Minggu sore, Almira pindah ke rumah Evan. Barang bawaannya hanya satu koper dan satu kardus berisi buku kuliah. Rita yang memaksa. Katanya, istri tidak pantas tinggal di indekos sementara suaminya punya rumah dua lantai. Arlin membantu mengemas sejak pagi tanpa banyak bicara. Sebelum mobil Evan datang, perempuan itu memeluknya lama sekali, lebih lama dari pelukan mana pun selama mereka bertetangga.
Mbok Sarni yang membukakan pintu. Mata perempuan itu sembap. Ia sempat bingung harus memanggil apa, lalu akhirnya berkata pelan, "Silakan masuk, Mbak Almira."
Rumah itu besar dan sunyi. Tangga kayunya mengilap. Dinding ruang tengah dihiasi lukisan bunga dan sebuah jam besar yang detaknya terdengar sampai ke dapur. Almira berdiri di ambang pintu kamar utama di lantai dua dan merasa seperti tamu yang salah masuk rumah.
Pintu lemari pakaian terbuka separuh. Di sisi kanan, kemeja-kemeja Evan tergantung rapat. Di sisi kiri, deretan gantungan baju kosong bergoyang pelan tersentuh angin dari jendela. Masih ada wangi samar yang bukan milik Evan. Wangi bunga melati, lembut, seperti sabun yang biasa dipakai perempuan rumahan.
Evan buru-buru menurunkan sebuah pigura dari dinding di atas meja rias. Foto pernikahan. Almira hanya sempat melihat kebaya putih dan senyum seorang perempuan sebelum pigura itu dimasukkan ke rak atas lemari dengan wajah menghadap ke bawah.
"Nanti aku rapikan semuanya," kata Evan tanpa menatapnya.
Almira mengangguk. Ia membuka laci meja rias untuk menaruh mukena, lalu menutupnya lagi dengan cepat. Di dalamnya ada kotak beludru merah. Bukan miliknya. Bukan pula urusannya untuk membuka.
Malam itu ia turun ke dapur untuk membantu Mbok Sarni. Perempuan paruh baya itu menolak halus, tetapi Almira tetap mencuci piring di sampingnya. Lama-lama, keheningan di antara mereka terasa terlalu berat untuk dibiarkan.
"Mbok, Mbak Karina sekarang di mana?" tanya Almira hati-hati. "Saya ingin menemui beliau. Saya belum sempat berterima kasih."
Tangan Mbok Sarni berhenti di atas piring. "Terima kasih untuk apa, Mbak?"
"Karena beliau sudah merelakan."
Mbok Sarni menatapnya lama. Ada sesuatu di mata perempuan itu, entah iba, entah takut. "Ibu pergi, Mbak. Sabtu itu juga, sorenya. Bawa koper kecil, dijemput Mbak Vania. Waktu saya telepon kasih kabar sudah ijab, Ibu cuma bilang terima kasih, terus suaranya hilang."
Piring di tangan Almira hampir terlepas. Perempuan yang ikhlas tidak akan pergi membawa koper pada hari pernikahan suaminya, bukan?
Senin sore, sepulang kantor, Almira kembali naik ojek daring ke Karina Kitchen. Kali ini ia menyeberang. Di kantor, ia dan Evan sepakat bersikap seperti biasa. Belum ada yang tahu kecuali Arlin. Akan tetapi, sepanjang hari Almira hanya memikirkan satu hal: koper kecil yang dibawa pergi pada hari Sabtu.
"Selamat sore, Mbak. Mau pesan tempat?" sapa Ica di pintu masuk.
"Saya ingin bertemu Bu Karina. Nama saya Almira."
Ica membeku sesaat, lalu berlari kecil ke lantai dua. Tidak lama kemudian, perempuan yang dulu Almira lihat dari balik kaca turun perlahan. Celemeknya sudah dilepas. Wajahnya lebih tirus dari yang Almira ingat, tetapi langkahnya tenang.
"Saya Karina," katanya sambil menunjuk meja dekat jendela di lantai satu, tempat yang terang dan masih terlihat oleh para pegawai. "Silakan duduk."
Ica membawakan dua cangkir teh. Almira tidak menyentuh cangkirnya. Karina memperhatikan itu.
"Puasa?"
"Iya, Mbak. Senin."
Karina menoleh pada Ica. "Siapkan kurma dan air hangat, ya. Sebentar lagi magrib."
Kebaikan kecil itu justru membuat dada Almira semakin sesak. Ia meremas ujung kerudungnya, lalu memaksa diri bicara.
"Saya datang untuk minta maaf, Mbak. Dan untuk berterima kasih karena Mbak sudah rela. Bu Rita bilang Mbak titip doa untuk saya waktu akad."
