“Ma– maaf Tuan, perintah Tuan ini tidak ada di surat perjanjian, dan aku tidak mau melakukan itu!”
Vier menggebrak meja yang ada di sampingnya, dengan penuh emosi, apa lagi saat mendengar ucapan Mentari, pasalnya selama ini tidak pernah sekali pun dirinya pernah menunggu seseorang seperti saat ini, apa lagi hanya menunggu wanita biasa seperti Mentari yang tidak menuruti perintahnya, dan di pandang sebelah mata olehnya.
Senyum sinis tersungging dari sebelah sudut Xavier lalu melangkahkan kakinya mendekat ke arah Mentari yang diam terpaku tepat di depan pintu.
“Hai wanita menjijikkan! Apa yang kamu pikirkan?” tanya Vier dan jari telunjuknya menunjuk kening Mentari lalu menoyor kepala nya.
“Tari, kendalikan emosi mu, bagaimana pun, orang yang sekarang berada di hadapanmu, adalah orang yang sudah membuat ibumu selamat menjalani operasi,” gumam Mentari pada dirinya sendiri, dan mengepalkan tangannya untuk meredam emosi.
“Kamu tidak menggunakan sehelai benang pun di hadapanku, aku juga tidak akan pernah berselera dengan tubuhmu yang menjijikkan, yang sudah puluhan orang menjamah tubuhmu yang kotor ini! Dan menyingkirlah dari jalan ku!”
Mendengar perintah Vier, Mentari segera menyingkir dari hadapan pria yang membuatnya begitu muak, mungkin saja kalau pria tersebut tidak berjasa dalam hidupnya Mentari sudah memukulnya hingga babak belur.
“Mana, urus dia! Aku tidak ingin berlama-lama bersama wanita ini!”
Perintah Vier pada Mana sang asisten dan juga tangan kanannya, lalu Vier dengan segera keluar dari kamar meninggalkan keduanya.
“Nona, silakan ikut denganku,”
“Baik Tuan, tapi aku ingin bertanya pada Tuan, apa yang harus aku lakukan? Kenapa tadi Tuan Vier mengatakan hal seperti itu?”
Mendengar pertanyaan Mentari, Lesmana dengan segera menghentikan langkahnya lalu membalik tubuhnya untuk menatap Mentari yang masih diam terpaku, dengan senyum yang mengembang dari ke dua sudut bibirnya, mengingat kembali, wanita yang sedang ditatapnya memiliki keberanian yang luar biasa.
“Maaf Nona sebelumnya jangan panggil aku Tuan, panggil saja namamu oke, dan untuk pertanyaan Nona, Tuan Vier, tidak ada maksud lain, karena dia hanya ingin Nona mencoba baju untuk acara besok, yang sudah tersedia di ruang ganti,”
“Oh begitu, jadi aku salah paham?”
“Bisa di katakan seperti itu Nona,”
“Ya maaf,”
“Tidak masalah Nona, silakan ikut denganku,”
“Tunggu!”
Lagi-lagi Mana menghentikan langkahnya, saat mendengar ucapan Mentari.
“Iya Nona ada apa lagi?”
“Kamu juga tidak boleh memanggil aku dengan sebutan Nona, karena itu terasa mengganjal di telingku, panggil saja namaku ok!”
“Baik Non– maaf Tari, silakan,” ujar Mana mempersilahkan Mentari untuk berjalan terlebih dahulu menuju ruang ganti.
Mana menautkan kedua alisnya ketika Mentari masih diam terpaku di tempatnya. “Ada apa lagi?”
“Kamu tetap berada di sini, dan tidak boleh ikut masuk ke dalam, aku bisa melakukannya sendiri,”
“Aku hanya ingin mengantar, karena di dalam sudah ada desainer yang menunggumu,”
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Mentari berjalan mendahului Mana, dan Mana pun mengikuti nya dari belakang lalu menggelengkan kepalanya, mendapati wanita yang berjalan mendahuluinya sangat berbeda dengan wanita pekerja malam, yang sering dirinya jumpai.
Setelah mengantar Mentari dan memperkenalkannya pada desainer yang berada di dalam ruang ganti, Mana keluar dari kamar dan turun ke lobi hotel di mana sekarang dirinya berada, untuk menemui Vier yang menyuruhnya untuk segera datang.
“Maaf lama,”
Mana yang sudah menghampiri Vier duduk di sampingnya, yang sedang menunggu di ruang tunggu hotel tersebut.
