Teras rumah itu sepi. Hanya ada dua kursi rotan, sebuah meja kecil, dan pot-pot tanaman yang daunnya mulai menguning karena jarang disiram. Almira duduk di salah satu kursi rotan dengan punggung membungkuk. Kedua tangannya menutupi wajah. Bahunya berguncang.
Sandra duduk di kursi sebelahnya tanpa berkata apa-apa. Ia membiarkan perempuan muda itu menangis sampai napasnya mulai teratur. Dari dalam rumah, suara Rita masih terdengar samar, meninggi lalu merendah, entah sedang menyalahkan siapa.
Lama sekali, sampai matahari mulai condong ke barat, Almira akhirnya menurunkan tangannya. Matanya sembap, hidungnya merah. Ia menatap halaman yang rumputnya meninggi.
"Mbak Sandra tahu apa yang dikatakan Mama waktu datang ke indekosku dulu?" tanyanya dengan suara serak. "Mama bilang, aku tidak mengambil apa pun dari siapa pun. Aku justru menolong rumah tangga yang hampir mati."
Sandra diam mendengarkan.
"Aku percaya, Mbak. Bodoh sekali, tapi aku percaya. Ibuku baru keluar dari rumah sakit. Mama yang membayar semuanya. Mama bilang istri pertamanya sudah ikhlas. Mas Evan bilang dia tidak akan menghalangi. Aku sebenarnya ingin mendengar sendiri dari Mbak Karina. Aku bahkan sudah berdiri di seberang restorannya. Tapi aku tidak menyeberang." Almira menyeka air matanya dengan punggung tangan. "Aku takut jawabannya akan membuatku harus mundur. Jadi aku memilih percaya pada cerita yang paling mudah."
Ia menunduk, mengusap perutnya yang membulat. Bayi di dalam sana menendang pelan, seolah ikut merasakan sesak ibunya.
"Aku pernah ingin memperbaiki kaca yang sudah sangat retak. Hasilnya, justru retakan itu tidak pernah bisa menyatu dan tetap tercerai berai," isak Almira.
Tangisnya pecah lagi. Kali ini lebih pelan, lebih dalam, seperti tangis orang yang baru saja menyadari bahwa sebagian luka di hidupnya ia buka sendiri.
Sandra menghela napas panjang. Ia meraih tangan Almira dan menggenggamnya. Ia tidak membenci perempuan ini. Bagaimana bisa membenci seseorang yang juga dibohongi? Akan tetapi, ia juga tidak bisa berpura-pura bahwa Almira sepenuhnya tidak bersalah.
"Jadikan ini pelajaran, Mir. Kita tidak tahu bagaimana ke depannya. Yang penting kamu rawat dengan baik anak kamu dan suami kamu. Karina juga sepertinya sudah enggan mengenal kalian setelah apa yang kalian semua lakukan."
Almira mengangguk berkali-kali di tengah isaknya. Kalimat itu menyakitkan, tetapi jujur. Dan kejujuran, setelah berbulan-bulan hidup di antara kalimat-kalimat yang dipilih dengan licik, terasa seperti segelas air dingin di tengah kemarau.
"Mbak Karina tidak salah apa-apa," bisik Almira.
"Memang tidak." Sandra meremas tangannya sekali lagi. "Tapi kamu masih punya kesempatan untuk tidak mengulang kesalahan yang sama. Jangan biarkan dirimu jadi Karina yang kedua di rumah ini, Mir. Dia butuh delapan tahun untuk berani pergi. Kamu jangan menunggu selama itu untuk berani bicara."
Almira terdiam. Ia menatap Sandra lama, lalu menatap pintu depan yang masih terbuka separuh. Perlahan, ia menegakkan punggungnya. Ia mengusap sisa air mata di pipinya dengan ujung kerudung, merapikan bajunya, lalu berdiri sambil berpegangan pada sandaran kursi rotan.
"Mau ke mana, Mir?"
"Ke dalam, Mbak. Ada yang harus aku katakan."
Di ruang tengah, suasana masih kacau. Papa kembali duduk di kursi ujung dengan wajah kelabu. Vania memijat pelipisnya. Rita berdiri di depan Evan yang duduk di sofa dengan kepala tertunduk.
