Vier yang duduk di samping Mana terus menggerutu saat Mana memutuskan untuk mencari Mentari, ketika di rumah sakit dirinya tidak menemukannya. Mana melajukan mobil yang di kendarainya tidak lebih melewati sepuluh kilometer per jam, karena tatapan matanya sambil menyusuri jalan yang dilaluinya untuk mencari keberadaan Mentari.
“Mana, Mana, untuk apa kamu mencarinya, dia sedang menghabiskan malam bersama pria yang ingin mencicipi tubuh kotornya. Lebih baik sekarang kita kembali ke hotel,”
Tanpa menghiraukan perintah Vier, Mana menghentikan laju mobilnya dan sekilas menoleh ke arah Vier.
“Kamu pulang saja sendiri,” ujar Mana lalu keluar dari mobil, dan melangkahkan kakinya menuju salah satu penjual kopi keliling yang sedang dikerumuni ojek online tidak jauh dari mobilnya.
Mana menghampiri motor yang sedang terparkir di pinggir jalan, saat dirinya yakin motor inilah yang tadi membawa Mentari, karena dirinya hafal betul dengan nomor platnya.
“Mas mau tanya, pemilik motor ini siapa?” tanya Mana pada penjual kopi keliling.
“Oh itu Mas,” tunjuk penjual kopi keliling pada seorang pria yang sedang duduk di trotoar sambil menyeruput kopi.
“Baik, terima kasih,” Dan Mana langsung menghampiri pria yang di tunjuk pedagang kopi keliling. “Maaf Mas, apa Mas pemilik motor itu?” tanya Mana sambil menunjuk motor yang menjadi obyeknya.
“Betul, itu motor saya, ada apa Mas? Apa Mas ini orang leasing? Kalau iya, maaf Mas bulan ini saya belum bisa bayar lagi, orderan sedang sepi, sesepi hatiku ini,”
“Bukan Mas, aku bukan orang leasing,”
“Alhamdulillah, malam ini bisa tidur tenang,” ujar pengemudi ojek online tersebut sambil mengelus dadanya. “Terus kenapa Mas nanyain motor saya?”
“Tadi Mas, membawa penumpang perempuan dengan rambut panjang yang di ikat, dan menggunakan sweater warna navy?”
“Iya,”
“Perempuan itu turun di mana?” tanya Mana dengan antusias.
“Dia turun tepat di depan rumah yang terlihat kosong, kurang lebih lima belas menit dari sini, tepatnya di jalan x nomor dua puluh,”
Tanpa bertanya lagi, Mana mengambil dompet dari saku belakang celananya, dan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan, dan memberikannya pada pengemudi ojek online tersebut.
“Mas ini apa?”
“Uang buat bayar cicilan motor, terima kasih sebelumnya,” Mana lalu berlari menuju mobilnya kembali tanpa menghiraukan pengemudi ojek online yang ingin mengatakan sesuatu padanya. “Apa penampilanku seperti orang leasing, tidak dapat di percaya,” ujar Mana sambil menatap tubuhnya sebelum masuk ke dalam mobil, dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju alamat yang tadi di beri tahu pengemudi ojek online, tanpa menghiraukan Vier yang sedang menatapnya.
“Mana,”
“Vier diamlah, aku melakukan ini karena aku yang memberi usul padamu untuk menikah kontrak dengan Tari, aku tidak ingin kesehatan paman dan bibi menurun, dan perusahaan keluargamu tercoreng jika kalian batal menikah besok, kalau Tari benar-benar melarikan diri seperti apa yang kamu katakan tadi, meskipun kalian hanya menikah kontrak!” ujar Mana penuh penekanan, dan Vier pun tidak mengatakan sepatah kata pun lagi, karena memang benar apa yang dikatakan Mana barusan.
Mana menurunkan kecepatan mobilnya saat sudah mendekati rumah yang menjadi tujuannya.
Mana terkejut saat tiba-tiba ada seorang wanita yang menabrak mobilnya, saat mobilnya sedang melaju pelan.
“Tolong!” teriak wanita tersebut sambil memukul kaca mobil di mana Vier duduk.
“Mana, lajukan mobilnya, sepertinya dia orang gila,” perintah Vier saat mendapati wanita tersebut hanya melilit tubuhnya menggunakan sweater untuk menutupi tubuhnya.
Bukannya melajukan mobilnya, Mana malah menghentikan laju mobilnya, saat dirinya tidak asing lagi dengan sweater yang di gunakan wanita yang terus mengetuk kaca mobil, lalu Mana turun dari mobil dan menghampiri wanita tersebut.
