Kabar itu tiba di rumah keluarga Wijaya lewat jalan yang paling Rita kenal: grup percakapan ibu-ibu bekas arisan.
Bu Darmi lagi-lagi yang memulai. Keponakannya bekerja di bagian promosi Batara Corporation, dan kemarin sore keponakan itu bercerita bahwa satu kantor sedang heboh. Anak kedua pemilik perusahaan dikabarkan akan menikah dengan pemilik restoran langganan kantor mereka.
"Bu Rita, restoran yang dimaksud itu Karina Kitchen, kan? Punya mantan menantu Ibu?" tulis Bu Darmi, kali ini tanpa emotikon apa pun.
Rita membaca pesan itu di sofa ruang tengah rumah Evan. Tangannya gemetar. Ia tidak membalas. Ia langsung menelepon Vania dan menyuruh putrinya datang saat itu juga.
Vania datang sore harinya, setelah jam makan siang restoran usai. Ia masih memakai seragam kerja. Rita menyambutnya di ruang tengah dengan wajah tegang, sementara Almira duduk di kursi makan dengan perut yang sudah tampak membulat. Kandungannya memasuki bulan ketujuh.
"Benar Karina mau menikah lagi?"
"Mama dengar dari mana?"
"Jawab saja!"
Vania meletakkan tasnya di lantai. Ia tidak duduk. "Benar, Ma. Mbak Karina menerima lamaran Damar Wirabuana. Aku ada di sana waktu Mbak bilang."
Wajah Rita memucat. "Damar Wirabuana? Anak Anggi Batara?"
"Iya, Ma."
"Kamu harus telepon dia sekarang. Suruh dia ke sini. Mama mau bicara. Ini pasti cuma karena sakit hati sama Evan. Belum terlambat."
"Aku nggak akan telepon, Ma." Suara Vania tenang, tetapi tegas. "Mbak Karina bukan lagi bagian dari rumah ini. Dia sudah bercerai, sudah selesai masa idahnya, dan sudah memilih. Restoran tetap dia yang pegang. Aku tetap kerja di sana. Cuma itu yang bisa aku sampaikan."
"Kamu adiknya Evan atau adiknya Karina?"
"Aku adik Mas Evan, Ma. Justru karena itu aku nggak mau ikut menambah salahnya."
Vania mengambil tasnya kembali, mengangguk pada Almira dengan tatapan iba, lalu pamit. Rita terduduk di sofa. Ia membuka ponselnya dan mencari nama Damar Ajisaka Wirabuana. Foto-foto bermunculan. Seorang pemuda tampan berjas di acara peluncuran produk, berita tentang lini kopi baru Batara Corporation yang kini ia pimpin, foto bersama ayahnya di sebuah acara amal.
Rita menatap foto-foto itu lama sekali. Perempuan yang dulu ia sebut mandul, benalu, dan gagal, kini akan menjadi menantu keluarga konglomerat. Bagaimana bisa?
Pukul delapan malam, Evan pulang. Ia baru membuka sepatu ketika ibunya menyodorkan ponsel ke wajahnya.
"Kamu sudah dengar? Mantan istrimu mau menikah. Sama pengusaha muda yang kaya raya. Anak pemilik Batara!" Suara Rita meninggi. "Lihat ini. Lihat! Mama nggak habis pikir, Van. Perempuan itu ...."
Evan memandangi layar. Wajah pemuda di foto itu terasa familiar. Lorong menuju lift di lantai lima Batara Corporation. Pemuda berkemeja polos yang mendorong troli arsip dan menepi memberinya jalan. Ia bahkan tidak menoleh waktu itu.
"Jangan ada yang menelepon restoran itu," kata Evan pelan.
"Tapi, Van ...."
"Jangan ada yang menelepon restoran itu, Ma!" Untuk pertama kalinya, Evan membentak ibunya sendiri. Rita tersentak. Almira yang berdiri di ujung tangga memegangi pegangan kayu erat-erat.
Evan melewatkan makan malam. Ia keluar ke gazebo samping rumah dan duduk di sana sampai lewat tengah malam, menghabiskan sebungkus rokok yang sudah berbulan-bulan tidak ia sentuh.
