Kamis malam, Rita dan Evan berdiri di teras rumah Sandra. Rita yang memaksa. Evan ikut karena tidak punya tenaga lagi untuk menolak ibunya. Atau mungkin, jauh di dalam hatinya, ia memang masih berharap ada satu pintu yang belum tertutup.
Sandra membuka pintu dengan anak bungsunya di gendongan. Suaminya muncul di belakang, menyalami Rita dengan sopan, lalu membawa anak itu masuk. Sandra tidak mempersilakan tamunya duduk.
"Ada apa, Tante? Sudah malam."
"San, Tante minta tolong sekali ini saja." Rita meraih tangan keponakannya. "Kamu sahabat Karina. Bicara sama dia. Bilang Evan menyesal. Bilang dia masih bisa kembali sebelum terlambat. Pernikahan itu belum terjadi."
Sandra menarik tangannya perlahan. Ia menatap Evan yang berdiri di belakang ibunya dengan wajah kusut dan mata cekung.
"Van, kamu juga mau minta hal yang sama?"
"San, aku cuma mau bicara dengannya. Sekali saja." Suara Evan serak. "Bilang ke dia, aku mau bicara."
"Nggak, Van." Sandra menggeleng. "Nggak di rumahku, nggak di kantor, nggak juga lewat telepon. Karina sudah memilih. Aku nggak akan jadi jembatan untuk menariknya kembali ke tempat yang dulu menyakitinya."
"Kamu keponakan Tante atau bukan?" desis Rita.
"Justru karena aku keponakan Tante, aku malu, Tan." Sandra menatap wanita itu tanpa berkedip. "Selamat malam."
Pintu tertutup. Rita berdiri di teras dengan wajah merah padam. Evan sudah lebih dulu berjalan ke mobil.
Akan tetapi, Rita belum menyerah. Minggu siang, ia mengumpulkan seluruh keluarga di rumah Evan. Ia menelepon suaminya, menelepon Vania, bahkan menelepon Sandra sekali lagi dengan alasan ada urusan keluarga yang sangat penting. Sandra datang. Bukan untuk membantu, katanya pada Vania di depan pagar, melainkan untuk memastikan namanya tidak dipakai dalam rencana apa pun.
Ruang tengah rumah itu terasa sesak meski hanya diisi enam orang. Papa duduk di kursi paling ujung dengan wajah keruh. Vania duduk di sofa panjang, tasnya di pangkuan. Sandra memilih kursi dekat jendela. Almira duduk tegak di kursi makan yang ditarik ke ruang tengah, kedua tangannya bertumpu di atas perut. Evan berdiri di dekat jendela, memunggungi semua orang. Mbok Sarni menyajikan teh, lalu menghilang ke dapur ketika Rita berkata yang bicara hanya keluarga.
"Kita tidak bubar sebelum ada jalan keluar," Rita membuka pertemuan itu. "Karina mau menikah dengan orang lain. Evan tidak tenang. Rumah ini berantakan. Kalau kalian semua mau sedikit saja membantu, semua bisa kembali seperti dulu."
"Kembali seperti dulu yang mana, Ma?" tanya Vania pelan.
Rita mengabaikan pertanyaan itu. "Vania, kamu telepon Karina sekarang. Bilang Mama sakit. Dia pasti datang. Dia dari dulu selalu datang kalau Mama sakit."
"Nggak, Ma. Mama nggak sakit, dan aku nggak akan bohong atas nama Mama."
"Sandra, kamu antar surat dari Evan. Kamu nggak perlu bicara apa-apa."
"Surat yang aku antar tetap pesan yang aku bawa, Tante. Jawabanku sama seperti Kamis malam."
"Kalau begitu, kita semua datang ke restoran itu malam ini. Biar dia lihat keluarga ini serius."
"Itu bukan serius, Ma. Itu mempermalukan diri sendiri di tempat kerja orang," potong Vania. "Aku nggak akan bukakan pintu samping. Pegawai di sana juga nggak akan aku suruh menahan Mbak Karina."
Rita memukul lengan sofa. Wajahnya memerah. Ia menoleh pada satu-satunya orang yang belum bersuara sejak tadi.
