Empat hari Karina menimbang. Selama itu, ia tetap bangun pukul lima, tetap berbelanja ke pasar bersama Mang Dadang, tetap berdiri di depan kompor sampai jam makan siang usai. Akan tetapi, pikirannya berkelana jauh setiap kali tangannya berhenti bergerak.
Rabu sore, ia pergi ke makam ayah dan bundanya. Sudah lama sekali ia tidak datang. Ia mencabuti rumput liar di atas pusara keduanya, menaburkan bunga, lalu duduk bersimpuh lama di antara dua batu nisan yang bersebelahan.
'Ayah, Bunda, Karina takut. Takut salah memilih lagi.'
Angin sore berembus pelan. Daun-daun kamboja berjatuhan di sekitar makam. Tidak ada jawaban, tentu saja. Akan tetapi, ketika pulang, Karina tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tidak akan menolak hanya karena takut, dan ia tidak akan menerima tanpa syarat.
Malamnya, ia mengirim pesan pada Damar. Pendek saja. Ia meminta bertemu hari Minggu pagi di restoran, sebelum jam buka.
Minggu pukul tujuh, Damar sudah berdiri di depan pintu kaca. Ia datang dua puluh menit lebih awal dan menunggu di trotoar tanpa mengetuk. Vania yang membukakan pintu sambil membawa sapu. Adik Evan itu sengaja datang pagi untuk menemani, lalu memilih menyibukkan diri di dapur, cukup dekat untuk terlihat dan cukup jauh untuk tidak ikut mendengar.
Karina menyajikan dua cangkir teh di meja dekat jendela. Ia duduk, merapikan kerudungnya, lalu menatap laki-laki di depannya tanpa basa-basi.
"Mas Damar, saya punya tiga syarat. Kalau Mas tidak sanggup satu saja, lebih baik kita berhenti di sini, dan saya tetap akan berterima kasih."
"Silakan, Mbak."
"Yang pertama. Saya tidak mau tinggal di rumah orang tua Mas, dan tentu saja tidak di rumah yang dulu. Kalau kita menikah, rumahnya kita pilih berdua dan kita bayar berdua, sesuai kemampuan kita. Bukan rumah pemberian siapa pun."
Damar mengangguk. "Saya setuju. Saya juga tidak mau tinggal di rumah Mama. Saya sudah dua puluh enam tahun."
Karina hampir tersenyum, tetapi ia menahannya. "Yang kedua. Karina Kitchen tetap saya kelola. Tidak dilebur ke Batara, tidak diganti namanya, tidak dipindahkan ke tangan siapa pun. Kalau suatu hari restoran ini tumbuh, ia tumbuh karena dapurnya sendiri."
"Itu juga yang saya inginkan. Restoran ini milik Mbak. Saya cuma pelanggan yang beruntung."
Karina menarik napas panjang. Ini bagian yang paling sulit. Bagian yang sudah ia ucapkan berkali-kali dalam kepala sejak empat hari lalu, dan setiap kali selalu membuat tenggorokannya tercekat.
"Yang ketiga." Suaranya sedikit bergetar. "Saya tidak menjanjikan kehamilan. Dokter sudah bertahun-tahun mengatakan kandungan saya bermasalah. Mungkin akan ada anak, mungkin juga tidak akan pernah ada. Saya tidak mau menikah dengan janji yang tidak bisa saya pegang. Dan saya tidak sanggup mengulang delapan tahun ditanya kapan hamil setiap kali ada acara keluarga."
Hening. Dari dapur, suara sapu Vania berhenti.
Damar tidak langsung menjawab. Ia menatap cangkir teh di depannya, seolah sedang memilih kalimat dengan sangat hati-hati. Ketika akhirnya ia mengangkat wajah, matanya tenang.
"Saya tidak membutuhkan janji itu, Mbak," katanya pelan. "Kalau suatu hari ada, kita syukuri berdua. Kalau tidak ada, niat saya tidak saya batalkan. Saya tidak sedang melamar sebuah rahim. Saya melamar Mbak."
Karina menunduk. Air matanya jatuh ke atas pangkuan.
