Pukul tujuh pagi, mobil Evan sudah terparkir di depan Karina Kitchen. Papan bertuliskan tutup masih tergantung di pintu kaca. Vania yang membuka gembok pagar menatap kakaknya dengan dahi berkerut. Abangnya itu jarang sekali datang ke restoran, apalagi sepagi ini.
"Mbak Karina ke pasar sama Mang Dadang," kata Vania sebelum Evan sempat bertanya. "Mas mau nunggu? Duduk saja di dalam. Tapi jangan ganggu anak-anak yang lagi siap-siap."
Evan masuk dan duduk di kursi dekat kasir. Dapur sudah hidup. Ilyas menyalakan kompor besar, Ica menata sendok di nampan, Septian menurunkan kursi dari atas meja satu per satu. Tidak seorang pun menyapanya lebih dari anggukan sopan. Evan baru sadar, ia bahkan tidak hafal nama separuh pegawai di tempat ini.
"Van, kamu adikku," katanya ketika Vania lewat membawa kotak bumbu. "Bujuk Mbak-mu pulang. Rumah berantakan. Mama ribut terus. Almira kemarin malah ke sini, entah ngomong apa saja."
Vania meletakkan kotak bumbu di meja. "Mas mau aku membujuk Mbak Karina pulang ke rumah yang sekarang ada istri kedua Mas?"
"Jangan ngomong begitu."
"Lho, memang begitu, kan?" Vania menarik sebuah buku tebal bersampul biru dari laci kasir dan membukanya di depan Evan. Halamannya penuh tulisan tangan. Jam buka, jam tutup, nama yang menerima barang, nama yang lembur, nama yang mengganti tabung gas. "Ini buku kerja restoran sejak hari pertama. Lima tahun, Mas. Coba cari nama Mas."
Evan membalik halaman dengan malas, lalu semakin lambat. Nama Karina ada di hampir setiap baris. Nama Vania menyusul di bawahnya. Ilyas, Ica, Mang Dadang, Septian. Nama Evan baru muncul di halaman kesekian, ditulis tangan Karina sendiri. Mas Evan mampir makan malam. Lalu beberapa bulan kemudian, Mas Evan ganti uang gas.
"Empat kali dalam lima tahun," kata Vania pelan. "Aku nggak lagi menghina Mas. Aku cuma menunjukkan, siapa yang selama ini benar-benar ada di sini."
Pintu belakang terbuka. Karina masuk bersama Mang Dadang, kedua tangannya menjinjing kantong plastik berisi sayur. Langkahnya terhenti sesaat ketika melihat Evan, lalu kembali bergerak. Ia menyerahkan belanjaan pada Ilyas, mencuci tangan, baru kemudian menghampiri.
"Kita bicara di belakang, Mas. Jangan di depan anak-anak."
Ruang kecil di samping gudang kering itu hanya muat satu meja dan dua kursi plastik. Bau bawang dan rempah menempel di dindingnya. Karina naik sebentar ke lantai dua, lalu kembali membawa map biru yang ia bawa dari rumah pada hari Sabtu. Map itu ia letakkan di atas meja, kemudian ia buka di depan suaminya.
"Mama sering bilang restoran ini milikmu. Mas sendiri tidak pernah meluruskan." Karina menunjuk sebuah halaman. "Ini salinan akta pendirian dan catatan modal dari notaris. Bagian Mas tiga puluh persen. Sisanya dari tabungan dan warisan Bunda."
Evan menatap angka itu lama. Tentu ia tahu. Ia ikut menandatangani lima tahun lalu, meski waktu itu ia lebih sibuk menghitung biaya kuliahnya sendiri. Akan tetapi, entah mengapa, melihat angka itu tercetak hitam di atas putih terasa seperti ditampar.
"Tiga puluh persen tetap bagianku," katanya. "Aku berhak ikut mengatur tempat ini."
"Bagian Mas tercatat, dan tidak pernah aku hapus. Aku juga tidak akan mengambilnya diam-diam." Karina menutup map itu. "Tapi tiga puluh persen modal bukan tiga puluh persen hak untuk menyuruhku pulang."
"Kamu mau menghancurkan delapan tahun kita hanya karena satu kesalahan?"
"Satu kesalahan, Mas?" Karina menatapnya tanpa berkedip. "Kesalahan itu sudah Mas ucapkan ijabnya di depan saksi."
Evan berdiri begitu cepat sampai kursi plastik itu terguling. Ia keluar lewat pintu samping tanpa pamit pada siapa pun. Karina mengembalikan kursi ke posisinya, lalu membawa map biru itu ke lantai dua. Ia memasukkannya ke laci meja kerjanya, di samping salinan surat perjanjian dengan Batara, lalu mengunci laci itu dua kali.
