Lebih dari tiga bulan Karina tidur di atas kasur lipat. Punggungnya mulai sering pegal, dan Vania sudah berkali-kali mengomel soal itu. Akhirnya, pada pertengahan bulan, Karina menandatangani perjanjian sewa sebuah rumah kecil di gang belakang restoran.
Rumah itu hanya punya dua kamar, satu dapur sempit, dan teras selebar dua langkah. Catnya krem pudar, jendelanya menghadap tembok tetangga. Akan tetapi, letaknya hanya lima menit berjalan kaki dari Karina Kitchen, dan pemiliknya, seorang nenek yang tinggal bersama cucunya di ujung gang, langsung menyukai Karina sejak pertama bertemu.
Septian dan Mang Dadang membantu mengangkut barang pada hari Minggu. Tidak banyak. Satu koper, beberapa kardus buku, ranjang bekas yang dibeli dari kenalan Ilyas, kompor dua tungku, dan sebuah pot berisi pohon jeruk purut kecil hadiah dari Ica.
"Biar Ibu nggak usah beli daun jeruk lagi ke pasar," kata gadis asal Garut itu sambil tersipu.
Malam pertama di rumah itu, Karina memasak nasi goreng untuk dirinya sendiri di dapur yang sempit. Ia makan sambil duduk di lantai teras, ditemani suara jangkrik dan televisi tetangga. Lalu ia memandangi seikat kunci baru di telapak tangannya. Kunci pagar, kunci pintu depan, kunci kamar. Kunci rumah yang hanya miliknya.
Mengapa benda sekecil ini terasa begitu berat sekaligus begitu ringan?
Beberapa hari kemudian, pukul sebelas siang, Rita datang ke Karina Kitchen. Ia memesan meja di lantai satu, memesan rendang dan es teh, lalu meminta Ica memanggilkan pemilik restoran. Wajahnya berseri-seri, berbeda sekali dengan wajah merah padam di lorong pengadilan.
Karina turun dengan celemek masih terpasang. Ia tidak duduk.
"Ada yang bisa saya bantu, Bu Rita? Rendangnya kurang pedas?"
"Rendangnya enak, seperti biasa." Rita menyesap es tehnya pelan-pelan. "Mama, eh, saya cuma mau kasih kabar. Almira hamil. Baru beberapa bulan menikah, langsung isi. Dokter bilang kandungannya sehat."
Ica yang sedang membersihkan meja sebelah berhenti bergerak. Vania di belakang kasir menunduk, pura-pura menghitung nota.
"Alhamdulilah. Saya ikut senang untuk Almira, Bu," jawab Karina tulus. "Semoga ibu dan bayinya sehat sampai lahiran."
Rita tampak kecewa karena jawaban itu terlalu tenang. Ia meletakkan gelasnya dengan sedikit keras.
"Kamu lihat sendiri, kan? Masalahnya bukan di Evan. Perempuan itu berhasil kalau kelihatan hamil. Kalau tidak, ya, mau secantik apa, mau sekaya apa, tetap saja gagal."
Kalimat itu dulu bisa membuat Karina menangis semalaman. Dulu, ia akan menunduk, meminta maaf entah untuk apa, lalu menelan obat dari sang mertua dengan harapan yang semakin tipis. Siang ini, ia hanya menatap wanita paruh baya di depannya dengan mata yang jernih.
"Saya menolak ukuran Ibu," katanya pelan, cukup pelan agar tamu lain tidak mendengar, tetapi cukup jelas agar Rita tidak bisa pura-pura salah dengar. "Saya tidak berhasil atau gagal karena perut saya, Bu. Selama delapan tahun saya bekerja, membayar, merawat, dan menjaga nama keluarga Ibu. Kalau semua itu tetap Ibu sebut gagal, itu ukuran Ibu sendiri. Bukan ukuran saya."
Rita membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
"Rendang dan es tehnya tidak usah dibayar. Anggap saja ucapan selamat dari saya untuk Almira," lanjut Karina. "Saya permisi, Bu. Dapur sedang ramai."
