Tanggal itu dipilih Karina sendiri. Sabtu, pekan kedua bulan itu. Bukan karena hitungan hari baik, melainkan karena pada Sabtu itu tidak ada pesanan rapat besar, dan tiga puluh porsi untuk karyawan gudang Batara bisa disiapkan sejak Jumat malam.
"Restoran tetap buka, Van," katanya ketika Vania mengusulkan libur sehari. "Pelanggan kita tidak ikut menikah."
Vania hanya bisa tertawa sambil menggeleng.
Om Haris Soeradja tiba dari Bandung Jumat sore. Laki-laki berusia enam puluhan itu bertubuh tinggi kurus, dengan senyum yang membuat Karina teringat almarhum ayahnya. Ia memeluk keponakannya lama sekali di teras rumah kontrakan, lalu menangis tanpa malu.
"Ayahmu pasti senang, Nak," katanya. "Om cuma menyesal, dulu Om terlalu jauh untuk melihat apa yang kamu alami."
"Om sudah datang sekarang. Itu cukup," jawab Karina.
Sabtu pukul delapan pagi, musala di ujung gang belakang restoran sudah penuh. Bukan penuh oleh tamu undangan, melainkan oleh orang-orang yang memang ingin datang. Para pegawai Karina Kitchen dengan seragam terbaik mereka. Vania bersama suami dan ketiga anaknya. Sandra bersama keluarganya. Nenek pemilik kontrakan dan cucunya. Beberapa pelanggan setia yang mendengar kabar dari Ica.
Dari pihak Damar, hanya keluarga dekat yang datang. Anggi dan Luka. Prabu dan istrinya. Wulan, yang sejak masuk musala tidak berhenti tersenyum. Lalu Pak Drajat, yang datang memakai batik cokelat dan peci hitam, karena Damar memintanya menjadi saksi.
Saksi yang lain adalah Ilyas. Juru masak itu menolak mentah-mentah ketika pertama kali diminta. Katanya, ia cuma tukang masak. Karina menjawab, justru karena itu. Lima tahun Ilyas berdiri di sampingnya di depan kompor, lebih lama dari siapa pun.
Karina mengenakan kebaya putih gading sederhana dengan kerudung senada. Riasannya tipis saja. Wajahnya bersih dan tenang. Ia duduk di balik tabir bersama Anggi, Vania, dan Sandra.
Damar duduk di depan penghulu dengan kemeja koko putih. Tangannya dingin. Wulan sempat berbisik bahwa kakaknya tadi pagi salah memakai kaus kaki, kiri dan kanan berbeda warna.
Om Haris menjabat tangan Damar dengan mantap.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Damar Ajisaka Wirabuana bin Luka Wirabuana, dengan keponakan saya, Karina Soeradja binti almarhum Hendra Soeradja, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan cincin emas, dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Karina Soeradja binti almarhum Hendra Soeradja dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai."
Satu tarikan napas. Suaranya tidak bergetar sedikit pun.
"Sah?"
"Sah," jawab Ilyas dan Pak Drajat bersamaan.
Di balik tabir, Karina memejamkan mata. Air matanya jatuh, tetapi kali ini terasa hangat. Anggi menggenggam tangannya erat. Vania menangis paling keras, seperti biasa.
'Ayah, Bunda, Karina sudah sampai. Lagi.'
Sesudah akad, mereka semua berjalan kaki ke Karina Kitchen. Lantai satu tetap buka untuk pelanggan seperti biasa. Ica dan Septian melayani tamu sambil sesekali mengintip ke tangga. Lantai dua dipakai untuk makan bersama keluarga dan para pegawai. Menunya bukan menu pesta, melainkan menu restoran sehari-hari. Rendang buatan Ilyas, sayur asem, ayam panggang, sambal terasi. Karina sendiri yang memilih.
Pukul sepuluh, Ilyas pamit sebentar ke dapur. Tiga puluh kotak untuk karyawan gudang Batara harus berangkat tepat waktu. Serah terima seribu seratus, seperti yang tertulis di formulir. Damar menatap juru masak itu dengan kagum.
"Mbak, saya baru menikahi pemilik restoran yang tidak menggeser pesanan bahkan di hari pernikahannya sendiri," bisiknya pada Karina.
"Mas menyesal?"
"Saya bangga."