"Kamu jangan diam saja, Evan. Suruh istrimu naik, istirahat. Orang hamil jangan diajak mikir yang berat-berat," kata Rita. "Urusan Karina biar Mama yang cari jalan. Pasti ada caranya."
"Tidak perlu, Ma."
Semua orang menoleh. Almira berdiri di ambang pintu dengan mata merah, tetapi punggungnya tegak. Sandra berdiri di belakangnya.
"Kamu kenapa masih di bawah? Naik sana, istirahat," kata Rita dengan nada memerintah.
"Saya tidak akan naik, Ma. Saya akan berdiri di sini sampai saya selesai bicara." Almira melangkah masuk dan berhenti di tengah ruangan, cukup dekat agar semua orang mendengar dengan jelas. "Saya bukan pengganti Karina. Anak ini juga bukan."
Rita membuka mulut, tetapi Almira tidak memberinya kesempatan.
"Saya menikah dengan Mas Evan karena saya dibohongi. Saya sudah tahu itu sejak lama, dan saya tetap bertahan karena saya sudah mengucapkan akad di depan Allah. Tapi saya tidak menikah untuk menjadi versi Karina yang lebih mudah disuruh. Saya tidak mengandung anak ini supaya rumah ini punya alasan untuk memanggil perempuan lain pulang."
Ia menoleh pada suaminya. Evan masih duduk di sofa, menatapnya seolah baru pertama kali melihat perempuan itu.
"Mas, tadi aku bertanya bagaimana caranya supaya kamu mau bicara lagi denganku. Kamu menjawab dengan nama perempuan lain. Di depan keluargamu sendiri. Di depan anak ini." Suara Almira bergetar, tetapi kalimatnya utuh. "Kalau Mas ingin rumah tangga, rumah tangga itu ada di depan mata Mas. Bukan yang diminta kembali dari rumah orang. Dan jangan pernah pakai nama anak ini untuk memanggil siapa pun pulang. Dia cukup sebagai dirinya sendiri. Aku juga."
Hening. Kali ini lebih panjang dan lebih berat dari hening sebelumnya.
Rita duduk perlahan di lengan sofa. Wanita paruh baya itu tidak lagi menemukan kata untuk membalas. Vania menatap kakak iparnya dengan mata berkaca-kaca. Papa mengangguk sangat pelan, nyaris tak terlihat.
Evan menatap istrinya. Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Biasanya ia selalu punya jawaban, sekasar apa pun. Bentakan, alasan, kalimat yang dipilih supaya tidak terdengar bohong. Kali ini, tidak ada satu pun yang muncul di kepalanya.
Di depan istrinya sendiri, Evan Wijaya benar-benar tidak punya jawaban.
Wajahnya memerah, bukan karena marah, melainkan karena malu. Malu pada istrinya yang sedang mengandung. Malu pada ayahnya. Malu pada adik dan sepupunya. Malu pada dirinya sendiri yang baru saja menjadikan perempuan hamil di depannya sebagai tempat sampah untuk keinginan yang tidak pernah ia urus.
Almira tidak menunggu jawaban yang tidak akan datang. Ia berbalik dan naik ke lantai dua dengan langkah pelan, satu tangan berpegangan pada pegangan tangga, satu tangan lagi di bawah perutnya. Pintu kamar ia tutup pelan, nyaris tanpa suara.
Satu per satu tamu pulang. Sandra memeluk Vania di depan pagar. Papa menolak diantar dan memilih naik taksi sendiri, meninggalkan istrinya yang masih terpaku di sofa.
Malam itu, setelah Rita masuk ke kamar tamu, Evan membuka laci di bawah meja makan. Seikat kunci dengan gantungan kayu berbentuk ikan masih tergeletak di sana, persis seperti saat ia menyimpannya berbulan-bulan lalu. Ia menggenggam kunci itu lama sekali.
Esok pagi, ia akan menelepon restoran itu dengan tangannya sendiri. Ia harus mendengar jawabannya langsung, sekali saja, dari mulut Karina.