Sepekan setelah percakapan di kursi tunggu itu, sebuah pesan masuk ke ponsel Karina pukul tujuh pagi.
"Selamat pagi, Mbak Karina. Ini Damar. Saya hanya ingin bertanya, apakah Mbak keberatan nomor ini saya simpan untuk urusan di luar kantor? Kalau keberatan, cukup balas satu kata, dan pesan ini tidak akan ada lanjutannya," tulis Damar.
Karina membaca pesan itu di dapur kontrakannya sambil menunggu air mendidih. Ia membacanya dua kali. Kalimatnya kaku seperti surat dinas, dan entah mengapa justru itu yang membuatnya tersenyum.
"Silakan disimpan. Tapi saya belum menjawab apa pun, Pak Damar," balas Karina.
"Saya tahu, Mbak. Terima kasih," jawab Damar singkat. Sesudah itu, tidak ada pesan lagi sepanjang hari.
Kamis siang, Karina berjalan kaki ke kantor Batara Corporation. Bagian umum perusahaan itu meminta pertemuan soal pesanan baru, dan Drajat menyarankan agar pembicaraan dilakukan di ruang administrasi supaya semua formulir bisa langsung dicocokkan. Karina datang lebih awal sepuluh menit. Ia tidak suka membuat orang menunggu.
Ruang administrasi itu lebih sempit dari yang ia bayangkan. Rak arsip berjajar sampai langit-langit. Di meja paling ujung, Damar sedang menunduk di depan selembar formulir. Wajahnya serius. Ia mengambil lembar itu, membaca ulang, lalu berjalan ke meja Drajat.
"Pak, saya salah tulis tanggal untuk pengiriman pekan depan. Seharusnya tanggal dua puluh, saya tulis dua puluh satu," katanya tanpa berbelit. "Lembar yang salah sudah saya tandai batal. Ini lembar baru, tiga salinan."
Drajat memeriksa lembar baru itu, lalu mengangguk. "Siapa yang menemukan salahnya?"
"Saya sendiri, Pak. Waktu mencocokkan dengan jadwal gudang."
"Bagus. Simpan lembar yang batal di arsip, jangan dibuang."
Karina yang berdiri di ambang pintu menyaksikan semua itu tanpa bersuara. Laki-laki yang dulu mengembalikan berkas orang hanya karena salah menaruh titik, kini mengakui salahnya sendiri di depan atasannya, tanpa menunggu ketahuan. Apakah ini sungguhan, atau hanya karena ia tahu sedang diperhatikan? Karina belum tahu. Akan tetapi, ia mencatat itu di kepalanya.
"Lho, ini Karina, ya?"
Suara riang itu datang dari belakang. Seorang laki-laki paruh baya berkemeja batik melangkah masuk dengan senyum lebar. Karina mengenalinya dari foto-foto Batara Corporation di media. Prabu, kakak Anggi.
"Saya sering dengar nama kamu dari Anggi," kata Prabu sambil menjabat tangan Karina dengan hangat. Ia lalu menoleh pada keponakannya. "Mar, kenapa nggak dikenalkan baik-baik? Ajak makan malam di rumah. Biar Papa Prabu yang bilang ke Mama dan Ayahmu."
Wajah Damar memerah sampai ke telinga. Beberapa staf administrasi berpura-pura sibuk dengan layar mereka.
"Papa Prabu, tolong," kata Damar pelan tetapi tegas. "Saya tidak mau memakai nama keluarga untuk urusan saya sendiri. Bu Karina datang ke sini untuk urusan pesanan."
Prabu terdiam sejenak, lalu tertawa dan menepuk bahu keponakannya. "Wah, sekarang kamu sudah bisa menolak Papa Prabu. Bagus, bagus." Ia mengangguk pada Karina. "Silakan dilanjutkan. Saya cuma numpang lewat."
Pertemuan dimulai di meja kecil di sudut ruangan. Drajat membuka map berisi permintaan dari bagian umum. Batara ingin menyediakan makan siang untuk karyawan gudang dan produksi. Seratus kotak setiap hari kerja, mulai bulan depan, dengan kontrak tetap selama setahun.
"Ini peluang besar, Mbak," kata Damar setelah membaca angka itu. "Karina Kitchen bisa jadi pemasok tetap. Pemasukan pasti setiap bulan. Restoran bisa tumbuh."