“Tuan izinkan aku bersembunyi di mobilmu, aku mohon Tuan,” ucap wanita tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Celin sahabat Mentari, sambil melipat kedua tangannya untuk meminta pertolongan pada Mana, dengan tatapan matanya terus tertuju pada dua orang pria yang sedang berlari dan masih jauh dari tempatnya berdiri, saat tadi Celin bisa meloloskan diri anak buah Berto.
Dan Mana pun langsung membuka pintu mobil belakang dan menyuruhnya untuk masuk. Kemudian Mana juga masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya kembali, tanpa menoleh ke arah Vier yang terlihat tidak suka dengan keputusan yang Mana ambil, karena memasukkan orang asing ke dalam mobil mewahnya.
“Terima kasih Tuan,” ucap Celin dan membetulkan sweater untuk menutupi tubuhnya.
“pakailah kemeja yang tergantung itu!” perintah Mana, yang kebetulan ada baju miliknya yang baru saja dirinya ambil dari laundry, dan tanpa pikir panjang Celin langsung mengenakan kemeja tersebut, dan celana yang juga tergantung di sampingnya tanpa bertanya lagi.
“Aku ingin bertanya padamu,”
“Silakan Tuan,” sambung Celin saat sudah mengenakan pakaian.
“Sweater itu milik siapa?”
“Milik temanku yang sekarang dalam bahaya,”
Mendengar jawaban Celin, Mana menghentikan laju mobilnya mendadak lalu menoleh ke belakang untuk menatap Celin.
“Apa milik Tari?”
“Kenapa Tuan mengenal sahabatku?”
“Tunjukkan di mana dia berada,” ujar Mana tanpa menjawab pertanyaan Celin, dan Celin pun langsung memberi tahu dimana Mentari dan menunjukkan arah menuju rumah dimana Mentari berada.
***
Mentari berlari dengan kencang setelah keluar dari kamar dimana Berto masih mengerang kesakitan, lalu Mentari menuju pintu dan ingin membukanya, tapi sayang pintu tersebut di kunci dari luar.
“Ya Tuhan tolong aku,” ujar Mentari lalu menuju jendela rumah tersebut, tapi jendela tersebut menggunakan teralis besi.
“Kamu tidak akan bisa kabur Baby,”
Berto yang baru keluar dari kamar berjalan mendekati Mentari sambil menahan sakit di juniornya.
“Tolong! Siapa pun orang di luar sana, tolong aku!” teriak Mentari sambil menggebrak pintu rumah tersebut.
“Percuma Baby, tidak akan ada yang mendengarmu,” Berto berjalan mendekat ke arah Mentari.
“Jangan mendekat!”
“Kenapa Baby, kamu bilang ingin melayaniku, kenapa kamu malah kabur?”
Mentari menampar pipi Berto dengan kencang, membuat Berto hanya tersenyum sinis.
“Baiklah Baby, jika kamu ingin bermain kasar,” Berto ingin menarik tangan Mentari, tapi dengan segera Mentari menghindar dan berlari menjauh dari Berto.
“Tolong!” Mentari terus berteriak, berharap ada orang yang mendengar teriakannya.
“Berteriaklah Baby, aku suka mendengar suaramu,”
Mentari melempar vas bunga yang dekat dengan jangkauannya ke arah Berto, tapi Berto dengan segera menangkap vas bunga tersebut.
Lalu Berto meletakkan vas bunga tersebut ke atas meja, dan tatapannya terus tertuju ke arah Mentari sambil tersenyum sinis.
“Mendekatlah Baby,” Berto berjalan mendekati Mentari yang terus memundurkan langkah.
“Aku mohon lepaskan aku,”
“Oke aku akan melepasmu Baby, tapi sebelum itu layani aku dulu,”
Mentari langsung membalik tubuhnya untuk melarikan diri saat Berto terus mendekatinya. Tapi kening Mentari terbentur lemari dan membuatnya jatuh, saat dirinya tidak menyadari jika di belakangnya terdapat lemari pajangan.
“Aw,” Mentari memegangi keningnya yang terasa pusing dan tak terasa darah mulai menetes dari keningnya yang terbentur.
Berto tersenyum bahagia saat Mentari jatuh dan dirinya langsung mendekatinya dan berjongkok tepat di hadapan Mentari.
“Inilah akibatnya jika melawan,” lalu Berto menarik baju yang di gunakan oleh Menteri hingga robek, tanpa mengasihaninya yang sedang kesakitan dengan darah yang terus menetes dari keningnya.
“Aku mohon lepaskan aku!” pinta Mentari lagi dan pandangannya mulai kabur.