Lorong pengadilan agama pagi itu penuh orang. Ada pasangan yang duduk berjauhan di bangku panjang, ada ibu yang memangku anak kecil, ada laki-laki yang mondar-mandir sambil menelepon. Karina duduk di samping Bu Ratih dengan map di pangkuan. Ia memakai gamis abu-abu dan kerudung senada. Tidak ada riasan selain bedak tipis.
Evan datang sendirian. Rita sebenarnya memaksa ikut, tetapi kali ini Evan menolak dengan tegas. Laki-laki itu memakai kemeja biru yang kerahnya masih sedikit kusut. Ia berdiri di ujung lorong, menatap Karina dari jauh, lalu duduk di bangku seberang tanpa menyapa.
Sidang pertama berlangsung singkat. Hakim memerintahkan keduanya menempuh mediasi lebih dulu. Itu aturan. Pengadilan wajib memberi kesempatan untuk berdamai sebelum perkara diperiksa lebih jauh.
Ruang mediasi hanya berisi satu meja bundar dan empat kursi. Mediatornya seorang hakim perempuan berusia lima puluhan dengan suara lembut. Ia mempersilakan keduanya bicara bergantian.
"Saya ingin istri saya mempertimbangkan ulang, Bu," kata Evan lebih dulu. Suaranya serak. "Saya mengaku salah. Kami bisa mulai dari awal."
Mediator itu menoleh pada Karina. "Bagaimana, Bu Karina?"
Karina menatap tangannya sendiri di atas meja. Cincin pernikahan sudah tidak ada di jari manisnya sejak malam ia tidur di kasur lipat. Bekasnya masih terlihat samar, sebaris kulit yang sedikit lebih pucat.
"Saya sudah menimbangnya selama delapan tahun, Bu," jawabnya pelan. "Setiap kali Mama menyebut saya mandul di depan pegawai saya. Setiap kali suami saya diam. Setiap kali saya menunggu satu kalimat pembelaan yang tidak pernah datang. Lalu suami saya menikah lagi, padahal saya sudah mengatakan tidak setuju dengan jelas. Saya tidak sedang marah. Saya sedang selesai."
Hening. Evan menunduk. Mediator itu mencatat sesuatu, lalu bertanya dengan hati-hati apakah ada yang masih bisa dibicarakan, misalnya soal harta bersama.
Mediasi berlangsung tiga kali dalam tiga pekan. Pada pertemuan kedua, Bu Ratih menyodorkan usulan Karina. Rumah yang mereka tempati selama pernikahan dibeli bersama, tetapi Karina melepaskan bagiannya seluruhnya untuk Evan. Sebagai gantinya, tiga puluh persen bagian Evan di Karina Kitchen dilepaskan untuk Karina.
"Tiga puluh persen itu modalku," kata Evan.
"Dan separuh rumah itu dari tabunganku, Mas," jawab Karina. "Aku tidak meminta uang. Aku tidak meminta mobil. Aku hanya ingin keluar tanpa utang ke siapa pun, dan dapurku tetap utuh."
Evan terdiam lama. Ia teringat buku bersampul biru yang dibuka Vania. Empat baris dalam lima tahun. Ia teringat ruang kecil di samping gudang dan bau rempah di dindingnya. Restoran itu memang tidak pernah benar-benar miliknya. Ia hanya pernah menyetor uang, lalu lupa.
Pada pertemuan ketiga, Evan menandatangani kesepakatan itu.
"Restoran itu memang kamu yang membesarkan," katanya tanpa menatap Karina. Hanya itu. Akan tetapi, kalimat sependek itu adalah kalimat paling jujur yang pernah ia ucapkan tentang sang istri selama bertahun-tahun.
Sidang berikutnya berjalan tanpa bantahan. Evan tidak mempersulit. Ia hadir, menjawab pertanyaan hakim dengan suara datar, dan tidak sekali pun menyangkal bahwa ia sudah menikah lagi tanpa persetujuan istri pertamanya.
Kamis, sepuluh pekan sejak Karina meninggalkan rumah itu, putusan dibacakan. Hakim membaca pertimbangan demi pertimbangan dengan suara yang terdengar terlalu tenang untuk perkara yang menghancurkan delapan tahun hidup dua orang. Gugatan penggugat dikabulkan. Kesepakatan harta bersama dikuatkan. Akta cerai akan terbit setelah putusan berkekuatan hukum tetap.
