Delapan bulan sudah Damar duduk di meja sempit di samping rak arsip. Kursi plastiknya sudah berganti dengan kursi kayu bekas ruang rapat. Komputer tuanya sudah dua kali masuk bagian IT, dan dua kali pula ia sendiri yang membawanya. Ia hafal nama petugas kebersihan di lantainya. Ia makan siang di kantin bersama staf lain, dan ia tidak lagi menyuruh orang mengulang formulir hanya karena salah menaruh titik.
"Kakakku sekarang hafal nama semua OB," goda Wulan suatu siang, ketika saudara kembarnya itu mampir membawa bekal dari rumah. "Mama sampai heran. Katanya kamu jarang marah-marah lagi di meja makan."
"Aku capek marah, Lan. Ternyata kerja itu lebih capek," jawab Damar sambil membuka kotak bekal. Wulan tertawa, tawa ramah yang selalu membuat orang di sekitarnya ikut tersenyum.
Ada satu hal lain yang berubah, dan Damar tidak menceritakannya pada siapa pun. Setiap kali ada formulir untuk Karina Kitchen, ia sendiri yang mengantarnya. Drajat tidak pernah bertanya. Laki-laki tua itu hanya mengangkat sebelah alis setiap kali Damar berdiri dengan map cokelat di tangan, bahkan sebelum diperintah.
Damar ingat hari ketika ia naik ke lantai dua restoran itu untuk meminta tanda tangan, beberapa bulan lalu. Dinding ruangan Karina yang dulu penuh foto mendadak kosong. Hanya tersisa paku-paku kecil dan bekas persegi di cat dinding. Jari manis perempuan itu pun sudah polos. Seminggu kemudian, di pantry, ia mendengar Sandra bercerita pelan pada Erna. Perceraiannya sudah diputuskan. Suaminya menikah lagi.
Damar tidak bertanya apa pun waktu itu. Ia hanya menghitung. Mamanya pernah bilang, ada masa yang harus dihormati sebelum seorang perempuan yang baru bercerai boleh didekati. Bukan karena aturan semata, tetapi karena hati orang perlu waktu untuk berhenti berdarah.
Ia menunggu. Lebih sabar dari yang pernah ia kira mampu ia lakukan.
"Kamu naksir Bu Karina, ya?" tebak Teddy suatu sore, ketika mereka berdua lembur merapikan arsip rapat tahunan.
Damar tidak menjawab. Telinganya memerah.
"Astaga, benar." Teddy tertawa kecil. "Gampang, Mar. Pakai nama Bu Anggi saja. Bikin undangan resmi makan malam keluarga Batara, pakai kop surat perusahaan. Siapa yang berani menolak?"
"Itu jalan yang memakai kekuasaan, Ted." Damar menutup ordner di tangannya. "Aku sudah cukup lama berjalan di jalan itu. Hasilnya, aku duduk di sini."
Teddy berhenti tertawa. Ia menatap bekas atasannya itu lama, lalu mengangguk pelan. Entah sejak kapan, anak bos yang dulu menakutkan itu berubah menjadi seseorang yang bisa ia hormati.
"Lalu kamu mau bagaimana?" tanya Teddy akhirnya.
"Bertanya," jawab Damar sambil memasukkan ordner terakhir ke rak. "Langsung ke orangnya. Kalau dia bilang tidak, ya sudah. Setidaknya dia menjawab pertanyaanku, bukan pertanyaan Mama atau perusahaan."
Kamis sore, Damar mengantar perubahan jumlah peserta rapat koordinasi. Empat puluh dua menjadi empat puluh orang, karena dua peserta dari kantor cabang batal datang. Karina menerimanya di meja dekat kasir, mencocokkan angka itu dengan buku catatannya, lalu memanggil Ilyas untuk mengurangi bahan.
"Sudah, Pak Damar. Empat puluh kotak, serah terima seribu seratus," kata Karina sambil menandatangani tanda terima.
Biasanya Damar langsung pamit sesudah itu. Sore ini, ia menyerahkan salinannya pada Ica, lalu kembali duduk tanpa map di tangan.
