Sebulan berlalu. Tiga puluh porsi setiap Sabtu ternyata berjalan mulus. Dapur Karina Kitchen tidak kewalahan, karyawan gudang Batara puas, dan formulir yang ditulis Damar tidak pernah sekali pun dikembalikan.
Jumat pagi, Drajat mengetuk pintu ruangan Anggi dengan sebuah map tipis di tangan. Isinya hanya dua halaman. Laporan kerja Damar selama sembilan bulan di bagian administrasi, ditulis dengan bahasa yang kering dan lurus, seperti semua tulisan Drajat.
"Saya tidak biasa memuji orang, Bu," katanya sambil meletakkan map itu di meja. "Tapi anak Ibu sudah selesai belajar di meja saya. Kalau dia terus di sana, saya yang rugi. Dia lebih teliti dari separuh staf saya."
Anggi membaca dua halaman itu dua kali. Di bagian akhir, Drajat menulis satu kalimat dengan tangan. Ia sudah bisa memimpin, karena ia sudah tahu rasanya dipimpin.
Malam itu, keluarga Batara berkumpul untuk makan malam di rumah Anggi dan Luka. Rumah itu selalu ramai. Enam anak, beberapa menantu, cucu-cucu yang berlarian, dan Prabu bersama istrinya yang datang membawa puding. Damar duduk di ujung meja, di samping Wulan.
Setelah makan, Anggi mengetuk gelasnya pelan. Semua orang menoleh.
"Mulai bulan depan, Damar memimpin lini produk kopi," katanya. Wulan bersorak, Prabu bertepuk tangan, dan Damar hanya terpaku. "Tapi ada syaratnya, Mar."
"Apa, Ma?"
"Jabatan ini bukan hadiah karena kamu sudah berubah, dan bukan untuk membuatmu terlihat pantas di mata siapa pun." Anggi menatap putranya dengan sungguh-sungguh. "Kamu mendapatkannya karena laporan Pak Drajat. Jadi, jangan pernah ada yang mengaitkan jabatan ini dengan orang lain. Tidak di kantor, tidak juga di luar kantor. Paham maksud Mama?"
Damar paham. Wajahnya memerah, tetapi ia mengangguk mantap. "Paham, Ma. Saya minta waktu dua pekan untuk menyerahkan pekerjaan di administrasi dengan rapi."
"Itu baru anak Mama."
Sabtu malam, pukul sembilan lewat sepuluh, papan tutup sudah tergantung di pintu Karina Kitchen. Ica sedang mengepel lantai satu, Ilyas membersihkan kompor, Vania menghitung uang di kasir. Damar berdiri di trotoar depan dengan tangan kosong. Ia hanya mengenakan kemeja biru yang lengannya digulung sampai siku, seperti orang yang baru pulang kerja.
Vania yang lebih dulu melihatnya. Ia membuka pintu dan mempersilakan masuk sambil menahan senyum. "Mbak Karina di atas, Pak. Sebentar saya panggil."
Karina turun dengan rambut dicepol dan celemek di tangan. Ia mengajak Damar duduk di meja dekat jendela yang lampunya masih menyala, dalam jangkauan pandang para pegawai. Damar menunggu sampai Ica selesai mengepel dan masuk ke dapur sebelum mulai bicara.
"Mbak, saya mau menyampaikan dua hal. Yang pertama, mulai bulan depan saya memimpin lini kopi di Batara. Saya ingin Mbak tahu dari saya, bukan dari berita atau dari orang lain. Dan saya ingin Mbak tahu, jabatan itu tidak ada hubungannya dengan Mbak."
Karina mengangguk. "Selamat, Pak Damar. Pak Drajat pasti bangga."
"Yang kedua." Damar menarik napas panjang. Tangannya yang biasa tenang di atas formulir kini saling menggenggam di atas meja. "Saya serius, Mbak. Saya ingin menikahi Mbak, kalau Mbak berkenan. Bukan besok, bukan bulan depan. Kita bisa berjalan pelan-pelan menuju sesuatu yang tetap. Saya tidak akan meminta Mbak meninggalkan apa pun. Kerja Mbak tetap di restoran ini. Dapur ini tetap milik Mbak."
Karina terdiam. Dari dapur, terdengar suara piring yang hampir jatuh, lalu suara Ilyas menegur Ica pelan.