Karina mendengarkan sampai kalimat terakhir. Tangannya dingin, tetapi tidak gemetar. Di bangku belakang, Evan duduk sendirian dengan kedua siku bertumpu di lutut.
Di lorong, Rita sudah menunggu. Rupanya ia datang diam-diam dan menunggu di luar ruang sidang. Wajahnya merah, matanya berkaca-kaca entah karena marah atau malu.
"Puas kamu? Kamu sudah mempermalukan keluarga kami."
Karina berhenti melangkah. Bu Ratih sempat menyentuh lengannya, seolah bertanya apakah ia ingin segera pergi. Karina menggeleng kecil.
"Assalamualaikum, Bu Rita," sapanya sopan.
Rita terperangah. Bu Rita. Bukan lagi Ma. Panggilan yang selama delapan tahun selalu keluar dari mulut menantunya, bahkan ketika ia baru saja menghinanya, kini lenyap begitu saja. Sederhana. Sopan. Dan jauh.
"Saya permisi. Saya harus menyiapkan makan siang untuk pelanggan," lanjut Karina, lalu melangkah pergi bersama pengacaranya.
Rita tidak sanggup membalas. Ia hanya berdiri di tengah lorong, memandangi punggung perempuan yang dulu ia sebut benalu, yang kini berjalan keluar dari hidup keluarganya dengan kepala tegak.
Malam itu, setelah papan tutup dipasang, Karina naik ke ruangannya di lantai dua. Ia menatap dinding yang selama lima tahun dipenuhi foto-foto dirinya bersama Evan. Liburan ke Bandung. Ulang tahun pernikahan yang ketiga. Peresmian restoran ini, ketika Evan masih mau menggunting pita. Dan pigura foto kelulusan SMA sang suami, ketika mereka berdua masih bisa tertawa lepas.
Satu per satu foto itu ia turunkan. Ia mengelap kacanya dengan ujung kerudung, lalu memasukkannya ke dalam kardus bekas kemasan minyak goreng. Setiap pigura ia pegang hati-hati, seperti memegang barang pecah belah milik orang lain. Kenangan itu pernah benar-benar indah, dan ia tidak ingin membohongi dirinya sendiri dengan berpura-pura sebaliknya. Ia hanya tidak ingin lagi melihatnya setiap pagi.
Kardus itu ia lakban rapat dan ia simpan di rak paling atas gudang lantai dua. Dinding ruangannya kini kosong, menyisakan paku-paku kecil dan bekas persegi yang sedikit lebih terang dari cat di sekitarnya.
Esok paginya, Karina menyerahkan sesuatu pada Vania. Seikat kunci dengan gantungan kayu berbentuk ikan, oleh-oleh dari Jepara bertahun-tahun lalu. Kunci pagar, kunci pintu depan, kunci kamar utama.
"Tolong kembalikan ke rumah itu, Van. Kasih ke Mbok Sarni saja kalau Mas Evan tidak ada."
Vania menerima kunci itu dengan mata basah. "Mbak benar-benar sudah selesai, ya?"
"Sudah, Van." Karina tersenyum, senyum yang pertama kali terlihat lepas dalam waktu lama. "Restoran ini sekarang benar-benar milikku. Tapi kamu tetap di sini, kan?"
"Selama Mbak nggak mengusir aku," jawab Vania sambil memeluk kakak iparnya. Bukan lagi kakak ipar, sebenarnya. Akan tetapi, siapa yang peduli pada sebutan?
Sore harinya, kunci itu sampai di tangan Mbok Sarni. Perempuan paruh baya itu menggenggamnya lama di dapur sebelum meletakkannya di atas meja makan. Almira yang pertama kali melihatnya. Gantungan kayu berbentuk ikan itu sudah usang, catnya mengelupas di bagian sirip. Ia tidak perlu bertanya milik siapa. Ia hanya memandanginya dari ambang dapur, lalu kembali naik tanpa berani menyentuhnya.
Malamnya, Evan pulang dan menemukan seikat kunci di atas meja makan. Ia memandanginya cukup lama, lalu menyimpannya di laci tanpa sepatah kata pun.