Senin pukul dua siang, ketika jam makan siang di Karina Kitchen mulai mereda, telepon restoran berdering. Ilyas yang mengangkat. Juru masak itu terdiam sebentar, lalu menutup gagang telepon dengan telapak tangan dan menoleh ke arah dapur.
"Bu, Pak Evan. Beliau minta bicara."
Karina mencuci tangannya sampai bersih, mengeringkannya dengan lap, lalu menerima gagang telepon itu sendiri. Vania yang berdiri di dekat kasir berhenti menghitung nota.
"Saya Karina."
"Rin," suara Evan terdengar serak di seberang sana. "Aku minta bertemu. Sekali saja. Tidak lewat siapa-siapa."
Karina diam sejenak. Ia bisa saja menolak. Akan tetapi, ia tahu, selama permintaan itu tidak dijawab langsung, keluarga itu akan terus mencari jalan lain. Lewat Vania, lewat Sandra, lewat pelanggan, lewat apa saja.
"Besok malam, sesudah restoran tutup. Pukul sembilan lewat sepuluh. Di sini, di lantai satu," katanya. "Vania ada di ruangan yang sama. Kalau Mas datang bersama orang lain, pertemuan tidak saya lanjutkan. Kalau batasnya dilanggar, saya yang mengakhiri."
"Besok malam. Aku datang sendiri."
Karina menutup telepon. Malamnya, ia mengirim pesan singkat pada Damar. Ia tidak meminta izin, karena ia tidak merasa perlu. Ia hanya tidak ingin calon suaminya mendengar kabar itu dari orang lain.
"Besok malam Mas Evan datang ke restoran. Saya yang menentukan jam dan tempatnya. Vania ikut menemani," tulisnya.
Balasan Damar datang beberapa menit kemudian. "Mbak yang menentukan jamnya?"
"Iya."
"Kalau begitu, saya percaya pada jam itu. Kabari saya kalau Mbak sudah sampai rumah," tulis Damar. Sesudah itu, tidak ada pertanyaan lagi.
Selasa malam, pukul sembilan lewat sepuluh, Evan berdiri di depan pintu kaca Karina Kitchen. Ia datang sendiri, seperti janjinya. Ia tidak memberi tahu ibunya. Ia bahkan tidak memberi tahu Almira, karena ia sendiri belum tahu harus bilang apa.
Septian membukakan pintu, lalu pamit pulang bersama pegawai lain. Lampu di lantai satu hanya menyala separuh. Kursi-kursi sudah dibalik di atas meja, kecuali dua kursi di meja dekat jendela. Vania duduk di meja kasir dengan buku bersampul biru terbuka di depannya.
Karina sudah duduk menunggu. Ia tidak menyajikan teh, hanya dua gelas air putih.
Evan duduk di seberangnya. Ia menatap perempuan itu lama. Karina tampak lebih segar dari terakhir kali ia lihat di lorong pengadilan. Pipinya sedikit lebih berisi. Matanya tidak lagi sembap.
"Aku salah, Rin," katanya akhirnya. "Aku tahu itu sekarang. Aku terbiasa nyaman di atas kerja orang lain. Kerjamu. Kesabaranmu. Aku tidak pernah menghitungnya, karena semua selalu sudah beres sebelum aku sempat bertanya."
Karina mendengarkan tanpa memotong.
"Rumah itu hancur sejak kamu pergi. Mama kacau. Aku kacau. Aku tidak bisa tidur." Evan mengusap wajahnya. "Rin, kalau kamu mau kembali, aku ...."
"Jangan teruskan kalimat itu, Mas."
Suara Karina tidak keras, tetapi cukup untuk membuat Evan berhenti.
"Di rumahmu ada perempuan yang sedang mengandung anakmu," lanjut Karina pelan. "Apa pun yang akan Mas tawarkan di ujung kalimat tadi, jangan pernah Mas ucapkan. Tidak di depan saya. Tidak di depan siapa pun."
Evan menunduk. Wajahnya memerah.
"Saya tidak rujuk, Mas. Saya tidak kembali ke rumah itu, dan saya tidak kembali membantu keluarga Wijaya. Permintaan Mas saya tolak."
"Sekali sepekan saja, Rin. Tidak perlu tinggal. Kamu datang, lihat rumah, bantu Almira mengatur. Satu halaman catatan saja. Mbok Sarni bingung, aku bingung ...."