Ia berbalik dan masuk ke dapur. Rita duduk sendirian di depan piring rendang yang mendadak terasa hambar. Tidak lama kemudian, ia pergi tanpa menghabiskan makanannya.
Vania menyusul ke dapur. Karina sedang mengaduk santan di panci besar. Matanya kering, tetapi tangannya sedikit lebih kencang menggenggam sendok kayu.
"Mbak nggak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja, Van." Karina tersenyum tipis. "Dulu aku pikir hidupku cuma bisa dinilai dari satu hal. Sekarang aku tahu, keberhasilanku tidak diukur dari situ."
Sabtu pagi pekan itu, Karina berdiri di depan cermin kamar kontrakannya dengan toga hitam yang dipinjam dari kampus. Dua tahun ia kuliah jarak jauh secara diam-diam. Ia mengerjakan tugas di meja kantornya setelah restoran tutup, menulis tesis di sela menunggu Evan pulang larut malam, dan mengikuti ujian daring dari kamar kecil di lantai dua restoran pada pekan-pekan paling buruk dalam hidupnya.
Tidak ada yang tahu, kecuali Vania dan Sandra. Hari ini, hanya mereka berdua pula yang datang.
Aula kampus penuh sesak. Vania membawa ketiga anaknya yang memakai baju terbaik mereka. Sandra membawa buket bunga mawar putih dan kamera milik suaminya. Ketika pembawa acara menyebut nama Karina Soeradja, Magister Manajemen, dengan predikat pujian, Vania berteriak paling keras di antara para keluarga wisudawan. Anak bungsunya ikut bertepuk tangan meski tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Karina melangkah ke panggung dengan lutut gemetar. Ketika rektor memindahkan tali toga di kepalanya, ia teringat ayah dan bundanya. Andai mereka masih hidup, apakah mereka akan bangga?
'Ayah, Bunda, Karina sudah sampai.'
Sementara itu, di grup percakapan ibu-ibu yang dulu berarisan bersama, sebuah video pendek diunggah oleh Bu Darmi. Anak sulungnya diwisuda di aula yang sama pagi itu. Di detik kedua puluh, nama Karina Soeradja terdengar jelas, disusul sosok perempuan bertoga yang menunduk hormat di atas panggung.
"Bu Rita, ini mantan menantunya, ya? Hebat sekali, lulus magister dengan pujian. Katanya juga punya restoran sendiri, ya?" tulis Bu Darmi, lengkap dengan emotikon tepuk tangan.
Rita membaca pesan itu di ruang tengah rumah Evan. Ia memutar video itu berkali-kali. Wajahnya pucat. Perempuan yang dulu ia sebut benalu, yang katanya tidak pernah bekerja dan hanya menumpang hidup, ternyata diam-diam menyelesaikan kuliah magister. Kapan? Bagaimana? Mengapa tidak ada seorang pun di keluarga ini yang tahu?
"Van," panggil Rita dengan suara aneh. "Kamu tahu Karina kuliah lagi?"
Evan yang sedang membaca berkas di sofa mengangkat wajah. Ia menatap layar ponsel ibunya. Perempuan bertoga di video itu tersenyum dengan cara yang sudah lama tidak ia lihat.
Ia teringat malam-malam ketika ia pulang larut dan mendapati Karina masih terjaga di meja makan dengan laptop dan tumpukan buku. Waktu itu ia mengira istrinya sedang menghitung pembukuan restoran. Ia tidak pernah bertanya. Ia bahkan pernah membentak karena lampu ruang makan mengganggu tidurnya.
"Nggak, Ma," jawab Evan pelan. "Aku nggak tahu."
Di lantai atas, Almira yang mendengar percakapan itu dari ujung tangga memegangi perutnya yang belum tampak membesar. Delapan tahun bersama, dan suaminya tidak tahu istrinya sedang kuliah. Lantas, apa yang akan suaminya ketahui tentang dirinya delapan tahun lagi?