Dua hari kemudian, Evan duduk di ruang tamu lantai lima Batara Corporation. Rita yang memberinya gagasan itu. Kalau Karina tidak mau pulang, pegang saja sumber uangnya. Perusahaan sebesar Batara pasti tidak mau berurusan dengan masalah rumah tangga orang. Begitu kata sang mama.
Anggi masuk bersama Luka. Wanita paruh baya itu tersenyum sopan, tetapi matanya tidak ikut tersenyum.
"Pak Evan Wijaya. Suami Karina?"
"Benar, Bu." Evan merapikan dasinya. "Saya datang sebagai kepala keluarga. Saya keberatan kerja sama sebesar ini dibuat tanpa sepengetahuan keluarga kami. Saya mohon keluarga Wijaya dijadikan pihak dalam perjanjian itu. Atau setidaknya pembayarannya ditunda sampai urusan rumah tangga kami selesai."
Anggi saling pandang dengan suaminya. Luka yang lebih dulu bicara. Suaranya tetap ramah, seperti biasa.
"Nak Evan, perjanjian itu antara Batara Corporation dan Karina Kitchen. Ditandatangani pemiliknya, di atas meterai, dengan pengetahuan bagian keuangan kami. Khawatir bukan alasan untuk mengubah kontrak."
"Kalau ada urusan rumah tangga, silakan diselesaikan di rumah," tambah Anggi. "Kami bekerja sama dengan dapur yang jujur. Saya tidak akan menghukum dapur itu karena suami pemiliknya sedang kesulitan."
Evan pamit dengan wajah merah padam. Di lorong menuju lift, ia berpapasan dengan seorang pemuda berkemeja polos yang mendorong troli berisi kotak arsip. Pemuda itu menepi memberi jalan. Evan tidak menoleh sedikit pun.
Damar menoleh. Ia baru saja mendengar ayahnya menyebut nama Karina dari balik pintu ruang tamu yang belum tertutup rapat.
"Itu suaminya Bu Karina, Ma?" tanyanya ketika Anggi lewat.
"Bukan urusanmu, Mar. Kembali ke mejamu," jawab Anggi tanpa berhenti. Akan tetapi, langkahnya lebih cepat dari biasa ketika menuju ruangannya sendiri.
Siang itu ponsel Karina berdering. Nama Bu Anggi tertera di layar. Karina mengangkatnya dari dapur dengan tangan masih basah.
"Karina, saya cuma mau kamu tahu dari saya. Tadi suamimu datang ke kantor."
Karina memejamkan mata. Wanita di seberang sana menceritakan semuanya tanpa menambah dan tanpa mengurangi. Permintaan Evan, jawaban Luka, dan jawabannya sendiri.
"Perjanjian kita tetap, Karina. Jangan khawatir soal itu."
"Terima kasih, Bu. Maaf Ibu jadi ikut terseret urusan saya."
"Kamu tidak menyeret siapa pun." Suara Anggi melembut. "Kalau ada yang bisa saya bantu, bilang saja."
"Saya cuma butuh dapur saya tetap berjalan, Bu. Selebihnya biar saya sendiri yang selesaikan."
Malam itu Karina menelepon Sandra. Ia tidak menangis. Ia hanya bertanya satu hal: apakah sahabatnya punya kenalan pengacara yang bisa dipercaya.
Jumat siang, Sandra mengantarnya ke sebuah kantor kecil di lantai tiga ruko tidak jauh dari pengadilan agama. Bu Ratih, perempuan berkacamata dengan rambut yang mulai memutih, dulu membantu keluarga suami Sandra mengurus warisan. Ia mendengarkan cerita Karina dari awal sampai akhir tanpa memotong. Sesekali ia mencatat di buku kecil.
"Sebagai istri, Ibu yang mengajukan gugatan. Nanti akan ada sidang dan mediasi lebih dulu. Itu wajib," jelas Bu Ratih tenang. "Harta bersama bisa ikut dibicarakan. Rumah, dan bagian di restoran. Ibu sudah tahu apa yang Ibu inginkan?"
"Saya hanya ingin restoran saya utuh, Bu," jawab Karina. "Dan saya ingin keluar dari rumah itu tanpa utang apa pun."
Bu Ratih mengangguk. "Itu bisa kita bicarakan."
Senin berikutnya, berkas gugatan itu didaftarkan. Karina pulang ke restoran membawa selembar tanda terima. Kertasnya tipis, nyaris tidak ada beratnya. Ia menyimpannya di laci yang sama dengan map biru dan surat perjanjian Batara.
Malam itu, di kamar kecil lantai dua, Karina berbaring di atas kasur lipat dan menatap langit-langit. Delapan tahun pernikahan kini tinggal menunggu tanggal sidang. Mengapa justru sekarang ia bisa bernapas lebih lega?