Hari-hari berikutnya, Evan berubah menjadi bayangan. Ia berangkat sebelum subuh dan pulang setelah semua orang tidur. Ia makan sedikit, bicara lebih sedikit lagi. Di kantor, Rudi beberapa kali menegurnya karena melamun di tengah rapat. Di rumah, ia lebih sering duduk di gazebo, menatap kegelapan sambil menghisap rokok yang tidak pernah benar-benar ia nikmati.
Penyesalan itu datang perlahan, lalu sekaligus. Ia teringat pagi-pagi ketika kopinya sudah siap tanpa perlu ia minta. Ia teringat pelukan Karina yang dulu selalu bisa meredakan amarahnya. Ia teringat satu kalimat yang tidak pernah ia ucapkan, bahwa ibunya salah menyebut Karina benalu. Satu kalimat. Hanya itu yang dulu diminta Karina darinya.
Mengapa baru sekarang semua itu terasa begitu berharga?
Almira mengamati semua itu dalam diam. Lima hari. Enam hari. Tujuh hari. Pada malam kedelapan, ia tidak tahan lagi. Ia menunggu Evan di ruang makan sampai pukul sebelas, dengan sepiring nasi dan sayur yang sudah dingin.
"Mas, duduk sebentar. Aku mau tanya satu hal."
Evan berhenti di ambang pintu. Ia tampak lelah, matanya merah, kemejanya bau rokok. Ia menarik kursi dan duduk tanpa menyentuh piring di depannya.
Almira menatap suaminya lama. Tangannya mengusap perutnya yang membulat, seolah meminta kekuatan dari makhluk mungil di dalam sana.
"Kamu masih menginginkan Karina?"
Hening. Jam dinding besar di ruang tengah berdetak terlalu keras. Evan menatap meja. Ia bisa saja berbohong. Ia bisa saja memilih kalimat yang tidak bohong, seperti dulu. Akan tetapi, entah karena terlalu lelah, entah karena memang tidak sanggup lagi menyusun dusta, kalimat yang keluar dari mulutnya adalah kebenaran yang paling telanjang.
"Aku masih menginginkan Karina."
Almira memejamkan mata. Ia sudah menduga jawabannya. Akan tetapi, mendengarnya langsung tetap terasa seperti tersiram air dingin di tengah malam.
"Terima kasih sudah jujur, Mas," katanya pelan. "Setidaknya kali ini Mas tidak memilih kata-kata."
"Mir, aku ...."
"Tapi jangan gantung keinginan itu di rumah ini." Almira membuka matanya. Air mata menggenang, tetapi tidak jatuh. "Aku sedang mengandung anakmu. Aku tidak bisa hidup di rumah yang isinya laki-laki yang menunggu perempuan lain pulang. Putuskan, Mas, mau Mas apakan keinginan itu."
Evan tidak menjawab. Ia berdiri, meninggalkan piring yang tidak tersentuh, lalu naik ke lantai dua. Malam itu ia tidur di sofa ruang kerja kecil di samping kamar utama.
Sejak malam itu, Evan berhenti bicara kepada Almira. Diamnya bukan diam orang yang sedang marah. Ia seperti lampu yang dipadamkan begitu saja. Kalau Almira bertanya, ia menjawab dengan anggukan atau gelengan. Kalau Almira bercerita soal kandungannya, ia mendengarkan sambil menatap ponsel. Rumah dua lantai itu kembali dingin, sedingin dulu, ketika perempuan yang lain masih tinggal di sana.
Almira menghitung hari dengan jemarinya. Seminggu. Dua minggu. Ia mulai bertanya-tanya, apakah ini rasanya menjadi Karina selama bertahun-tahun?
Rita memperhatikan semua itu dari kamar tamu. Dua pekan ia melihat putranya berjalan di rumahnya sendiri seperti orang asing. Pada akhir pekan kedua, wanita paruh baya itu sudah menyusun rencana baru.
Kalau Vania tidak mau, masih ada satu orang lagi yang bisa menjembatani. Sandra.