Mentari langsung meminta maaf pada wanita paruh baya yang baru saja dirinya tabrak.
“Sekali lagi maafkan aku Bu. Benar aku tidak sengaja,”
“Iya Nak tidak apa-apa,” ujar wanita paruh baya tersebut dengan senyum dari kedua sudut bibirnya yang begitu luwes. Kemudian Mentari membalas senyuman tersebut dan berpamitan.
“Manis dan juga sopan. Andaikan saja calon istri Vier seperti dia. Mama akan sangat bahagia Pa,” ujar wanita paruh baya tersebut sambil bersandar di lengan suaminya. Mengingat bagaimana calon menantunya yang tidak sama sekali peduli pada dirinya.
“Jangan berkata seperti itu. Kita harus menghargai pilihan Vier. Bagaimana pun sikap calon istri Vier kepada kita. Dan kita doakan semoga sikapnya akan berubah setelah dia menikah,” nasihat pria paruh baya tersebut yang langsung merangkul bahu istrinya.
“Ke mana anak kita Pa? Kemarin dia berjanji akan menjemput Mama di rumah sakit. Tapi nyatanya dia belum juga datang,”
“Mungkin dia lupa atau belum bangun. Sudahlah yang terpenting ada Papa disini,”
“Terima kasih Pa,” ujar wanita paruh baya tersebut yang langsung melingkarkan kedua tangannya memeluk pinggang suaminya sambil berjalan menuju sebuah mobil yang sudah menunggu keduanya tempat di lobi rumah sakit.
***
Mentari langsung menghembuskan nafasnya kasar, ketika dirinya baru turun dari ojek online yang dinaikinya. Ke dua matanya tertuju pada apartemen mewah yang berada di hadapannya. Langkahnya seakan terpaku mengingat kembali keputusan apa yang akhirnya dirinya ambil untuk mendapatkan uang.
“Ini keputusanku. Apa pun yang akan aku lakukan ini. Aku tidak akan menyesalinya, aku melakukan ini demi ibu. Hanya demi ibu” gumam Mentari dalam hati dan langsung melangkah kakinya menuju lobi apartemen tersebut. Saat dirinya sudah yakin dengan keputusan yang diambil.
Mentari yang sedang menunggu seseorang di lobi apartemen tersebut terus berjalan mondar mandir, dan terkejut saat ada seseorang yang menyentuh bahunya.
“Maaf. Aku mengejutkan Anda. Aku kira Anda hanya main-main dan tidak serius saat tadi Anda menghubungiku,” ujar seorang pria yang baru saja memegang bahu Mentari. “Kalau begitu mari ikut denganku,”
“Baik Tuan,” sambung Mentari yang langsung mengikuti pria tersebut dari belakang.
Mentari yang sudah berada di dalam unit apartemen tersebut yang berada di lantai paling ujung langsung duduk di sofa yang berada di ruang tamu. Matanya terus menyusuri setiap sudut apartemen tersebut yang begitu mewah dengan semua fasilitas yang mumpuni.
“Nona silakan diminum,” ujar pria yang tadi membawanya.
“Terima kasih,”
“Bos. Masih tidur di kamar. Nona tunggu saja disini. Aku ingin mencari makanan keluar,” ujar pria tersebut yang langsung meninggalkan Mentari keluar dari apartemen.
Mentari yang sudah menunggu lama langsung beranjak dari duduknya untuk melihat lihat seluruh isi sudut apartemen tersebut. Langkahnya terhenti tepat di depan sebuah meja yang terdapat beberapa foto wanita dan juga pria yang begitu serasi dan romantis. Dan Mentari tahu siapa pria tersebut.
“Jangan sentuh itu!” tegas seorang pria yang baru keluar dari dalam kamarnya, saat mendapati Mentari sedang memegang salah satu foto yang berada di atas meja, tepat di samping pintu kamar di mana pria tersebut baru saja keluar. Membuat Mentari langsung menaruh foto tersebut ketempat asalnya.
“Maaf Tuan,”
“Siapa kamu berani sekali masuk ke dalam apartemen milikku?”
“Maaf Tuan aku...”
“Wanita malam yang menjijikkan,” sambung pria tersebut sambil memegangi keningnya, saat menatap ke arah Mentari yang sedang menundukkan kepala. “Mana!”
