“Enak saja kamu ingin mengajukan persyaratan kepadaku. Siapa dirimu?” tanya Xavier yang langsung duduk di kursi untuk menikmati sarapannya sambil menatap Mentari dengan tersenyum sinis. “Kenapa kamu masih berada di sini?” tanya Xavier lagi saat Mentari masih berdiri sambil menundukkan kepalanya tidak jauh darinya.
“Aku membutuhkan uang itu sekarang juga Tuan,”
“Sudah aku duga. Mana berikan uang kepada nya. Dan suruh dia cepat keluar dari apartemenku. Aku tidak ingin apartemenku menjadi kotor dengan dia masih berada di sini.”
“Baik Tuan,” Lesmana langsung beranjak dari duduknya, lalu mengajak Mentari meninggalkan ruang makan menuju ruang tamu.
“Nona ini uang yang Anda minta. Totalnya lima puluh juta,” ujar Lesmana sambil memberikan amplop cokelat ke hadapan Mentari.
“Terima kasih Tuan. Kalau begitu aku pamit dulu,”
“Tunggu,” Lesmana menghentikan langkah Mentari yang akan meninggalkan nya.
“Iya Tuan?”
“Jangan lupa tiga hari lagi kamu akan menikah dengan bos ku.”
“Aku tidak akan pernah lupa Tuan,”
“Bagus. Dan selalu ikuti semua yang aku perintahkan kepadamu. Jangan sampai bos aku marah,”
“Baik Tuan. Kalau tidak ada yang ingin disampaikan aku permisi Tuan,”
“Silakan,” ucap singkat Lesmana dan Mentari langsung meninggalkan apartemen mewah tersebut.
“Berapa yang dia minta?” tanya Xavier penasaran saat Lesmana kembali menuju meja makan selepas kepergian Mentari.
“Lima puluh juta Tuan. Untuk membayar biaya operasi ibunya,”
“Oh,”
“Dan untuk acara ijab kabul dan juga resepsi aku sudah menyiapkan gaun untuk nya. Dan Pak Vier tenang saja, tidak ada satu pun orang yang akan mengenalinya. Dan mereka tidak akan pernah curiga termasuk kedua orang tua Pak Vier,”
“Bagus,” ujar Xavier singkat dan kembali lagi menyantap makanan yang berada di hadapannya.
“Apa hari ini ada yang pak Vier lupa?” tanya Lesmana dan Vier langsung menatap Lesmana dengan menautkan kedua alisnya.
“Ya ampun. Kenapa kamu tidak mengingatkanku!” ujar Xavier dan beranjak dari duduknya ketika dirinya baru menyadari kalau dirinya sudah berjanji akan menjemput sang Mama pulang dari rumah sakit. “Antarkan aku ke rumah sakit,”
“Baik pak,” kemudian Lesmana bergegas mengikuti Xavier keluar dari apartemen.
***
Xavier langsung menghembuskan nafasnya saat sudah berada di halaman rumah mewah miliknya, meskipun dirinya tidak pernah sekalipun tinggal di rumah tersebut, karena dari kecil dia sudah tinggal Dubai. Dan pulang ke Indonesia tempat lahir sang mama hanya untuk berlibur dan bertemu dengan kekasihnya yang sudah mengkhianati nya. Dirinya pun lebih memilih tinggal di apartemen miliknya yang letaknya di pusat kota ketimbang di rumah mewahnya.
Xavier langsung menghambur memeluk sang mama, saat wanita paruh baya tersebut sedang duduk di ruang keluarga.
“Maafkan aku Ma. Aku lupa menjemput Mama,”
“Iya sayang tidak apa. Yang terpenting mama sudah sehat bukan? Dan lepaskan pelukanmu. Mama nanti kehabisan nafas sayang,”
“Maaf Ma,” ujar Xavier sambil melepas pelukannya dan langsung duduk di samping sang mama. “Apa Mama dijemput Papa?”
“Tentu siapa lagi,” sambung pria paruh baya yang menghampiri keduanya.
“Papa. Kapan Papa sampai?”
“Tidak usah bertanya. Seharusnya Papa yang bertanya ke mana saja kamu. Ini tugas kamu menjaga Mama jika papa sedang tidak bersama dengan Mama,”
“Maaf Pa,"
“Sayang ada apa denganmu kenapa muka kamu terlihat pucat?” tanya mama Sabila, nama dari mama Xavier saat memperhatikan wajah putranya.
