Vier mengacak acak rambutnya, lalu menghembuskan nafasnya kasar saat dirinya sudah duduk di dalam mobil selepas kepulangannya dari rumah ke dua orang tuanya.
Entah ini keputusan yang benar atau tidak, yang harus diambilnya untuk menyelamatkan nama baik keluarganya.
Terlepas dari itu semua, hatinya masih sangat hancur lebur mendapati pengkhianatan dari sang kekasih yang sangat dicintainya, dan wanita satu-satunya yang bisa membuat dirinya luluh.
“Jeni!”
Vier memukul bangku mobil yang di duduki nya, coba untuk menghilangkan rasa sakit di hatinya, yang entah kapan akan hilang.
“Vier, percuma kamu melakukan itu, aku sudah memberi tahu kamu jauh-jauh hari siapa Jeni, tapi–
“Diam dan fokuslah menyetir!” perintah Vier memotong perkataan Mana yang duduk di samping kanannya yang sedang fokus mengendarai mobil.
Dan Mana tidak lagi mengatakan apa pun, tahu jika atasan dan juga sahabatnya tersebut sedang tidak baik-baik saja. Tentu saja, karena Jeni wanita yang sudah menjadi kekasihnya selama bertahun tahun telah mengkhianatinya satu minggu sebelum acara pernikahan keduanya.
“Mana,” panggil Vier setelah beberapa saat tidak mengatakan apa pun. “Aku ingin pergi ke klub malam,”
“Tapi–
“Mana ini perintah!”
“Vier kamu ingat, esok hari kamu akan melaksanakan pernikahan, jadi aku tidak ingin mengikuti perintah mu!”
“Mana, aku tidak bisa berpikir untuk saat ini, dan aku butuh minum, aku mohon jangan menolak perintah ku, hanya dengan minum aku bisa tenang,”
Hembusan nafas kasar keluar dari bibir Mana, lalu memutar balik mobil yang di kendarai, ke arah klub malam.
“Mana hentikan mobilnya!” perintah Vier lalu menatap jam tangan di pergelangan tangan kirinya, kemudian dirinya menautkan kedua alisnya saat melihat seseorang yang dirinya kenal.
“Ada apa lagi?”
Vier pun tidak menjawab pertanyaan Mana, karena jari telunjuknya langsung menunjuk seseorang yang berada di atas ojek online tidak jauh di depan mobilnya, yang sedang berhenti menunggu lampu lalu lintas berwarna hijau.
“Apa wanita menjijikkan itu ingin mencoba melarikan diri?” tanya Vier dan tatapan matanya terus tertuju ke arah Mentari yang terlihat panik di ojek online.
“Tidak mungkin dia akan melakukan itu Vier, mungkin dia akan ke rumah sakit, biarkan aku turun dan bertanya padanya,”
Tapi baru saja Mana ingin membuka pintu mobil, rambu lalu lintas sudah berwarna hijau, dan ojek online yang di tumpangi Mentari sudah melaju, kemudian Mana pun segera menginjak pedal gas untuk membuntuti Mentari.
“Untuk apa kamu membuntuti nya, jika kamu sudah yakin dia tidak akan kabur?”
“Ini sudah sangat larut Vier, dan dia–
“Sudah terbiasa melakukan itu, paling dia ingin menjual tubuhnya, aku sudah tidak heran dengan wanita seperti dia,” sambung Vier memotong perkataan Mana, tapi tidak di hiraukan oleh Mana yang terus membuntuti Mentari.
“Mana kamu sebenarnya kenapa? Untuk apa mengikutinya, biarkan saja dia dengan pekerjaannya, sekarang putar balik mobil ini!” Perintah Vier saat klub malam yang ingin di kunjungi nya sudah terlewat.
“Vier bagaimana pun dia adalah calon pengantinmu, kalau terjadi sesuatu pada dia tentu saja kamu sendiri yang akan rugi, dan kamu lihat sendiri dia melewati klub malam tempatnya bekerja, aku takut terjadi sesuatu pada ibunya, dan kalau itu sampai terjadi, berakibat fatal untuk acara pernikahan kalian besok,”
“Terserah padamu!”
“Ya ampun aku kehilangan jejaknya,” keluh Mana saat ojek online yang membawa Mentari, hilang dari pandangannya. “Vier kamu lihat tadi ojek online itu ke arah mana?”
“Mana ku tahu,”
“Ya ampun Vier,”
Mana hanya bisa menggelengkan kepalanya lalu melajukan mobilnya menuju rumah sakit di mana ibu Mentari berada dan masih mendapat perawatan intensif pasca operasi.