"Bu Karina, boleh saya bertanya satu hal yang bukan urusan kantor?"
Karina meletakkan pulpennya. "Silakan."
"Saya mendengar dari rekan-rekan di kantor bahwa Ibu sudah tidak bersuami. Saya tidak mau percaya pada cerita orang. Saya ingin mendengar dari Ibu sendiri."
Pertanyaan itu diucapkan dengan sopan dan serius, seperti orang yang sedang mencocokkan data sebelum menandatangani sesuatu. Karina menatap pemuda di depannya beberapa detik sebelum menjawab.
"Benar. Perceraian saya sudah diputuskan beberapa bulan lalu."
Damar mengangguk pelan, seolah menerima laporan yang sudah ia periksa berkali-kali. Ia menarik napas, lalu bicara dengan suara yang lebih rendah dari biasanya.
"Kalau begitu, saya minta izin untuk menghubungi Ibu secara pribadi. Bukan sebagai staf Batara, bukan pula sebagai anak siapa pun. Saya ke sini sebagai saya." Ia menatap Karina lurus. "Kalau Ibu menolak, pesanan Batara tetap jalan seperti biasa. Saya tetap mengantar berkas ke sini, dan saya tidak akan bertanya lagi."
Vania yang sedang menghitung uang di kasir menjatuhkan selembar uang lima ribuan ke lantai. Ica buru-buru masuk ke dapur dengan wajah merah, seolah ia sendiri yang baru saja ditanya.
Karina tidak langsung menjawab. Ia memandangi pemuda itu. Delapan bulan lalu, laki-laki yang sama menabrak bahunya di trotoar depan, lalu menyuruhnya memakai mata kalau berjalan. Sekarang laki-laki itu duduk di kursi tunggu restorannya, meminta izin dengan sopan untuk sesuatu yang bahkan belum berani ia namai.
"Pak Damar, Anda tahu umur saya?"
"Tiga puluh. Saya dua puluh enam. Saya bisa berhitung, Bu."
"Anda juga tahu siapa Anda. Putra pemilik perusahaan yang menjadi rekanan terbesar restoran saya."
"Justru karena itu saya bertanya terang-terangan di sini, di depan Mbak Vania dan pegawai Ibu, bukan lewat Mama atau kop surat perusahaan." Damar berhenti sejenak. "Dan kalau bukan sedang urusan kantor, bolehkah saya memanggil Mbak Karina?"
Karina hampir tersenyum. Hampir. "Panggilan bukan jawaban, Pak Damar. Silakan saja."
"Lalu jawabannya?"
"Jawaban saya belum ada hari ini."
Damar mengangguk, dan senyumnya muncul. Senyum kecil, nyaris tidak kelihatan, tetapi tulus. "Itu sudah lebih dari cukup, Mbak. Terima kasih sudah mau mendengar."
Ia berdiri, merapikan kemejanya, lalu pamit dengan sopan pada Vania dan Ica yang mengintip dari pintu dapur. Ia keluar tanpa menoleh ke belakang, seolah takut kalau menoleh, ia akan meminta lebih dari yang pantas ia minta hari ini.
Begitu pintu tertutup, Vania langsung menghampiri. "Mbak! Itu tadi apa?"
"Itu pertanyaan, Van. Bukan jawaban." Karina menutup buku catatannya. "Dan bukan undangan."
"Tapi Mbak nggak bilang tidak."
Karina tidak menanggapi. Ia naik ke ruangannya dan duduk di kursi kerja, menghadap dinding yang kini kosong. Ia sendiri tidak tahu mengapa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
Malam itu, di teras rumah kontrakannya, Karina memandangi ponsel yang tergeletak di pangkuan. Nomornya tercatat di formulir pemasok Batara. Damar pasti bisa menemukannya dengan mudah. Akan tetapi, sampai larut malam, ponsel itu tetap diam.
Laki-laki itu benar-benar menunggu izin.
Karina meletakkan ponselnya dan menatap pohon jeruk purut kecil di sudut teras. Jawaban saya belum ada hari ini. Belum. Bukan tidak.
Sejak kapan ia mulai membedakan dua kata itu?