Arkan Wijaya lahir pada sebuah Selasa dini hari, empat pekan setelah pernikahan di musala ujung gang itu. Tangisnya nyaring memenuhi ruang bersalin, dan Evan yang berdiri di samping ranjang menggenggam tangan Almira ikut menangis tanpa malu.
Bayi laki-laki itu mungil, merah, dengan rambut hitam lebat yang membuat para perawat tertawa. Ketika bidan menyerahkannya ke pelukan Evan, laki-laki itu memegangnya seperti memegang barang pecah belah termahal di dunia. Kaku, gemetar, takut salah gerak.
"Kepalanya disangga, Pak," kata bidan sambil tersenyum.
Evan menyangga kepala putranya dengan telapak tangan yang lebar. Ia menatap wajah mungil itu lama sekali. Delapan tahun ia menunggu saat seperti ini. Delapan tahun ia menyalahkan orang lain karena saat ini tidak kunjung datang. Lalu, ketika saat itu akhirnya tiba, yang ia rasakan bukan kemenangan, melainkan rasa malu yang aneh. Untuk apa semua tuduhan itu dulu?
Ibu Halimah datang dari Purworejo keesokan harinya, membawa sekantong kue basah dan doa yang tidak putus-putus. Rita datang lebih cepat lagi, membawa setumpuk baju bayi dan nasihat yang lebih banyak dari baju itu sendiri.
Kertas jadwal di pintu kulkas akhirnya benar-benar dipakai. Selasa, Kamis, dan Sabtu malam, Evan yang bangun. Ia belajar mengganti popok dengan tangan kikuk, belajar mengayun Arkan sambil berjalan mondar-mandir di ruang tengah pukul tiga pagi, belajar menyenandungkan lagu yang ia sendiri lupa liriknya. Matanya berkantung. Kemejanya kadang masih kusut. Akan tetapi, setiap sore ia pulang tepat waktu.
"Biar Mama yang bawa Arkan ke rumah Mama seminggu," kata Rita suatu sore. "Almira masih lemah. Kamu juga capek kerja."
"Nggak, Ma." Evan menggendong putranya lebih erat. "Mama boleh datang kapan saja, boleh menggendong sepuasnya. Tapi Arkan tinggal di sini, sama ayah dan ibunya. Yang memutuskan kami."
Rita terdiam. Ia tidak membantah, meski wajahnya masam.
Beberapa hari kemudian, Rita mencoba hal lain. "Van, kirim fotonya ke Vania. Biar Vania tunjukkan ke Karina. Biar dia tahu kamu sekarang sudah punya anak laki-laki yang sehat."
Evan menatap ibunya lama. Lalu ia menggeleng.
"Karina tidak perlu tahu apa pun dari rumah ini, Ma. Biarkan dia tenang. Itu satu-satunya yang masih bisa kita berikan padanya."
Malam itu, setelah Rita masuk ke kamar tamu, Evan mengetuk pintunya. Di tangannya ada sebuah kotak beludru merah yang selama ini tersimpan di laci meja rias kamar utama. Almira tidak pernah membukanya.
"Ini perhiasan dari keluarga kita yang dulu Mama berikan pada Karina, Ma. Dia meninggalkannya di laci pada hari dia pergi." Evan meletakkan kotak itu di pangkuan ibunya. "Dia tidak mau membawa apa pun yang kelak bisa disebut utang."
Rita membuka kotak itu. Kalung, gelang, dan cincin bermata merah. Semuanya masih utuh, masih terbungkus kain halus satu per satu, seolah pemiliknya merawat benda-benda itu sampai hari terakhir. Tangan Rita gemetar. Untuk pertama kalinya sejak Karina pergi, wanita itu menangis tanpa menyalahkan siapa pun.
Pekan berikutnya, Rita pergi ke toko emas ditemani suaminya. Ia menjual gelang-gelang emasnya sendiri, gelang yang dulu selalu ia pamerkan di setiap arisan, untuk melunasi utang pada tiga temannya. Kotak beludru merah itu tidak ia sentuh. Kotak itu ia simpan di lemarinya, entah untuk apa. Mungkin untuk mengingat. Mungkin untuk menghukum dirinya sendiri.
Akankah keluarga Wijaya bisa kembali seperti dulu? Entahlah. Mereka pernah saling menyakiti, dan sebagian luka memang tidak pernah benar-benar menutup.
Pukul tiga pagi, di ruang tengah yang remang, Evan berdiri di dekat jendela dengan Arkan tertidur di dadanya. Kadang, di jam-jam seperti ini, wajah Karina masih melintas di kepalanya. Ia tidak lagi mengusirnya. Ia hanya membiarkan bayangan itu lewat, lalu kembali menatap putranya yang bernapas pelan.