Wajah Karina berubah sedikit. Hanya sedikit, seperti permukaan air yang tersentuh ujung jari. "Saya tidak pernah titip doa, Almira. Saya juga tidak pernah bilang rela."
"Tapi Mas Evan bilang Mbak sudah tahu dan tidak akan menghalangi."
"Saya memang sudah tahu. Suatu Rabu malam, lebih dari dua pekan sebelum akad, dia mengatakannya sendiri di meja makan. Saya jawab tidak setuju. Saya minta dia menyampaikan itu padamu, persis dengan kata-kata saya." Karina menatap cangkir di depannya. "Saya juga memang tidak menghalangi. Saya tidak berhak mengurung siapa pun. Tapi tidak menghalangi itu bukan rela."
Almira merasa lantai di bawah kursinya bergoyang. "Mbak, demi Allah, saya tidak tahu. Bu Rita bilang Mbak malu dan tidak mau bertemu."
"Mama bilang pada saya, kamu sudah tahu saya menolak, dan kamu tetap mau."
Keduanya terdiam. Di dapur, wajan beradu dengan sutil. Seorang pelanggan tertawa di meja ujung. Di antara meja kecil itu, dua perempuan saling menatap dan sama-sama mengerti sesuatu yang terlambat. Mereka berdua dibohongi oleh orang yang sama, dengan cerita yang berbeda.
Azan magrib terdengar dari musala di ujung gang. Ica meletakkan sepiring kurma dan segelas air hangat di depan Almira. Gadis itu berbuka dengan tangan gemetar. Air matanya jatuh ke dalam gelas.
"Saya harus bagaimana sekarang, Mbak?" bisiknya.
"Itu bukan pertanyaan untuk saya." Suara Karina tidak keras, tetapi tidak juga goyah. "Sabtu sore saya sudah bilang pada Mas Evan, saya minta berpisah. Jadi kalau kamu datang untuk mengembalikan sesuatu, tidak ada yang perlu dikembalikan."
"Mbak tidak ingin kembali?"
"Tidak." Karina akhirnya menyesap tehnya. "Apa pun keputusanmu sesudah ini, jangan putuskan karena saya. Saya sudah memutuskan untuk diri saya sendiri. Satu hal saja, Almira. Mulai sekarang, dengarlah dari mulut orangnya langsung."
Almira pulang pukul delapan malam. Mobil Rita terparkir di depan pagar. Mertuanya itu duduk di sofa ruang tengah bersama Evan, menonton sinetron sambil mengupas jeruk. Di meja tersedia sepiring kue lapis yang tidak tersentuh.
"Baru pulang? Istri itu harusnya sudah di rumah sebelum suaminya," tegur Rita.
Almira tidak duduk. Ia berdiri di depan televisi dengan tas ransel masih di punggung. "Saya dari Karina Kitchen, Ma. Saya bertemu Mbak Karina."
Evan langsung menegakkan punggung. Pisau buah di tangan Rita berhenti.
"Mbak Karina tidak pernah rela. Beliau menolak, dan meminta Mas menyampaikannya pada saya." Almira menatap Evan, lalu Rita. "Mama bilang beliau titip doa. Mama juga bilang pada Mbak Karina bahwa saya tahu beliau menolak dan saya tetap mau. Dua-duanya tidak benar."
Rita meletakkan pisau di piring. "Lalu kenapa? Toh kamu sudah sah. Yang lewat biar lewat. Kalau kemarin Mama bilang terus terang, kamu pasti mundur. Mama cuma mempermudah jalan."
"Jalan untuk siapa, Ma?"
Pertanyaan itu menggantung. Rita membuang muka ke layar televisi.
"Aku tidak bohong, Mir," kata Evan akhirnya. "Dia memang sudah tahu. Dia memang tidak menghalangi."
"Mas memilih kalimat yang tidak bohong supaya saya salah paham. Bagi saya, itu sama saja." Suara Almira bergetar, tetapi kalimatnya utuh. "Saya sudah menikah dengan Mas. Saya tidak akan lari dari akad yang saya ucapkan di depan Allah. Tapi jangan pernah bohong lagi, Mas. Sekali saja lagi, saya tidak tahu apakah saya masih bisa berdiri di rumah ini."
Ia naik ke lantai dua tanpa menunggu jawaban. Di kamar, ia duduk di tepi ranjang, di sisi yang menghadap lemari dengan gantungan-gantungan kosong. Ia baru sadar, sisi itulah yang dulu ditiduri perempuan yang tadi menyiapkan kurma untuknya.
Di bawah, Rita masih menggerutu tentang menantu yang tidak tahu terima kasih. Evan tidak mendengarkan. Ia memandangi ponselnya, membuka nomor Karina, lalu menutupnya lagi.
Besok, pikirnya. Besok ia akan datang sendiri ke restoran itu.