"Evan! Kamu diam saja dari tadi. Bilang apa maumu, supaya orang-orang ini berhenti menutup semua jalan!"
Evan tetap memunggungi mereka. Bahunya kaku. Di luar jendela, matahari siang memanggang halaman yang rumputnya mulai meninggi karena Pak Man tidak lagi sempat memotongnya.
Almira menatap punggung suaminya. Sudah dua pekan laki-laki itu tidak mengucapkan satu kalimat utuh padanya. Dua pekan ia hidup bersama seseorang yang hanya mengangguk, menggeleng, lalu pergi. Dua pekan ia mengusap perutnya sendiri di tengah malam, ketika bayi di dalam sana menendang dan tidak ada yang bisa ia ajak berbagi kegembiraan kecil itu.
Ia tidak mau lagi duduk di ruangan ini sebagai hiasan, sementara ibu mertuanya menyusun rencana untuk memanggil perempuan lain pulang.
"Mas."
Suara Almira tidak keras, tetapi seluruh ruangan menoleh padanya. Rita mengerutkan dahi. Vania menahan napas. Sandra menegakkan punggung.
"Mas, apa yang harus aku lakukan agar kamu mau kembali bicara?"
Evan akhirnya berbalik. Ia menatap istrinya yang sedang mengandung, lalu ibunya, lalu adiknya, lalu sepupunya. Matanya merah. Wajahnya seperti orang yang sudah berhari-hari tidak tidur.
Kalimat yang keluar dari mulutnya bukan jawaban untuk Almira.
"Kembalikan Karina ke rumah ini."
Hening.
Kalimat pendek itu sukses membuat semua orang terkejut. Gelas teh di tangan Vania tidak jadi diangkat. Sandra memejamkan mata. Rita membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar, seolah ia sendiri tidak menyangka keinginannya akan terdengar seburuk itu ketika diucapkan terang-terangan. Dari ambang pintu dapur, Mbok Sarni yang sempat muncul karena mendengar suara meninggi berhenti melangkah.
Almira tidak mengulang pertanyaannya. Ia hanya duduk di sana, kedua tangan masih di atas perut, wajahnya pucat seperti kertas.
Vania yang pertama kali bersuara. "Mas," katanya dengan suara bergetar. "Mbak Karina nggak punya kewajiban pulang. Dia bukan barang yang dipinjam lalu bisa diminta kembali."
"Dan dia bukan milikmu lagi, Evan," tambah Sandra pelan. "Sejak hari kamu memilih mengucapkan ijab untuk perempuan lain, sejak itu juga kamu kehilangan hak untuk memanggilnya pulang."
Rita akhirnya menemukan suaranya. "Kalian ini kenapa? Evan cuma bilang apa yang dia rasakan!"
"Cukup, Rita."
Semua orang menoleh ke kursi paling ujung. Papa jarang sekali bicara dalam pertemuan keluarga. Selama ini ia lebih sering diam, menyerahkan semua urusan rumah pada istrinya. Kini laki-laki tua itu berdiri perlahan, bertumpu pada lengan kursi.
"Kita semua ikut mengambil dari dia," katanya. Suaranya berat, nyaris bergetar. "Kamu ambil uangnya, Rita, untuk arisan, untuk gengsi, untuk utang-utangmu. Evan ambil kesabarannya, delapan tahun. Aku ambil diamnya, karena aku melihat semua ini dan memilih tidak berbuat apa-apa. Dulu mamanya yang menolong keluarga ini waktu usahaku hampir bangkrut. Lalu anaknya kita peras sampai habis."
Ia menatap putranya. "Sekarang kamu mau mengambil lagi, Evan? Apa lagi yang tersisa untuk kamu ambil dari perempuan itu?"
Evan tidak menjawab. Ia tidak sanggup menatap ayahnya.
Almira berdiri pelan, berpegangan pada sandaran kursi. Perutnya yang besar membuatnya bergerak hati-hati. Ia tidak berkata apa pun. Ia berjalan melewati suaminya, melewati Rita, melewati semua orang yang menatapnya dengan iba, lalu membuka pintu depan dan keluar ke teras.
Sandra menatap pintu yang terbuka itu sejenak. Lalu ia meletakkan cangkir tehnya, berdiri, dan menyusul.