“Lama sekali, apa yang kamu lakukan? Jangan bilang kamu bermain dengannya terlebih dahulu,”
“Ya ampun Vier, kalau aku ingin bermain, tidak mungkin aku bermain dengan calon istri temanku, yang benar saja kamu ini, aku tidak sebejat yang kamu pikirkan,” sambung Mana pada Vier bos sekaligus sahabatnya yang mengenal siapa dirinya.
“Apa kamu bilang? Calon istri? Cih aku tidak sudi,”
“Tapi kenyataannya kamu dan Tari akan menikah besok,”
“Jangan sebut namanya, dan aku menikahi wanita menjijikkan itu juga karena usulmu!”
“Itu demi nama baik keluargamu dan juga kesehatan Orang tua mu,”
“Iya aku tahu, sekarang antar aku ke rumah mama,”
“Siap Bos,”
Mana lalu berdiri mengikuti Vier, yang beranjak dari duduknya, lalu berjalan bersama ke arah lift yang menuju basemen hotel tersebut di mana mobil Vier berada.
“Vier,”
“Hemm,” sambung Vier saat keduanya sudah berada di dalam lift.
“Sepertinya Tari berbeda,”
“Apanya yang berbeda? Dia sama seperti jalang di luar sana yang menjajakan tubuhnya demi uang,”
“Tapi–
“Sudah lah jangan banyak bicara, kalau kamu ingin menikmati tubuhnya, silakan saja, percuma bukan, aku sudah membayarnya tapi tidak di manfaatkan,” ujar Vier lalu keluar dari dalam lift yang baru saja terbuka.
“Ya ampun kapan kamu akan berubah Vier? Kenapa mulutmu pedas sekali,”
“Diam lah!”
“Oke aku diam,”
***
“Nona, apa pakaian ini nyaman di tubuh Nona?” tanya desainer wanita yang baru saja membantu Mentari mencoba gaun pengantin yang akan dirinya kenakan besok, dan Mentari pun hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Kalau untuk kerudung dan cadar, besok saja langsung sama MUA pasti mereka lebih paham, tapi aku heran kenapa harus menggunakan cadar, untuk menutupi pengantin yang sangat sempurna ini,” ujar desainer tersebut sambil mengamati setiap jengkal wajah Mentari, saat Vier memilih baju pengantin yang tertutup.
“Karena calon suami ku, ingin aku berpakaian tertutup, dan boleh terbuka hanya untuk nya,” bohong Mentari sambil tersenyum untuk meyakinkan desainer tersebut.
“Oh so sweet sekali,”
“Sweet mata mu!” gumam Mentari dan terus melempar senyum ke arah desainer tersebut.
“Oke gaunnya sudah sesuai, dan sekarang aku akan membantu melepasnya,”
“Jangan, aku bisa melepas nya sendiri, Terima kasih sebelumnya, anda boleh pergi,”
“Benar nih?” tanya desainer tersebut dan Mentari pun langsung menganggukkan kepalanya. “Kalau begitu, aku pamit dulu, dan besok aku kembali lagi,”
“Baiklah, terima kasih sebelumnya,” ujar Mentari untuk terakhir kali sebelum desainer tersebut keluar dari dalam kamarnya.
Mentari menghembuskan nafasnya kasar setelah kepergian desainer tersebut, lalu Mentari menatap pantulan dirinya di cermin yang ada di hadapannya.
Senyum terukir dari ke dua sudut bibirnya, menatap dirinya sendiri yang masih terbalut gaun pengantin yang begitu indah, yang Mentari tahu harganya selangit. Inilah sebenarnya yang selalu Mentari impikan, memakai gaun yang indah di hari pernikahannya dengan pria yang dicintainya.
Namun senyum Mentari hilang, saat dirinya sadar pernikahan ini adalah pernikahan kontrak yang harus dijalaninya bersama Vier pria dingin yang begitu kaku dan juga semena-mena terhadap dirinya, itulah pandangan Mentari terhadap Vier.
“Pasti kamu bisa menjalani ini semua Tari, ini demi kesembuhan ibu, anggap saja Vier makhluk tak kasat mata jika kamu sedang bersamanya,” ujar Tari untuk menyemangati dirinya sendiri.
Lalu Mentari menoleh ke arah meja di mana ponselnya diletakkan, dan mengangkat ponselnya saat ada yang menghubunginya.
“Apa!” teriak Mentari saat sudah mengangkat sambungan ponselnya.