Dua pekan sudah rumah dua lantai itu kehilangan nyonyanya, dan semua orang mulai merasakan akibatnya.
Senin pagi, Evan berdiri di depan lemari dengan kemeja kusut di tangan. Kerahnya masih lembap. Mbok Sarni menyetrika terburu-buru sebelum subuh karena semalam Rita menyuruhnya mencuci gorden ruang tamu. Papan kecil yang menempel di pintu kulkas, tempat Karina biasa menulis daftar belanja setiap Minggu malam, kini kosong melompong. Gas habis pada hari Kamis. Galon air habis pada hari Sabtu. Selembar surat peringatan tagihan listrik terselip di bawah pintu, padahal selama delapan tahun Evan tidak pernah tahu bahwa listrik di rumah ini juga ada yang membayar.
"Mbok, nomor pelanggan listrik di mana?" tanyanya sambil mengacungkan kertas itu.
"Biasanya Ibu yang bayar lewat ponsel, Pak. Saya tidak tahu nomornya," jawab Mbok Sarni sambil mengelap tangan di celemek. Suaranya lelah. "Tangan saya cuma dua, Pak. Dari dulu juga cuma dua. Bedanya, dulu ada Ibu yang mengatur."
Almira berusaha. Siapa pun bisa melihat itu. Ia bangun lebih pagi, menyiapkan bekal, mencatat apa saja yang habis di buku kecilnya. Akan tetapi, ia juga bekerja dari pukul delapan sampai lima sore, dan ia baru dua pekan tinggal di rumah yang semua letaknya masih asing baginya.
Kamis malam, ia memasak sayur asem. Ia sengaja bertanya pada Mbok Sarni masakan apa yang paling disukai suaminya. Evan menyendok kuahnya sekali, lalu meletakkan sendok.
"Keasinan," katanya datar. "Karina biasanya pakai gula merah sedikit, biar asamnya nggak tajam."
Almira mengangguk dan tidak menjawab. Esok paginya, ia menyajikan teh hangat dengan perasan jeruk nipis, kebiasaan ibunya di Purworejo. Evan mendorong gelas itu menjauh. Karina tahu ia tidak suka jeruk di teh. Malamnya lagi, kemeja yang Almira setrika sendiri mendapat komentar yang sama. Lipatannya salah. Karina biasanya menyetrika dari kerah dulu.
Setiap perbandingan itu ditelan Almira diam-diam, seperti menelan duri ikan. Ia tidak membantah. Ia hanya semakin lama duduk di atas sajadah setiap malam.
Di kantor, Arlin memperhatikan lingkaran gelap di bawah mata sahabatnya. Saat jam istirahat, perempuan itu meletakkan sebungkus roti di meja Almira tanpa berkata apa-apa. Almira tersenyum dan bilang ia hanya kurang tidur. Arlin tidak memaksa bertanya. Ia cukup mengingatkan sekali lagi bahwa pintu kamarnya di indekos masih terbuka, kapan pun Almira butuh tempat untuk sekadar menangis.
Sementara itu, badai lain datang dari arah yang tidak disangka. Bu Lusi, bandar arisan yang selama ini Rita banggakan karena anggotanya istri pejabat dan pengusaha, mendadak menghilang. Nomornya tidak aktif. Rumahnya dikunci. Uang setoran puluhan anggota ikut lenyap bersamanya. Rita termasuk yang paling banyak menyetor, dan sebagian uang itu ia pinjam dari tiga orang teman sekaligus.
Sabtu siang, dua orang perempuan datang ke rumah Rita menagih pinjaman. Sore harinya, satu orang lagi menelepon dengan nada mengancam akan memviralkan nama Rita di media sosial. Rita menangis di depan suaminya.
"Pa, tolong Mama sekali ini saja. Mama malu."
Laki-laki tua itu tidak mengangkat wajah dari koran. "Sudah berapa kali aku bilang soal arisan itu? Kartu kreditmu sudah aku tahan, kamu malah pinjam ke orang." Ia melipat korannya perlahan. "Dulu, setiap kali kamu kekurangan, siapa yang diam-diam menutup? Kamu pikir aku tidak tahu? Karina. Sekarang kamu sendiri yang membuat dia pergi dari rumah anakmu."