"Dan satu lagi," lanjut Damar. "Kalau ada yang bertanya kapan, siapa pun dia, termasuk keluarga saya sendiri, yang menjawab saya. Mbak tidak perlu menjawab pertanyaan itu sendirian lagi."
Kalimat itu sederhana sekali. Hanya satu kalimat. Akan tetapi, selama delapan tahun, Karina menunggu kalimat semacam itu dari mulut suaminya dan tidak pernah mendapatkannya. Kini kalimat itu datang dari seorang laki-laki yang belum menjadi apa-apa baginya, di meja restorannya sendiri, pada pagi hari sebelum jam buka.
"Beri saya satu malam lagi, Mas," bisiknya.
"Satu malam, satu bulan, terserah Mbak."
Damar pamit tidak lama kemudian. Vania keluar dari dapur dengan mata merah, lalu memeluk Karina dari belakang tanpa berkata apa-apa.
Senin pagi, Damar datang lagi ke restoran membawa formulir pesanan Sabtu. Itu tugas terakhirnya sebelum menyerahkan meja administrasi pada staf pengganti. Karina menerimanya di meja kasir, menandatangani tanda terima seperti biasa, lalu menyerahkan salinannya.
"Mas Damar."
"Ya, Mbak?"
"Saya menerima lamaran Mas Damar."
Ica yang sedang menata sendok menjatuhkan seluruh isi nampan. Ilyas melongok dari pintu dapur. Vania menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Damar berdiri terpaku dengan selembar salinan formulir di tangan. Bibirnya bergerak, tetapi suaranya tidak keluar. Akhirnya ia hanya mengangguk berkali-kali, matanya basah.
"Terima kasih, Mbak," katanya serak. "Terima kasih."
Siang harinya, sebuah mobil berhenti di depan Karina Kitchen. Anggi dan Luka turun berdua. Mereka tidak lama, hanya duduk sebentar di ruangan Karina di lantai dua. Anggi memeluk Karina erat-erat, lebih erat dari pelukan mana pun sebelumnya.
"Terima kasih sudah mau menerima anak Mama yang keras kepala itu," bisiknya.
Luka berdeham. Laki-laki tua itu menatap dinding yang kosong, lalu menatap Karina dengan sungguh-sungguh. "Satu hal saja, Karina. Restoran ini tetap milikmu. Batara tidak akan mengambil apa pun, tidak akan menitipkan apa pun, tidak akan menambah nama siapa pun di papan depan. Kalau ada yang berani mencoba, termasuk Damar, kamu bilang ke Ayah."
"Terima kasih, Om."
"Ayah," koreksi Luka sambil tersenyum lebar. "Mulai sekarang, belajarlah memanggil Ayah."
Sepeninggal mereka, Karina turun ke dapur. Ia memanggil Vania, Ilyas, Ica, Mang Dadang, dan Septian. Ia menyampaikan kabar itu dengan singkat, lalu menambahkan satu hal yang menurutnya paling penting.
"Kunci dan kas tetap di saya dan Mbak Vania, seperti biasa. Jadwal kalian tidak berubah. Restoran ini tidak pindah ke mana-mana."
Para pegawai bertepuk tangan. Ica menangis. Ilyas mengangkat sutilnya tinggi-tinggi seperti piala.
Malam itu, di rumah kontrakannya, Karina menelepon sebuah nomor di Bandung. Om Haris Soeradja, adik almarhum ayahnya, satu-satunya keluarga dari pihak ayah yang masih dekat dengannya. Laki-laki tua itu mendengarkan dengan diam, lalu suaranya pecah.
"Om akan datang, Nak. Om yang akan menjadi walimu. Akhirnya ada yang benar-benar menjagamu."
Karina menutup telepon dan memandangi pohon jeruk purut di teras. Tiga syarat. Tiga jawaban. Semua dijawab tanpa ragu.
Akan tetapi, kabar baik di keluarga Batara selalu berjalan cepat. Pertanyaannya, berapa lama sampai kabar itu tiba di rumah keluarga Wijaya?