“Aku hanya kelelahan Ma. Dan aku baik-baik saja,”
“Ma mungkin anak kita merasa grogi, tiga hari lagi dia akan berubah statusnya. Bukan begitu Nak?” tanya papa Malik, nama papa Xavier pemilik perusahaan terbesar di beberapa negara, lalu menepuk punggung anak semata wayangnya tersebut. Dan Xavier langsung mengangguk sambil tersenyum.
“Sayang, sekali kali ajak Jeni main ke rumah. Mama sudah lama tidak bertemu dengannya terakhir mama bertemu saat dia mengunjungi kita di Dubai,”
“Mah, Jeni sedang menjalani ritual pingitan. Jadi dia tidak boleh keluar rumah. Aku saja ingin menemuinya tidak boleh.” Bohong Xavier untuk meyakinkan kedua orang tuanya.
“Oh iya Mama sampai lupa. Kelamaan tinggal di Dubai Nama jadi lupa kalau di Indonesia ada ritual pingitan,” ujar mama Sabila sambil tersenyum ke arah Xavier. Dan ketiganya langsung bercakap cakap seperti keluarga pada umumnya. Dan kedua orang tua Xavier tidak tahu apa yang sedang di alami oleh putra semata wayang mereka.
***
“Apa! Apa Kakak sedang berbohong padaku?" tanya Cahaya pada kakaknya Mentari saat keduanya sedang berada di bangku tunggu di depan ruang operasi, ketika ibu mereka sedang menjalani operasi setelah sebelumnya Mentari melunasi biaya operasi nya.
“Benar Aya. Tidak ada cara lain selain itu yang harus kakak lakukan,” ujar Mentari saat dirinya sudah menjelaskan semuanya kepada Cahaya adiknya dan tidak ada yang di tutupi nya.
“Kakak pernikahan itu sakral, ini tidak benar. Ibu akan terkejut saat tahu kalau Kakak melakukan nikah kontrak dengan seseorang yang baru Kakak kenal hanya demi ibu.”
“Dan kamu harus merahasiakan ini semua dari ibu. Aku akan melakukan apa pun demi kesembuhan ibu. Termasuk menukar nyawaku,”
“Kakak,” Cahaya langsung memeluk Mentari. “Aku berjanji aku akan menjadi orang yang sukses dan menjadi kebanggaan Kakak dan juga ibu suatu saat nanti,”
“Aku akan menanti hari itu. Dan aku orang pertama yang akan mengatakan aku bangga mempunyai adik sepertimu,” sambung Mentari sambil mengeratkan pelukannya.
Dua hari kemudian.
Mentari yang baru keluar dari dalam ruang ICU di mana ibunya mendapat perawatan khusus setelah menjalani operasi, langsung terkejut saat mendapati Lesmana sudah berada di bangku tunggu sambil berbincang bincang dengan Cahaya. Kemudian Mentari menghampiri keduanya.
“Aya ibu ingin bertemu denganmu. Kamu masuklah,”
“Baik Kak,” kemudian Cahaya langsung masuk ke dalam ruang ICU.
“Maaf Tuan tadi aku tidak mengangkat telepon dirimu,” ujar Mentari yang sekarang duduk di samping Lesmana.
“Tidak masalah. Bagaimana keadaan ibu kamu?”
“Syukurlah setelah menjalani operasi, keadaan ibu mulai membaik,”
“Syukurlah kalau begitu. Bagaimana apa kamu sudah siap?”
“Siap Tuan,” jawab Mentari tahu apa yang harus dirinya lakukan untuk hari esok. Saat dirinya akan menikah kontrak dengan seorang Xavier Adi Barata yang baru dirinya kenal.
“Kalau begitu mari ikut denganku Nona,”
“Baik,” sahut Mentari yang langsung mengikuti Lesmana dari belakang.
***
Lesmana langsung membukakan pintu kamar hotel dan mempersilahkan Mentari untuk masuk ke dalam. Saat keduanya sudah sampai hotel bintang lima di mana besok akan di laksanakan acara ijab kabul dan juga resepsi pernikahan. Antara Mentari dan juga Xavier. Yang lebih tepatnya Mentari hanya menggantikan calon mempelai wanita. Dan akan menjalani pernikahan kontrak selama satu tahun dengan Xavier yang sudah dirinya sepakati dengan bukti hitam di atas putih. Mentari langsung menundukkan kepalanya saat sudah berada di dalam kamar hotel tersebut ketika mendapati Xavier sudah berada di dalam.
“Siapa kamu. Berani sekali kau membuat aku menunggu!” bentak Xavier sambil bertolak pinggang menatap Mentari.
“Maaf Tuan,”
“Lepas pakaian yang kamu kenakan sekarang juga!”
“Apa!”