"Restoran saya bisa tumbuh, atau bisa tumbang," jawab Karina tenang. Ia mengeluarkan buku catatannya. "Dapur saya sanggup delapan puluh porsi untuk layanan malam, dengan empat juru masak inti. Siang hari, dua belas meja tamu tetap harus dilayani. Kalau ditambah seratus kotak setiap hari kerja, persiapan harus mulai pukul empat pagi. Rasa akan turun, atau pegawai saya yang sakit. Biasanya dua-duanya."
"Bisa tambah orang, Mbak."
"Orang baru butuh berbulan-bulan untuk diajari, Pak Damar. Saya tidak mau pelanggan yang sudah lima tahun setia makan masakan yang belum teruji."
Damar mengerutkan dahi. Ia menarik buku catatan Karina, lalu mengambil pensil dari sakunya. Ia menghitung di sudut kertas. Jumlah juru masak, jam persiapan, jumlah tungku, jam serah terima. Satu menit. Dua menit. Drajat menonton dengan tangan terlipat di dada.
Akhirnya Damar meletakkan pensilnya. "Saya salah hitung. Angka Mbak Karina yang benar. Kalau dipaksakan, dapur akan kewalahan dalam dua pekan."
Drajat tersenyum tipis. Itu kedua kalinya dalam sehari Damar mengakui salah di depannya.
"Lagi pula, perjanjian kerja sama kita punya satu klausul, Pak," tambah Karina. "Saya berhak menolak atau menggeser pesanan yang melebihi kemampuan dapur, dengan pemberitahuan lebih dulu. Bu Anggi sendiri yang menuliskannya dengan tangan di halaman terakhir."
"Dan saya tidak akan memintamu melanggarnya."
Anggi berdiri di ambang pintu. Rupanya Prabu tidak benar-benar numpang lewat. Wanita itu masuk dan duduk di kursi kosong di samping Karina.
"Tapi izinkan saya menawarkan sesuatu," lanjut Anggi. "Batara bisa membelikan kompor besar dan rak pendingin untuk dapurmu. Kami juga bisa membayar upah dua juru masak tambahan selama setahun. Dengan begitu, seratus kotak itu bukan masalah."
Damar menoleh pada mamanya dengan wajah tidak nyaman. Karina diam sejenak. Tawaran itu besar. Terlalu besar. Dulu, mungkin ia akan menerimanya dengan berlinang air mata, seperti saat pertama kali wanita ini memeluknya di lantai satu restorannya.
"Terima kasih banyak, Bu. Saya tahu Ibu tulus," kata Karina akhirnya. "Tapi saya tidak mau utang budi dipakai sebagai modal. Kalau dapur saya tumbuh, saya ingin ia tumbuh dengan kaki saya sendiri. Supaya kalau suatu hari kerja sama kita berakhir, restoran saya tidak ikut roboh."
Anggi menatapnya lama. Lalu senyumnya mengembang, senyum yang sama seperti hari pertama mereka bertemu. "Tawaran saya tarik kembali. Lalu, berapa yang sanggup kamu kerjakan?"
"Sabtu saja dulu, Bu. Tiga puluh porsi, dengan menu yang sudah ada. Kita lihat sebulan. Kalau dapur kuat, kita bicara lagi."
"Sepakat." Anggi menoleh pada putranya. "Damar, kamu yang tulis formulirnya."
"Baik, Ma."
Pertemuan selesai. Drajat kembali ke mejanya, Anggi kembali ke ruangannya. Damar mengantar Karina sampai lobi sambil membawakan map yang sebenarnya tidak berat sama sekali.
Ponsel Damar bergetar ketika mereka melewati meja resepsionis. Nama Mama tertera di layar. Damar mengangkatnya sambil tetap berjalan.
"Mar, kamu nggak mau Mama bantu bicara sama Karina? Mama lihat kamu serius."
"Jawaban dia bukan urusan saham, Ma," jawab Damar pelan, lalu menutup telepon dengan sopan.
Karina mendengar kalimat itu. Ia berhenti di depan pintu kaca lobi dan mengambil mapnya dari tangan Damar.
"Pak Damar, saya mau jujur. Hari ini saya sedang menguji perbuatan, bukan kata-kata."
"Saya tahu, Mbak." Damar mengangguk. "Silakan uji selama yang Mbak perlukan."
Karina melangkah keluar ke trotoar yang panas. Ia tidak menoleh. Akan tetapi, sepanjang jalan pulang ke restoran, ia mengingat satu pemandangan: seorang pemuda yang menandai lembar salahnya sendiri dengan kata batal, lalu menulis ulang dari baris pertama tanpa ada yang menyuruh.