“Tuan Mana sedang keluar Tuan,” sambung Mentari saat pria yang ada di depannya berteriak memanggil asistennya yang Mentari tahu bernama Mana, pria yang belum lama keluar dari apartemen dan pria yang Mentari hubungi yang memberikan kartu nama di klub malam.
“Aku tidak bertanya padamu,” ujar pria tersebut yang langsung membanting pintu dan masuk ke dalam kamarnya.
“Sabar Mentari. Ini semua demi ibu. Perlakuan apa pun yang kamu dapatkan kamu harus sabar,” gumam Mentari saat emosi ditubuhnya membara tatkala pria tadi memanggilnya wanita malam yang menjijikkan. Padahal selama ini Mentari sudah terbiasa dengan panggilan itu. Tapi entah mengapa hatinya begitu sakit saat pria tersebut yang mengatakannya.
“Tunggu kau wanita malam,” suara pria tersebut yang keluar kembali dari dalam kamarnya menghentikan langkah Mentari yang akan menuju sofa. Dan Mentari langsung menghadap pria tersebut. “Aku tidak biasa menyiapkan air mandi sendiri. Aku ingin kamu yang menyiapkannya,”
“Tapi tuan...”
“Cepat!” perintah pria tersebut dan Mentari langsung masuk ke dalam kamar dan menuju kamar mandi.
Mentari yang sudah mengisi bathtub dengan air hangat langsung keluar dari dalam kamar mandi. Sambil menundukkan kepalanya saat melihat pria yang tadi, sedang bertelanjang d**a dan mendekat ke arahnya.
“Tuan. Aku menerima tawaran Anda hanya untuk menjadi istri kontrak anda selama satu tahun, tanpa ada kontak fisik,” ucap Mentari membuat pria tersebut langsung tersenyum sinis.
“Aku juga tidak sudi menyentuh kau wanita malam. Yang sudah berpuluh puluh pria menjamah tubuhmu!” tegas pria tersebut tepat di samping wajah Mentari sambil mengambil handuk yang berada di belakang tubuh Mentari lalu langsung masuk ke dalam kamar mandi.
“Maaf lama,” ujar Lesmana yang baru masuk ke dalam apartemen sambil membawa paper bag di tangan kanan dan juga kirinya. Dan Mentari membalasnya dengan tersenyum dan mengikuti Lesmana ke arah meja makan.
“Biar saya bantu Tuan,”
“Terima kasih, apa bos ku sudah bangun?”
“Sudah Tuan,” jawab Mentari sambil menaruh makanan yang baru saja Lesmana bawa ke atas piring yang baru saja Lesmana ambil dari dalam kitchen set.
“Ya ampun pasti dia marah padaku. Aku ke dalam kamar dulu. Maaf merepotkan mu,” ujar Lesmana yang langsung meninggalkan Mentari menuju ke dalam kamar.
Lesmana yang sudah berada di dalam kamar langsung menautkan kedua alisnya menatap bosnya yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi, dengan handuk yang sudah melilit di pinggangnya dan tangannya sedang mengeringkan rambut dengan handuk kecil.
“Ke mana saja kau?”
“Maaf Pak. Aku sedang mencari makanan. Dan maaf Pak. Karena itu, aku jadi tidak sempat menyiapkan air hangat untuk Pak Vier.
“Sudah lupakan. Jangan sampai aku menunggu lagi,”
“Baik Pak,” sambung Lesmana yang langsung berlari menuju ruang ganti tahu apa yang harus dirinya lakukan.
“Apa dia bersedia menjadi istri kontrakku?” tanya Xavier sambil mengenakan pakaian yang baru saja di ambilkan oleh Lesmana.
“Iya Pak,”
“Berapa uang yang dia inginkan?”
“Dia hanya menginginkan pak Vier membiayai biaya pengobatan ibunya sampai ibunya sembuh,”
“Hanya itu?”
“Iya Pak,”
“Apa dia sudah menandatangani surat kontraknya?”
“Belum Pak. Ada satu syarat yang ingin dia ajukan kepada Pak Vier,”
“Siapa dia berani mengajukan syarat kepadaku!” ujar kesal Xavier yang langsung keluar dari dalam kamarnya.
Xavier langsung melempar map ke atas meja makan, ketika dirinya sudah menghampiri Mentari yang sedang menyiapkan makanan.
“Apa syarat yang ingin kamu ajukan?”