Di ambang tangga, Almira memperhatikan suaminya dalam diam. Retakan itu masih ada. Ia tahu. Akan tetapi, untuk pertama kalinya, ia melihat seseorang berusaha merawat kaca itu dengan tangannya sendiri.
Dua bulan kemudian, Karina Kitchen genap berusia enam tahun.
Pagi itu, sebelum jam buka, seluruh pegawai berkumpul di lantai satu. Ica membawa kue tart buatannya sendiri, sedikit miring, dengan tulisan krim cokelat yang membuat semua orang tertawa. Selamat ulang tahun, Ratu Dapur.
"Siapa yang mengajari kamu menulis begitu, Ca?" tanya Karina sambil menahan senyum.
"Mbak Vania, Bu," jawab Ica polos.
Vania langsung pura-pura sibuk mengatur gelas.
Setelah lilin ditiup, Karina mengeluarkan sebuah map dari tasnya. Ia meminta semua orang duduk.
"Enam tahun lalu, sebagian besar modal restoran ini datang dari tabunganku dan warisan Bunda. Tapi restoran ini tidak akan bertahan tanpa kalian." Ia menoleh pada Vania. "Terutama tanpa satu orang yang selalu datang paling pagi kalau aku sakit, dan pulang paling malam kalau aku tidak sanggup."
Ia menyerahkan map itu. Vania membukanya dengan dahi berkerut, lalu wajahnya berubah. Salinan akta dari notaris. Mulai bulan ini, sepuluh persen bagian Karina Kitchen tercatat atas nama Vania. Bukan hadiah, begitu tertulis di catatan yang dilampirkan Karina dengan tulisan tangannya sendiri, melainkan upah kerja enam tahun yang akhirnya tercatat.
"Mbak," suara Vania pecah. "Aku cuma bantu."
"Kerja yang tidak pernah dicatat itu yang dulu membuat aku hampir hilang, Van." Karina menggenggam tangan sahabat sekaligus mantan adik iparnya itu. "Aku tidak mau melakukan hal yang sama padamu."
Ilyas menyeka matanya dengan ujung celemek. Mang Dadang pura-pura batuk. Septian bertepuk tangan paling keras.
Siang harinya, seorang tamu datang memesan ketering untuk pesta pernikahan anaknya. Lima ratus porsi, pada Sabtu yang sama dengan rapat bulanan Batara. Nilainya besar sekali. Vania menatap Karina dengan mata berbinar.
Karina menghitung sebentar di buku catatannya, lalu tersenyum sopan pada tamu itu.
"Mohon maaf, Bu. Dapur kami tidak sanggup lima ratus porsi pada hari itu tanpa mengorbankan rasa. Kalau Ibu berkenan, kami bisa menyiapkan dua ratus porsi, atau Ibu bisa memilih tanggal lain."
Tamu itu terkejut, lalu tertawa. "Baru kali ini ada restoran yang menolak uang saya. Baiklah, saya pikirkan tanggal lain. Saya justru jadi percaya pada dapur Ibu."
Pukul sembilan malam, papan tutup dipasang di pintu kaca. Satu per satu pegawai pamit pulang. Karina melepas celemeknya, menggantungnya di paku dekat pintu dapur, lalu mematikan lampu lantai satu.
Damar sudah menunggu di trotoar depan, di tempat yang sama ketika dulu ia menabrak bahu seorang perempuan dan menyuruhnya memakai mata kalau berjalan. Laki-laki itu kini datang berjalan kaki dari rumah, seperti hampir setiap malam.
"Pulang?" tanyanya sambil mengulurkan tangan.
"Pulang," jawab Karina, menyambut tangan itu.
Mereka berjalan berdampingan menyusuri jalan yang mulai sepi. Penjual nasi goreng di tikungan melambai. Nenek pemilik kontrakan lama yang sedang duduk di teras menyapa dengan suara serak, "Selamat malam, Bu Karina." Lampu-lampu rumah menyala satu per satu.
Karina menoleh sekali ke belakang. Papan nama Karina Kitchen masih bercahaya di kejauhan. Sederhana, tanpa hiasan berlebihan. Namanya sendiri, di atas pintu yang ia buka dengan tangannya sendiri setiap pagi.
Di ujung jalan, lampu teras rumah mereka sudah menyala. Pohon jeruk purut kecil di sudut teras kini sudah setinggi lutut.
TAMAT