Di tengah makan, Prabu berdiri sambil mengangkat gelas es teh. "Saya mau kasih kado spesial untuk pengantin baru. Bagaimana kalau saham Batara sepuluh persen? Atas nama Karina!"
"Mas Prabu!" potong Anggi cepat, wajahnya setengah marah setengah geli. "Jangan bercanda soal begitu. Karina sudah bilang, dia tidak mau apa pun dari Batara."
Semua tertawa. Karina ikut tertawa, lalu menjawab dengan sopan. "Terima kasih, Papa Prabu. Tapi kado yang paling saya inginkan sudah datang tadi. Tiga puluh kotak berangkat tepat waktu."
Wulan bertepuk tangan paling keras. "Mas Damar, istrimu ini lebih galak dari Pak Drajat!"
"Saya dengar itu, Wulan," sahut Pak Drajat dari ujung meja, dan tawa pun semakin pecah.
Sementara itu, di rumah keluarga Wijaya, pagi berjalan dengan cara yang sangat berbeda. Rita duduk di sofa dengan ponsel di tangan sejak subuh. Akun salah satu pelanggan setia Karina Kitchen mengunggah foto musala di gang belakang restoran itu, lengkap dengan keterangan doa untuk pengantin. Bu Darmi, tentu saja, sudah meneruskannya ke grup bekas arisan.
"Van, lihat ini. Lihat sekali saja," kata Rita sambil menyodorkan ponselnya.
Evan yang sedang memakai sepatu tidak menoleh. Ia mengambil ponsel ibunya, menelungkupkannya di atas meja, lalu mengembalikan tatapannya ke tali sepatu.
"Aku mau antar Almira kontrol ke dokter, Ma. Jadwalnya pukul sembilan."
Rita ternganga. Almira yang sudah menunggu di dekat pintu dengan tas kecil di tangan menatap suaminya tidak percaya. Kontrol kandungan bulan kedelapan. Biasanya ia berangkat sendiri naik taksi daring.
Di ruang tunggu dokter, Almira mengeluarkan ponselnya. Ia mengetik pesan, menghapusnya, lalu mengetik lagi. Evan yang duduk di sampingnya melihat, tetapi tidak bertanya.
"Mbak Karina, selamat atas pernikahannya. Semoga Mbak selalu bahagia. Maaf untuk semuanya," tulis Almira.
Ia menekan tombol kirim, lalu menyimpan ponselnya dengan tangan sedikit gemetar.
Siang harinya, di lantai dua Karina Kitchen, ponsel Karina bergetar di atas meja. Ia membaca pesan itu, lalu terdiam cukup lama. Damar memperhatikan wajah istrinya, tetapi tidak bertanya.
"Terima kasih, Almira. Jaga dirimu dan bayimu baik-baik. Kamu tidak perlu meminta maaf lagi padaku," balas Karina.
Ia meletakkan ponselnya, lalu menoleh pada Damar. "Dari Almira."
"Mbak baik-baik saja?"
"Baik, Mas." Karina tersenyum. "Sudah lama sekali aku tidak sebaik ini."
Sore harinya, setelah semua tamu pulang dan restoran kembali berjalan seperti biasa, Karina dan Damar berjalan kaki keluar dari gang belakang. Damar membawa pot pohon jeruk purut kecil dari teras rumah kontrakan. Karina membawa sebuah tas berisi buku-buku resep.
Rumah yang mereka pilih berdua ada di ujung jalan, sepuluh menit berjalan kaki dari restoran. Rumah satu lantai dengan halaman kecil dan pohon mangga tua di depannya. Mereka membelinya dengan cicilan berdua, dari tabungan Damar selama bekerja dan tabungan Karina dari restoran. Bukan rumah termewah di jalan itu. Akan tetapi, setiap sudutnya mereka pilih sendiri.
Damar meletakkan pot jeruk purut itu di sudut teras, lalu membukakan pintu.
"Selamat datang di rumah, Mbak."
"Masih Mbak?"
Damar tersipu. "Selamat datang di rumah, Sayang."
Karina tertawa, tawa lepas yang selama bertahun-tahun ia kira sudah hilang. Ia melangkah masuk ke rumah barunya dengan kepala tegak. Kali ini, kalau pun ada yang bertanya kapan, ia tidak perlu menjawabnya sendirian.