Celin!” teriak Mentari dan ingin menghampirinya tapi tangannya langsung di cekal oleh Berto yang langsung memeluk tubuh Mentari dari belakang.
Mentari terus memberontak, tapi semakin dirinya memberontak, semakin erat Berto memeluknya.
“Tom,” panggil Berto pada salah satu anak buahnya yang tadi menarik tangan Mentari.
“Iya bos,”
“Singkirkan wanita itu, dan jangan ganggu kesenanganku untuk malam ini,”
“Siap Bos,”
Dan kedua anak buah Berto membawa Celin dengan paksa keluar dari rumah tersebut, meskipun Celin memberontak untuk menolong Mentari, apalah daya dirinya sudah tidak memiliki tenaga untuk melawan, dan tangannya terus menutupi k*********a menggunakan sweater.
Setelah kepergian Celin dan kedua anak buahnya, Berto yang masih memeluk Mentari menciumi rambutnya yang begitu wangi, lalu menarik ikat rambut dan membiarkan rambutnya tergerai.
“Aku suka wangi rambutmu,” Berto melepas pelukannya beralih memainkan rambut panjang hitam berkilau milik Mentari. Dan Mentari yang memiliki kesempatan untuk melarikan diri, langsung berlari, tapi Berto dengan segera menarik tangannya dan membawanya ke dalam pelukannya kembali.
“Sayang, mau lari ke mana? Apa kamu tidak ingin menghabiskan malam bersama, aku akan membawamu terbang menikmatinya surga dunia yang tidak pernah kamu rasakan,”
“Lepaskan aku, dan singkirkan tanganmu!”
Mentari menampik kasar tangan Berto yang sedang menyusuri wajahnya menggunakan jari jarinya, lalu Mentari coba untuk melepaskan pelukannya, tapi apalah daya, tubuhnya sangat kecil, dan tidak bisa menandingi tubuh Berto yang besar dan kekar.
“Aku suka caramu yang jual mahal baby, dan sekarang saatnya kita bersenang senang.
Berto langsung mengangkat tubuh Mentari dan menggendong di pundaknya menuju salah satu kamar. Dan percuma Mentari memberontak dan menghabiskan tenaganya, saat dirinya benar-benar tidak bisa melawan Berto.
“Tari tenangkan dirimu, gunakan otak mu untuk melawan pria ini, karena tenagamu tidak sebanding dengannya, berpikirlah Tari,” gumam Mentari
pada dirinya sendiri.
Lalu Mentari yang masih berada di pundak Berto memejamkan matanya, dan mengingat kembali kejadian beberapa bulan lalu, dirinya juga pernah mengalami hal sama seperti sekarang, saat melayani pengunjung VVIP di klub malam tempatnya bekerja yang memaksanya untuk melayaninya bukan sekedar hanya menuang minuman ke dalam gelasnya tapi juga memaksanya untuk melayaninya di atas ranjang, tapi dirinya bisa melepaskan diri.
Berto melempar tubuh Mentari di atas ranjang, saat sudah masuk ke dalam salah satu kamar, dan tak lupa Berto mengunci pintu kamar tersebut, lalu menaruh kunci tersebut di laci meja yang ada di samping pintu.
“Baiklah Baby kita mulai permainannya sekarang, aku yakin kamu akan menikmatinya,”
Berto melangkahkan kakinya mendekat ke arah Mentari dan tak lupa tangannya melepas kemeja yang dikenakannya dan melemparnya kesembarang arah.
“Kamu tidak suka jalang bukan? Apa kamu lupa aku juga sama seperti temanku, yang menghabiskan malam ku dengan pria yang berbeda setiap malam,”
Mendengar perkataan Mentari, Berto hanya tersenyum dan beralih membuka celana yang di gunakan, karena dirinya sudah tahu siapa Mentari, dirinya cassanova kelas kakap, tentu saja bisa membedakan mana wanita murah dan wanita baik-baik seperti Mentari hanya dengan mengamati bentuk tubuhnya, apa lagi di klub malam tempat Mentari bekerja dirinya sudah menghabiskan malam dengan semua wanita penghibur yang bekerja di sana kecuali Mentari.
“Oh iya aku tidak percaya, dan buktikan padaku,”
“Baiklah, tapi berikan uang sepadan dengan permainanku,” Mentari langsung melingkarkan kedua tangannya di belakang leher Berto yang sudah berdiri di hadapannya, lalu membelai wajah Berto dengan jari-jari lentiknya dan berakhir di perut bidang Berto.
Berto yang mendapati perlakuan Mentari tersenyum senang.
“Berapa uang yang harus aku bayar?”
“Tidak banyak, aku tahu aku sama seperti wanita murah lainnya, jadi dua atau tiga kali lipat dari bayaran yang sering kamu berikan pada wanita yang sering menemani tidurmu, sudah cukup,”
“Baiklah,” ujar Berto dan mulai mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir Mentari, tapi dengan segera Mentari menahan wajahnya.
“Aku yang akan memulai bukan kamu,” ujar Mentari dengan tenang, lalu meraup wajah Berto dan mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir Berto.
Tinggal beberapa inci bibir keduanya bertemu, Mentari dengan segera membenturkan kepalanya dengan keras di pelipis kanan Berto, dilanjut menendang junior Berto dengan kencang menggunakan lututnya, dan Berto pun langsung mengerang kesakitan memegangi juniornya.
Di saat itu juga Mentari segera berlari menyambar kunci kamar di laci meja lalu membuka pintu dan keluar dari kamar dengan terburu-buru.
“Tidak semudah itu Baby,” ujar Berto yang langsung mengejar Mentari sambil memegangi juniornya.