Rita terdiam. Wajahnya pucat, lalu memerah. Malam itu juga ia membawa koper kecil dan menginap di rumah Evan. Katanya, ia ingin membantu menantu barunya mengurus rumah. Kenyataannya, ia lebih sering duduk di sofa sambil memberi perintah pada Mbok Sarni.
Selasa berikutnya, seorang laki-laki berseragam batik mengetuk pintu rumah Evan. Ia memperkenalkan diri sebagai juru sita dari pengadilan agama dan menyerahkan sebuah amplop cokelat untuk Evan Wijaya. Rita yang menerimanya karena Evan belum pulang. Ia membuka amplop itu tanpa izin.
Panggilan sidang. Penggugat: Karina Soeradja.
Tangan Rita gemetar. Ia langsung menelepon nomor yang selama delapan tahun lebih sering ia pakai untuk menagih.
"Kamu menggugat cerai anakku? Kamu pikir kamu siapa?"
"Assalamualaikum, Ma." Suara Karina terdengar tenang di seberang sana. Di belakangnya, bunyi wajan dan obrolan pegawai. "Saya sudah bilang pada Mas Evan hari Sabtu itu. Saya minta berpisah."
"Kamu itu masih istri Evan! Pulang kamu. Rumah ini berantakan. Mama juga sedang kena musibah. Bandar arisan kabur, Mama ditagih orang. Kamu bantu Mama dulu, nanti Mama ganti."
Karina diam sejenak. Bahkan dalam satu tarikan napas yang sama, sang mama mertua masih sempat meminta uang. Lucu? Entahlah. Karina sudah terlalu lelah untuk tertawa.
"Ma, saya ikut prihatin soal musibah itu," katanya pelan. "Tapi saya bukan lagi penutup lubang. Lubang itu bukan saya yang menggali."
"Kurang ajar kamu!"
"Mungkin, Ma. Assalamualaikum."
Sambungan terputus. Rita membanting ponselnya ke sofa. Almira yang baru pulang kerja melihat amplop cokelat di meja, membaca tulisan di sampulnya, lalu memilih naik ke kamar tanpa bertanya.
Malamnya, Evan menelepon Sandra. Ia tidak marah. Ia hanya terdengar lelah, lebih lelah dari yang pernah Sandra dengar.
"San, tolong. Minta Karina kirim daftar saja. Nomor pelanggan listrik, air, jadwal tukang galon, jadwal servis mobil. Dia nggak perlu pulang. Cukup kirim catatannya."
Sandra tidak langsung menjawab. Esok sorenya, sepulang kantor, ia datang ke rumah Evan. Almira yang membukakan pintu. Dua perempuan itu saling menatap canggung beberapa detik sebelum Almira mempersilakan masuk.
"Aku nggak lama, Mir. Aku cuma mau bicara sama Evan." Sandra tidak duduk. Ia menatap sepupunya yang muncul dari ruang tengah dengan wajah kusut. "Aku nggak akan jadi jalur, Van. Nggak untuk daftar, nggak untuk pesan, nggak untuk apa pun."
"Cuma daftar, San."
"Daftar itu catatan kerja Karina selama delapan tahun. Kerja yang nggak pernah kamu hitung." Sandra melirik papan kosong di pintu kulkas. "Rumah tangga yang kamu pilih butuh tanggung jawab, Van. Cari sendiri nomor listrikmu. Tanya ke kantor listrik. Duduk berdua dengan istrimu dan bikin daftar kalian sendiri. Jangan minta perempuan yang sudah kamu lepas mengurus rumah yang kamu isi dengan perempuan lain."
Ia pamit pada Almira dengan suara yang jauh lebih lembut, lalu pergi. Rita yang mendengar dari sofa menggerutu soal keponakan tidak tahu diri.
Evan berdiri lama di depan kulkas. Papan kecil itu masih kosong. Di sudutnya, tertinggal bekas tulisan spidol yang sudah pudar, nyaris tak terbaca. Telur. Gula merah. Obat nyamuk. Tulisan tangan Karina.
Tanggal sidang pertama tertera di surat panggilan itu, dua pekan lagi. Untuk pertama kalinya, Evan merasa takut.