Akta cerai itu terbit dua pekan setelah putusan. Rita tidak menunggu lama. Belum sepekan kemudian, ia sudah mendaftarkan anaknya ke KUA. Katanya, pernikahan yang tidak tercatat itu memalukan. Bagaimana kalau ada cucu nanti? Bagaimana mengurus akta kelahirannya?
Akad kedua itu jauh lebih sederhana daripada yang pertama. Hanya ada penghulu, dua saksi, Paman Harun yang kembali datang dari Purworejo, dan kali ini Ibu Halimah ikut serta. Wanita bertubuh kecil itu memeluk putrinya lama sekali setelah ijab diucapkan ulang. Ia tidak tahu banyak tentang apa yang terjadi di Jakarta. Ia hanya tahu putrinya kini tercatat sebagai istri yang sah, dan itu membuatnya lega.
Almira tersenyum untuk ibunya. Ia memutuskan tidak menceritakan apa pun soal restu yang ternyata palsu. Tekanan darah ibunya baru saja stabil. Untuk apa menambah beban di pundak perempuan yang sudah terlalu lama memikul hidup sendirian?
Senin berikutnya, Evan menyerahkan salinan buku nikah ke bagian HRD untuk memperbarui data tanggungan keluarga. Dua hari kemudian, Almira dipanggil.
"Mohon maaf, Bu Almira. Aturan perusahaan tidak membolehkan suami istri berada dalam satu garis atasan dan bawahan langsung," kata petugas HRD sambil menyodorkan selembar surat. "Mulai pekan depan, Ibu dipindahkan ke bagian pengelolaan lingkungan di lantai tiga."
Almira membaca surat itu dua kali. Di bagian bawah, ada tanda tangan Pak Rudi.
Sore harinya, Rudi sendiri yang menemuinya di dekat lift. Laki-laki itu tidak berbasa-basi, seperti biasa.
"Ini bukan hukuman," katanya. "Kalau boleh memilih, saya lebih suka kamu tetap di tim HSE. Tapi aturan dibuat supaya tidak ada laporan yang dinilai oleh suami sendiri. Kamu orang yang paling paham soal itu, bukan?"
"Paham, Pak. Terima kasih."
Rudi mengangguk, lalu menambahkan dengan suara lebih rendah, "Bagian lingkungan butuh orang teliti. Jangan kecewakan saya."
Kabar itu menyebar lebih cepat daripada surat edaran mana pun. Beberapa staf perempuan berbisik di pantry, menyebut Almira perempuan yang naik lewat jalur atasan. Ada juga yang menyindir soal mantan istri Evan yang cantik dan punya restoran sendiri. Arlin membanting gelas plastiknya ke meja pantry cukup keras untuk membuat mereka diam.
"Kalian nggak tahu ceritanya, jangan bikin cerita," katanya ketus.
Almira mendengar semuanya dari balik pintu. Ia tidak masuk. Ia memilih kembali ke mejanya dan merapikan berkas yang harus ia serahkan sebelum pindah lantai. Dadanya sesak. Akan tetapi, apa yang bisa ia bantah? Sebagian dari bisik-bisik itu memang benar.
Belum sepekan setelah pindah ke lantai tiga, sesuatu yang lain terjadi. Almira mual setiap pagi. Bau kopi di pantry membuatnya berlari ke kamar mandi. Awalnya ia mengira masuk angin karena pulang terlalu malam. Lalu ia teringat, tamu bulanannya sudah terlambat cukup lama. Selama ini ia mengira itu karena tekanan pikiran.
Jumat sore, di kamar mandi rumah Evan, Almira menatap sebuah alat tes kehamilan dengan tangan gemetar. Dua garis merah. Jelas dan tegas.
Ia duduk di lantai kamar mandi cukup lama. Ia menangis, lalu tertawa kecil, lalu menangis lagi. Ada makhluk mungil yang kini tumbuh di dalam dirinya. Makhluk yang tidak tahu apa pun tentang restu palsu, tentang koper kecil, tentang lemari yang separuh kosong.
'Ya Allah, terima kasih. Jagalah dia.'
