“Bagaimana, apa kamu sudah mendapatkan uang? Untuk biaya operasi ibumu?” tanya Celin pada Mentari, membuat Mentari hanya menggelengkan kepalanya. Saat mentari sedang menyiapkan minuman yang tadi dipesan oleh seseorang. “Bagaimana dengan usulku kemarin. Kalau kamu mau, nanti aku carikan?” Mentari menatap tajam ke arah Celin mendengar perkataan sahabatnya tersebut. “Oke. Oke, terserah padamu. Tapi kalau nanti kamu berubah pikiran. Kamu tinggal hubungi ku, aku ingin cek in hari ini. Dadah,” ujar Celin sambil melambaikan tangannya pada Mentari dan meninggalkan klub malam.
Mentari langsung menghembuskan nafasnya kasar. Saat pemilik klub malam tersebut hanya bisa meminjamkan uang tidak lebih dari sepuluh juta.
“Baiklah. Semangat Tari. Masih ada waktu enam hari untuk melakukan pelunasan biaya operasi. Dan kamu pasti bisa mencari uang tersebut tanpa mengorbankan kehormatan mu semangat Tari,” ujar Mentari menyemangati dirinya sendiri sambil membawa nampan berisi minuman menuju ruangan VVIP di mana dirinya tadi diminta untuk membawa minuman.
“Mana, apa yang harus aku katakan pada mama dan juga papa. Pernikahanku sudah seratus persen tapi–”
“Tenang Pak, aku akan bicara baik-baik pada tuan dan nyonya, dan menjelaskan yang sebenarnya, pasti mereka akan mengerti,” ujar Lesmana memotong perkataan Xavier, yang sedang menyadarkan kepalanya di sofa di mana dirinya berada, sambil memegangi keningnya saat rasa pusing akibat minuman yang diminumnya menghilangkan setengah kesadarannya.
“Aku takut papa akan terkena serangan jantung jika mengetahui yang sebenarnya. Aku juga tidak ingin mama terkejut dengan kejadian ini, yang bisa membuat kesehatannya menurun,” ujar Xavier walaupun kesadarannya tidak penuh tapi dirinya masih menghawatirkan kedua orang tuanya.
“Aku ada ide,” usul Lesmana yang langsung berbisik ditelinga Xavier.
“Kamu yakin?” tanya Xavier sambil mengerutkan kedua alisnya mendengar usul Lesmana.
“Yakin Pak. Setidaknya acara pernikahan itu akan tetap terlaksana. Dan nanti aku yang akan menjelaskan kepada tuan dan nyonya,”
“Atur saja,” ucap Xavier dan matanya langsung tertuju pada seorang wanita yang masuk ke dalam ruangan sambil membawakan minuman yang di pesan olehnya. Xavier terus menatap wanita tersebut walaupun kesadarannya tidak penuh tapi dia tahu siapa wanita tersebut.
“Tuan silakan minumannya. Aku akan membantu menuang minuman ini,” ucap Mentari yang langsung membuka botol minuman yang di bawanya lalu menuangnya ke dalam gelas yang berada di atas meja. “Silakan Tuan,” ujar Mentari dengan tersenyum manis sambil memberikan gelas berisi minuman ke hadapan Xavier dan menatap pria yang berada di hadapannya dengan intens, ketika dirinya tidak asing saat melihat pria tersebut, tapi entah di mana dirinya melihat. Dan Xavier langsung menenggaknya dengan sekali tenggak.
“Lagi,”
“Baik Tuan,” ucap Mentari sambil menuang minuman ke gelas Xavier. “Ada yang bisa aku bantu Tuan? Kalau tidak, aku permisi,” ujar Mentari saat pria yang berada di hadapannya sudah menghabiskan satu botol minuman yang dirinya bawa.
“Tunggu!” ujar Xavier menghentikan langkah Mentari saat akan meninggalkan ruangan VVIP tersebut.
“Iya Tuan ada yang bisa aku bantu?” tanya Mentari mengurungkan niatnya untuk meninggalkan ruangan tersebut dan mendekat kembali ke arah Xavier yang terus menatapnya dengan tajam.
“Berapa harga yang harus aku bayar untuk membawamu pulang?”
“Maaf tuan. Aku bukan barang yang dapat dihargai,”
“Sombong sekali kau wanita malam. Apa kamu tidak ingin ibumu mendapat pengobatan yang layak? Kamu butuh uang bukan?” tanya Xavier membuat Mentari langsung menautkan kedua alisnya sambil menatap pria yang terduduk di sofa dengan penampilan yang begitu acak-acakan. Dan Mentari baru menyadari jika pria tersebut adalah pria yang sama, yang amplopnya tertukar dengan amplop miliknya di rumah sakit.
