Sabtu pagi, ruang tamu rumah Rita sudah berubah. Sofa digeser ke dinding, karpet tebal digelar di tengah ruangan, dan di atas meja kecil berlapis kain putih tersusun seperangkat alat salat sebagai mas kawin. Rita sengaja membuat acara ini sesederhana mungkin, cukup karpet, meja kecil, dan beberapa kursi lipat. Katanya supaya khidmat. Lebih tepatnya, acara ini tidak boleh terlalu banyak saksi.
Mbok Sarni sudah datang sejak subuh. Rita meminjamnya dari rumah Evan untuk memasak. Perempuan itu menggoreng ayam dengan wajah murung, dan beberapa kali diam-diam mengusap mata dengan ujung kerudungnya.
Paman Harun tiba pukul tujuh setelah semalaman duduk di bus dari Purworejo. Ibu Halimah tidak ikut. Beliau masih harus banyak beristirahat. Ustaz Salim, kenalan Rita dari pengajian, datang tidak lama kemudian bersama dua tetangga yang akan menjadi saksi.
Ayah Evan duduk di kursi paling belakang dengan wajah keruh. Ketika Rita memintanya pindah ke depan, laki-laki tua itu menggeleng.
"Kamu yang mau acara ini, kamu yang duduk di depan," katanya pelan, cukup pelan agar tamu tidak mendengar, tetapi cukup jelas agar istrinya mengerti.
Vania tidak datang. Semalam ia sudah mengirim pesan singkat pada ibunya bahwa ia harus membuka restoran. Sandra pun tidak datang, dan tidak memberi alasan apa pun.
Almira duduk di kamar tamu dengan kebaya putih sederhana pinjaman Rita. Ia tidak memakai riasan tebal, hanya bedak tipis dan sedikit pemerah bibir. Dari celah pintu ia mengamati ruang tamu, mencari satu wajah yang ia kenali dari balik kaca restoran. Wajah itu tidak ada.
"Ma, Mbak Karina tidak datang?" bisiknya ketika Rita masuk untuk merapikan kerudungnya.
"Dia di restoran, banyak pesanan. Dia titip doa untukmu," jawab Rita sambil tersenyum. "Sudah, jangan pikirkan yang lain. Hari ini harimu."
Sebelum akad dimulai, Paman Harun menarik Evan ke sudut ruangan. Laki-laki itu bertubuh kurus dengan peci yang sudah memudar warnanya. Matanya menatap Evan dengan sungguh-sungguh.
"Nak Evan, maaf kalau Paman bertanya sekali lagi. Istri pertamamu benar sudah rela? Paman tidak mau keponakan Paman menikah di atas tangis orang lain."
Semua mata seolah tertuju pada Evan, meski sebenarnya hanya Paman Harun yang menatapnya. Evan menelan ludah. Di ruang tengah, Rita sedang tertawa bersama Ustaz Salim.
"Insyaallah, Paman," jawab Evan akhirnya.
Insyaallah. Kata yang menyebut nama Allah itu ia pakai untuk menutupi kebohongan paling besar dalam hidupnya.
Pukul sembilan, ijab kabul diucapkan. Tangan Evan menjabat tangan Paman Harun yang kasar dan hangat. Suaranya sempat bergetar di tengah kalimat, lalu ia mengulanginya dengan lebih mantap.
"Saya terima nikah dan kawinnya Almira Safitri binti almarhum Muhammad Yusuf dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Sah?" tanya Ustaz Salim.
"Sah," jawab kedua saksi bersamaan.
Di kamar tamu, Almira mendengar kata itu dan menangis. Ia sendiri tidak tahu apakah air mata itu air mata bahagia atau air mata takut.
Sementara itu, Karina Kitchen sudah ramai sejak pagi. Karina berdiri di depan kompor sejak pukul enam. Ia menolak menutup restoran meski Vania memintanya beristirahat. Tangannya terus bergerak mengaduk, mencicipi, menata. Selama tangannya sibuk, kepalanya tidak sempat membayangkan ruang tamu di rumah mertuanya.
Pukul setengah sepuluh, ponselnya berdering. Mbok Sarni.
"Bu," suara perempuan itu pecah oleh tangis. "Sudah, Bu. Sudah ijab."