"Itu tetap permintaan pulang, Mas. Hanya dipotong kecil-kecil." Karina menatapnya lurus. "Cari di rumahmu. Jangan cari di dapur saya."
Evan terdiam. Kalimat itu menancap seperti duri.
"Semua yang Mas cari ada di rumah itu," lanjut Karina, kali ini lebih lembut. "Daftar belanja bisa ditulis ulang. Nomor listrik bisa ditanyakan. Takaran gula bisa dipelajari. Yang tidak bisa dipelajari dari saya adalah cara menghargai orang yang sudah ada di samping Mas. Itu harus Mas pelajari sendiri, dari perempuan yang sekarang menunggu Mas pulang."
"Almira ...."
"Almira datang ke sini sesudah akad untuk minta maaf pada saya. Padahal dia juga dibohongi. Dia lebih jujur dari kita berdua, Mas." Karina berdiri. "Pulanglah, Mas."
Vania menutup buku bersampul biru itu. Bunyinya pelan, tetapi di ruangan yang sunyi itu terdengar seperti pintu yang ditutup.
Evan berdiri perlahan. Ia menatap Karina sekali lagi, seolah ingin mengingat wajah itu baik-baik. Lalu ia mengangguk dan berjalan keluar tanpa berkata apa-apa lagi.
Di dalam mobil, Evan tidak langsung menyalakan mesin. Ia menangis untuk pertama kalinya sejak pemakaman neneknya bertahun-tahun lalu. Tangis laki-laki dewasa yang terlalu lama menunda semuanya. Lalu ia menyeka wajahnya, menyalakan mesin, dan pulang.
Rumah itu sudah gelap ketika ia tiba. Hanya lampu dapur yang menyala. Almira duduk di kursi makan dengan segelas susu hangat di depannya, tidak bisa tidur karena punggungnya pegal.
Evan berdiri di ambang dapur. Ia menatap papan kecil di pintu kulkas yang masih kosong, lalu menatap istrinya.
"Mir."
Almira mengangkat wajah. Ini kalimat pertama yang ditujukan suaminya padanya setelah dua pekan lebih.
"Maaf," kata Evan pelan. "Untuk semuanya. Aku tidak akan minta kamu memaafkan malam ini."
Almira menatapnya lama. Ia tidak menjawab. Ia hanya menggeser kursi di sebelahnya sedikit, cukup untuk mengatakan bahwa suaminya boleh duduk.
Esok paginya, sebelum berangkat kerja, Evan mengambil spidol dan menulis di papan kecil itu. Beras. Gas. Galon. Sayur untuk tiga hari. Tulisan tangannya miring dan berantakan. Ia lalu menempelkan selembar kertas di bawah papan itu: jadwal belanja Sabtu pagi, ia sendiri yang berangkat. Jam pulang kantor, paling lambat pukul enam sore.
Ia menepatinya. Hari pertama, hari kedua, hari ketiga.
Kamis malam, Rita datang menginap seperti biasa. Saat makan malam, ia mulai lagi. "Perempuan itu sombong sekarang. Mentang-mentang mau jadi menantu orang kaya. Dulu juga dia yang bikin kamu ...."
"Ma, cukup." Evan meletakkan sendoknya. "Jangan hina Karina di rumah ini. Dia tidak salah apa-apa. Dan jangan pernah lagi bandingkan Almira dengan siapa pun. Dia istriku."
Rita ternganga. Almira menunduk, menyembunyikan matanya yang tiba-tiba basah.
Sabtu sore, Evan duduk bersama Almira di ruang tengah dengan selembar kertas dan pulpen. Mereka menyusun jadwal setelah bayi lahir nanti. Siapa yang bangun malam pada hari apa, siapa yang memandikan, siapa yang mengantar kontrol ke dokter. Evan mengambil giliran malam setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu. Mbok Sarni tidak ditambah jam kerjanya.
Di bagian paling bawah, Almira menambahkan satu baris dengan tulisan tangannya sendiri. Tidak ada perbandingan dengan siapa pun di depan anak ini.
Evan membacanya, lalu menandatangani di sebelahnya.
Kertas itu ditempel di pintu kulkas, di bawah papan daftar belanja. Almira memandanginya lama. Apakah ini awal dari sesuatu yang baru? Ataukah hanya jeda sebelum retakan berikutnya? Entahlah. Ia tidak mau berharap terlalu tinggi. Akan tetapi, untuk pertama kalinya sejak menikah, ia melihat tulisan tangan suaminya sendiri di rumah ini.