“Iya aku memang membutuhkan uang. Tapi tidak dengan menjual tubuhku!”
“Aku juga tidak ingin menginginkan tubuhmu yang menjijikkan itu. Wanita malam!” tegas Xavier sambil berjalan ke arah Mentari yang sedang mengepalkan kedua tangannya saat mendengar perkataan pria yang sekarang sedang mengelilingi tubuhnya dengan sempoyongan, saat perkataan pria tersebut sangat menyakiti hatinya. “Katakan saja, jangankan tiga puluh juta untuk biaya operasi ibumu. Seratus juta, tiga ratus juta. Satu milyar. Aku bisa memberikannya untukmu, ikutlah pulang denganku,” ujar Xavier di depan Mentari dan Xavier langsung kehilangan kesadaran, membuat Mentari langsung menahan tubuh Xavier dengan tubuhnya.
“Maaf Nona,” ucap Lesmana yang langsung mengambil alih Xavier yang berada di dalam dekapan Mentari. “Nona ini nomor ponsel milikku. Jika Nona ingin tawaran yang bos aku tadi katakan. Nona tinggal hubungi nomor ponsel yang tertera di kartu nama itu,” ucap Lesmana sambil memberikan kartu nama pada Mentari, kemudian dirinya langsung pergi membawa Xavier untuk meninggalkan klub malam tersebut.
Mentari masih menatap kartu nama yang baru saja di berikan kepadanya. Dan langsung menggenggam erat kartu nama tersebut dan membereskan meja.
“Tari. Syukurlah kamu berada di sini,” ujar salah satu teman Mentari yang masuk ke ruang VVIP di mana Mentari berada. “Ponsel milikmu tidak berhenti berdering di loker milikmu tuh. Tidak biasanya kamu tidak mematikan ponselmu saat sedang bekerja. Berisik tahu,”
“Tolong kamu bereskan ini. Terima kasih sudah memberi tahu,” ujar Mentari yang langsung keluar dari ruangan tersebut dengan buru-buru.
Mentari langsung membuka loker miliknya dan benar saja ponselnya masih saja berdering. Mentari kemudian mengangkat ponsel tersebut dan langsung membereskan tas miliknya dan mematikan sambungan ponselnya.
“Tia. Aku pulang terlebih dahulu ya, aku ada urusan yang penting,” pamit Mentari pada salah satu teman kerjanya yang sedang beristirahat di tempat istirahat.
“Mau cek in ya? Jangan lupa besok traktir,” sambung Tia tapi tidak dihiraukan oleh Mentari yang langsung pergi dengan terburu-buru.
**
Jam menunjukkan pukul lima pagi saat Mentari tiba di rumah sakit. Dirinya langsung turun dari ojek online yang dinaikinya. Dan Mentari segera berlari masuk ke dalam rumah sakit.
“Kakak,” panggil cahaya yang langsung memeluk tubuh Mentari sambil menangis, saat Mentari sudah menghampiri dirinya di ruang tunggu.
“Ada apa dengan ibu?”
“Ibu kritis, dan harus segara melakukan operasi kak,” jelas Cahaya dengan tangis yang begitu kencang.
“Jangan menangis, ibu akan baik-baik saja,” ujar Mentari sambil mengeratkan pelukannya, dan tanpa dirinya sadari air matanya tidak bisa ditahan dan jatuh membasahi pipinya.
“Aya kamu tunggu disini. Kakak ingin ke ruang administrasi,” ucap Mentari sambil menghapus air matanya dan melepas pelukannya saat adiknya sudah bisa dirinya tenangkan, lalu Mentari dengan segera pergi menuju ruang administrasi.
“Mbak kemarin tiga puluh juta. Tapi sekarang lima puluh juta?” tanya Mentari dengan penuh emosi. Saat dirinya akan membayar DP biaya operasi ibunya, staf administrasi malah mengatakan biaya operasi ibunya naik menjadi lima puluh juta.
“Maaf Mbak kemarin terjadi kesalahan dari pihak kami,” jelas staf administrasi tersebut tapi tidak didengarkan oleh mentari yang langsung pergi meninggalkan ruang administrasi sambil menggerutu. Hingga dirinya tidak menyadari telah menabrak seseorang.