***
Mana yang sudah sampai di rumah sakit di mana ibu kandung Mentari di rawat, memarkirkan mobilnya tidak jauh dari lobi rumah sakit tersebut.
“Apa kamu tidak ingin turun?” tanya Mana, saat Vier masih diam di tempatnya sambil bermain ponsel.
“Tidak,” jawab singkat Vier tanpa menatap Mana, yang langsung menutup pintu mobilnya dengan kencang.
“Dasar batu!” gerutu Mana, lalu berjalan dengan terburu-buru masuk ke dalam rumah sakit, menuju di mana ibu Mentari berada.
Mana yang sudah sampai di depan ruang perawatan ibu Mentari, membuka pelan pintu ruangan tersebut dan pandangan matanya langsung tertuju ke arah sofa ruangan tersebut, yang terdapat seorang gadis sedang sibuk dengan beberapa buku di hadapannya. Kemudian Mana berjalan mendekati gadis tersebut yang tidak menyadari kehadirannya, lalu duduk di sampingnya.
“Ini sudah larut kenapa kamu belum tidur?” tanya Mana dan mengagetkan Cahaya adik Mentari.
“Tuan, kenapa–
“Ssttt jangan berisik,” ucap Mana pelan memotong perkataan Cahaya, agar tidak membangunkan ibu Irma yang sedang tertidur lelap di ranjang perawatannya, lalu Mana mengedarkan pandangannya menyusuri setiap sudut ruangan tersebut. “Di mana kakak kamu?”
“Kakak? Bukannya tadi Tuan yang membawa kakak pergi?”
Mana menautkan ke dua alisnya mendengar pertanyaan Cahaya.
“Apa terjadi sesuatu pada kakak?” tanya Cahaya lagi penasaran.
“Tidak,”
Mana beranjak dari duduknya lalu mengambil dompet dari belakang saku celananya dan mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu, kemudian meletakkannya tepat di hadapan Cahaya.
“Tuan kenapa–
“Ambillah untuk uang jajanmu, sekarang sudah larut kamu tidurlah, jangan lupa besok datang ke acara pernikahan kakakmu,” ucap Mana memotong perkataan Cahaya lalu mengacak acak rambut cahaya sebelum pergi meninggalkannya.
Vier menyunggingkan senyum sinis dari sebelah sudut bibirnya, saat melihat Mana datang hanya seorang diri.
“Membuang waktuku saja, aku sudah yakin dari awal kalau dia tidak ada di rumah sakit, melainkan sedang menjual tubuhnya,”
Mana menoleh ke arah Vier setelah mendengar ucapannya, yang lagi dan lagi menghina Mentari.
“Jagalah ucapanmu Vier, kita belum mengenal jauh siapa dia,”
“Ya ampun, ada apa denganmu Mana, apa kamu lupa, kita menemukan dia di mana?”
“Tapi tidak semua yang bekerja di klub malam, murahan seperti yang kamu katakan Vier,”
“Aduh Mana sudahlah, kalau kamu menyukai wanita menjijikan itu, ambil saja,”
Tanpa menanggapi perkataan Vier, Mana segera menginjak pedal gas dan fokus melajukan mobilnya.
***
Mentari yang sudah sampai tujuan, turun dari ojek online yang dinaikinya, lalu memberikan uang pada pengemudi ojek online tersebut.
“Mbak, apa mbak tidak salah turun di sini? Ini sepertinya rumah kosong Mbak,” tanya pengemudi ojek online tersebut merasa aneh dengan tempat tujuan Mentari.
“Tidak Pak, ini tempat yang teman saya tunjukkan, dan lihatlah ada mobil yang terparkir di halaman rumah tersebut, dan terima kasih sebelumnya ya pak,” ujar Mentari dan langsung berlari menuju rumah tersebut yang terlihat seperti rumah kosong, dengan pencahayaan redup, saat Celin sahabat dari Mentari menyuruhnya segera datang ke rumah tersebut, untuk meminta bantuannya.
“Ya ampun, apa yang terjadi padamu, apa ini rumah paman dan juga bibimu,” ucap Mentari sambil menekan bel rumah yang terletak di samping kanan pintu.
Setelah hampir lima kali Mentari menekan bel, akhirnya pintu di buka seseorang dari dalam, lalu Mentari menautkan ke dua alisnya menatap dua orang yang berbadan kekar berdiri di depan pintu.
“Siapa kalian?” tanya Mentari sambil memundurkan langkahnya.
“Apa kamu sahabat Celin?” tanya balik salah satu orang yang ada di hadapan Mentari, tanpa menjawab pertanyaannya. “Sekarang ikut kami!”