Karina mematikan api kompor di depannya. Ia memejamkan mata sebentar, lalu membukanya lagi. "Terima kasih sudah memberi tahu saya, Mbok. Mbok tidak salah apa-apa. Mbok masak yang enak, ya. Jangan sampai Mbok yang dimarahi."
Ia menutup telepon, menyalakan api lagi, dan menyelesaikan seluruh pesanan makan siang sampai meja terakhir. Vania memperhatikannya dari balik kasir dengan mata merah, tetapi tidak berani mendekat.
Pukul tiga sore, Karina melepas celemek. "Van, aku pulang sebentar. Nanti malam tolong jemput aku, ya. Bawa mobil."
Vania tidak bertanya untuk apa. Ia hanya mengangguk.
Rumah itu kosong ketika Karina tiba. Evan masih di rumah ibunya. Pak Man sedang pulang kampung. Karina menaiki tangga dengan langkah yang anehnya terasa ringan. Ia mengambil koper kecil dari atas lemari dan mulai mengemas. Baju-baju kerja. Buku catatan resep dan dapur. Pengisi daya ponsel. Map biru berisi salinan akta notaris pendirian Karina Kitchen dari rak paling atas.
Kotak perhiasan beludru merah ia buka sekali, lalu ia tutup kembali. Kalung, gelang, cincin, semuanya hadiah keluarga Wijaya untuk dipakai di acara-acara keluarga. Ia memasukkan kotak itu ke laci meja rias dan tidak membawanya. Ia tidak ingin membawa apa pun yang kelak bisa disebut sebagai utang.
Di dapur, ia membuka lemari tempat obat-obat herbal dari Rita tersimpan. Bungkus-bungkus lama yang belum habis, dan bungkus baru dari tabib di Bogor dengan tulisan tangan mertuanya. Diminum dua kali sehari. Karina memandanginya sebentar, lalu memasukkan semuanya ke dalam tempat sampah.
Menjelang magrib, mobil Evan masuk ke garasi. Ia datang untuk mengambil beberapa potong baju. Malam ini ia akan menginap di rumah ibunya bersama istri barunya. Langkahnya terhenti di ruang tengah ketika melihat koper kecil di dekat pintu.
"Rin? Kamu mau ke mana?"
Karina berdiri di ujung tangga. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk perempuan yang baru saja dimadu.
"Mas, aku minta kita berpisah."
Evan terpaku. "Kamu bisa tetap tinggal di kamarmu. Aku tidak mengusirmu."
"Aku tidak minta diusir. Aku yang meminta pergi." Karina menuruni tangga satu per satu. "Mas sudah memilih jalan Mas pagi tadi. Sekarang aku memilih jalanku."
"Kita bicarakan baik-baik besok. Kamu sedang marah."
"Delapan tahun sudah cukup untuk bicara baik-baik, Mas."
Pintu depan terbuka. Rita masuk dengan wajah heran. Rupanya ia ikut dalam mobil untuk mengambil sesuatu. Matanya langsung menangkap koper kecil itu, dan bibirnya melengkung sinis.
"Mau pergi ke mana kamu? Besok juga kamu kembali. Kamu tidak punya tempat."
"Saya sedang menyiapkannya, Ma," jawab Karina tanpa menoleh.
Klakson pendek terdengar dari depan pagar. Vania datang tepat waktu. Ia tetap di balik kemudi dan hanya membuka bagasi, matanya lurus ke depan, enggan menatap abangnya. Karina mengangkat koper kecilnya sendiri, memasukkannya, lalu duduk di kursi depan tanpa sekali pun menoleh ke rumah yang delapan tahun ia isi dengan masakan dan kesabaran.
Malam itu Karina tidur di kamar kecil di lantai dua Karina Kitchen, ruangan sempit di samping kantornya yang biasa ia pakai untuk berbaring ketika tubuhnya tidak kuat. Vania membawakan kasur lipat, sprei bersih, dan sebotol air. Setelah adik iparnya pulang, Karina duduk di atas kasur itu dan membiarkan tangisnya pecah untuk pertama kali hari itu.
Di ruangan sempit itu, untuk pertama kalinya setelah delapan tahun, tidak ada yang akan bertanya kapan ia hamil.