"Saya tidak meminta jawaban malam ini," lanjut Damar. "Saya hanya tidak mau Mbak menebak-nebak apa maksud saya. Mbak sudah terlalu lama hidup bersama orang yang membuat Mbak menebak."
Kalimat terakhir itu menghantam Karina lebih keras dari yang Damar sadari. Ia menunduk, menatap tangannya sendiri. Bekas cincin di jari manisnya sudah hilang, kulitnya kini sewarna dengan jari-jari lain. Kapan bekas itu menghilang? Ia bahkan tidak memperhatikan.
"Terima kasih sudah bicara terang-terangan," katanya akhirnya. "Tapi saya belum bisa menjawab apa pun malam ini."
"Saya tahu. Saya pamit, Mbak." Damar berdiri, mengangguk sopan pada Vania, lalu keluar.
Dari balik kaca jendela, Karina melihatnya memakai helm dan menyalakan sebuah motor kecil berwarna hitam. Sejak bekerja di administrasi, Damar memang meninggalkan mobil mewahnya di garasi rumah orang tuanya. Katanya, staf administrasi tidak perlu menyetir sendiri ke kantor dengan mobil yang harganya bisa membeli tiga restoran.
"Mbak," bisik Vania yang tiba-tiba sudah berdiri di samping kursinya. "Itu tadi lamaran?"
"Itu bahan, Van. Bukan jawaban."
"Bahan yang bagus, Mbak."
Karina tidak membalas. Ia naik ke ruangannya, duduk di depan dinding kosong, dan membiarkan ketakutannya sendiri muncul satu per satu. Ia tiga puluh tahun. Dokter sudah bertahun-tahun mengatakan kandungannya bermasalah. Anggi adalah ibu enam anak. Bagaimana jika suatu hari keluarga itu juga mulai bertanya kapan? Bagaimana jika kalimat yang sama, kapan hamil, kembali menghantuinya dari mulut yang berbeda?
Ia tidak sanggup mengulang delapan tahun itu.
Pagi harinya, setelah salat subuh, Karina mengetik pesan pendek. Ia menghapusnya dua kali sebelum akhirnya menekan tombol kirim.
"Saya butuh waktu untuk menimbang, Mas Damar," tulisnya.
Di seberang kota, Damar membaca pesan itu sambil duduk di tepi ranjang. Ia membacanya berulang kali, terutama dua kata di ujungnya. Mas Damar. Bukan lagi Pak Damar.
Jarinya sempat mengetik, saya akan menunggu. Lalu ia menghapusnya. Kalimat itu terasa seperti tagihan yang disamarkan.
"Silakan, Mbak. Ambil waktu yang Mbak perlukan," tulisnya akhirnya.
Malam itu juga, Damar meminta waktu bicara dengan kedua orang tuanya dan Prabu di ruang kerja ayahnya. Ia menceritakan semuanya dengan jujur. Niatnya, jawaban Karina, dan permintaan waktu itu.
Prabu bersiul pelan. Anggi diam. Luka yang lebih dulu bicara, tanpa senyum lebar seperti biasanya.
"Ayah cuma minta satu hal, Nak. Kita semua tahu apa yang dialami Karina. Jangan sampai ada satu pun dari keluarga ini yang mendekatinya karena kasihan." Laki-laki tua itu menatap putranya lekat-lekat. "Belas kasihan yang menyamar jadi lamaran itu menghina, Mar. Perempuan itu tidak butuh diselamatkan. Dia sudah menyelamatkan dirinya sendiri."
"Saya tidak kasihan padanya, Yah. Saya menghormatinya."
"Bagus. Lalu kalau dia menolak?"
"Saya tidak akan menyuruh siapa pun di keluarga ini mengubah tidak menjadi ya," jawab Damar tegas. "Kontrak Batara dengan restorannya tetap jalan. Dan Mama, Papa Prabu, tolong jangan bantu apa pun. Biar saya sendiri."
Anggi akhirnya tersenyum, lalu meraih tangan suaminya. Prabu mengangkat kedua tangan seperti orang menyerah.
"Baiklah, baiklah. Papa Prabu tutup mulut," katanya.
Semua tertawa. Akan tetapi, di dalam hatinya, Damar tahu bagian tersulit belum dimulai. Menunggu seseorang yang pernah dilukai bukan perkara sabar semata. Ia harus siap menerima jawaban apa pun, termasuk jawaban yang paling tidak ia inginkan.