Malam itu, di meja makan, Almira meletakkan alat tes itu di samping piring Evan. Laki-laki itu sedang menyendok nasi. Gerakannya terhenti di udara.
"Ini ...?"
"Aku hamil, Mas."
Evan menatap dua garis itu lama, seolah sedang membaca laporan yang tidak ia percaya. Lalu perlahan senyumnya muncul. Senyum yang sudah lama sekali tidak terlihat di wajahnya.
"Kamu hamil," ulangnya. "Mama pasti senang sekali."
Almira tersenyum. Akan tetapi, di dalam hatinya, ada yang sedikit mengganjal. Mengapa yang pertama kali disebut suaminya justru Mama?
Rita memang senang sekali. Begitu Evan menelepon, wanita itu langsung datang malam itu juga membawa sekeranjang buah dan setumpuk nasihat. Jangan angkat yang berat. Jangan makan nanas. Jangan tidur terlalu malam. Ponselnya tidak berhenti berbunyi karena ia mengirim kabar itu ke semua kerabat dan teman, bahkan ke grup arisan yang sudah tidak lagi berarisan sejak bandarnya kabur.
Almira memilih menyingkir ke teras dan menelepon ibunya sendiri. Begitu mendengar kabar itu, Ibu Halimah terisak di seberang sana. Beliau berjanji akan mengirim kue basah buatannya lewat bus malam, dan berpesan agar putrinya tidak lupa makan meski mual. Almira mendengarkan semua pesan itu sambil menahan air mata. Di antara semua suara yang memenuhi rumah malam itu, hanya suara ibunya yang terdengar menanyakan keadaan dirinya, bukan keadaan cucu yang bahkan belum berbentuk.
Esok paginya, Almira bangun dengan perut bergolak. Ia muntah dua kali sebelum subuh. Ketika turun ke dapur, ia lupa menyiapkan kopi Evan, dan roti yang ia panggang sedikit gosong di pinggirnya. Mbok Sarni sedang pergi ke pasar. Rita masih tidur di kamar tamu.
Evan duduk di meja makan dengan wajah masam. Ia menatap roti gosong itu, lalu menatap dapur yang berantakan.
"Dulu waktu sama Karina, pagi di rumah ini tenang," katanya tanpa berpikir. "Kopi sudah siap, sarapan sudah di meja. Aku tinggal berangkat."
Almira berhenti mengelap meja. Ia menatap suaminya lama. Tangannya yang memegang lap gemetar, entah karena mual, entah karena sesuatu yang lain.
"Aku bukan Karina, Mas."
"Aku cuma bilang ...."
"Aku tahu apa yang Mas bilang. Sudah berbulan-bulan Mas bilang hal yang sama dengan cara yang berbeda. Garamnya, jeruknya, setrikanya, sekarang kopinya." Suara Almira bergetar, tetapi ia tidak berhenti. "Aku tidak akan pernah jadi dia. Aku tidak bisa menyiapkan kopi sambil muntah. Aku juga tidak bisa tahu semua kebiasaan Mas dalam beberapa bulan, padahal dia punya delapan tahun untuk belajar."
Evan terdiam. Untuk pertama kalinya, ia melihat wajah istrinya yang pucat dan mata yang sembap karena muntah semalaman.
"Kalau Mas mau aku tetap di rumah ini, perlakukan aku sebagai pasangan yang utuh. Bukan sebagai bayangan yang selalu kurang." Almira meletakkan lap di meja. "Anak ini butuh ayah yang ada di sini, Mas. Bukan ayah yang terus menoleh ke belakang."
Ia naik ke kamar tanpa menunggu jawaban. Evan duduk sendirian di depan roti gosong itu sampai Rita turun dan bertanya kenapa menantunya belum menyiapkan sarapan.
Evan tidak menjawab ibunya. Ia mengambil roti gosong itu, memakannya sampai habis, lalu menyeduh kopinya sendiri untuk pertama kali dalam bertahun-tahun.
Rasanya terlalu pahit. Ia tidak tahu takaran gula yang biasa dipakai Karina.