Almira membaca pesan itu berulang kali sebelum berangkat kerja. "Aku sudah bicara padanya." Hanya empat kata, tanpa keterangan lain. Sepanjang hari ia menunggu kesempatan untuk bertanya, dan kesempatan itu baru datang sore hari, ketika Evan memintanya membawa berkas ke ruangannya.
"Apa kata Mbak Karina, Pak?" tanyanya pelan begitu pintu tertutup.
Evan tidak langsung menjawab. Ia merapikan berkas yang sebenarnya sudah rapi. "Dia sudah tahu. Dia tidak akan menghalangi."
"Beliau bilang begitu?"
"Dia tidak marah-marah, tidak membanting apa pun." Evan menatap layar komputernya. "Dia hanya butuh waktu."
Bukankah itu tidak sepenuhnya bohong? Karina memang tidak membanting apa pun. Evan mengulang kalimat itu dalam hati seperti seseorang yang sedang menghafal pembelaan.
"Kalau begitu, saya ingin bertemu beliau," kata Almira. "Saya ingin minta izin sendiri. Saya ingin dengar dari mulut beliau."
"Biar aku dulu yang atur. Jangan sekarang, Mir. Dia masih butuh waktu."
Sepulang kantor, Evan menelepon ibunya dari dalam mobil. "Ma, Karina menolak. Dia bilang dia tidak rela, dan dia minta aku menyampaikannya pada Almira."
Hening sebentar di seberang. "Lalu kamu mau bilang begitu ke Almira? Supaya anak itu mundur?" Suara Rita terdengar tajam. "Kamu mau seumur hidup tidak punya anak, Van? Karina itu cuma gengsi. Nanti juga dia terima sendiri. Sudah, biar Mama yang bicara sama Almira. Kamu diam saja."
Evan memandangi kemudi lama sekali. Ia bisa saja membantah. Ia bisa saja menelepon Almira saat itu juga dan mengatakan yang sebenarnya. Akan tetapi, seperti biasa, diam terasa jauh lebih mudah daripada memilih.
Malam itu, Rita menelepon Almira. Suaranya lembut seperti biasa, tetapi kalimatnya tersusun rapi, seolah sudah dilatih berkali-kali.
"Evan sudah cerita, Nak. Karina titip pesan lewat Mama. Dia tidak mau bertemu dulu. Dia malu, dan itu wajar. Perempuan mana yang tidak malu kalau tidak bisa memberi suaminya anak?" Rita menghela napas, seolah ikut bersedih. "Jangan dipaksa, kasihan dia. Biar Mama yang jadi perantara."
"Tapi, Bu ...."
"Panggil Mama saja." Rita tertawa kecil. "Ibumu sudah setuju. Pamanmu juga. Kita adakan akad secara agama dulu, sederhana, di rumah Mama. Pencatatan resminya menyusul setelah urusan administrasi Evan beres. Sabtu dua minggu lagi, bagaimana?"
Almira menutup telepon dengan kepala berdenyut. Ia segera menelepon ibunya. Ibu Halimah membenarkan semuanya. Paman Harun, adik almarhum ayah Almira, bersedia menjadi wali. Bu Rita sudah menelepon pamannya juga, dan menjelaskan bahwa istri pertama sudah rela.
"Pamanmu tadinya ragu, Nak. Dia bertanya berkali-kali soal istri pertamanya," kata Ibu Halimah. "Tapi Bu Rita bilang sendiri, menantunya sudah ikhlas. Masa orang terhormat begitu berbohong?"
Almira tidak sanggup menjawab. Malam itu ia salat istikharah, lalu tidur dengan harapan mendapat jawaban yang jelas. Yang datang hanya mimpi yang tidak bisa ia ingat ketika terbangun.
Senin sore, sepulang kerja, Almira memberanikan diri. Ia naik ojek daring ke alamat restoran yang pernah ia lihat di unggahan Batara. Karina Kitchen. Ia turun di seberang jalan, lalu berdiri di bawah pohon dekat halte, memandangi bangunan dua lantai itu.
Dari balik kaca jendela, ia melihat seorang perempuan bercelemek sedang tertawa bersama pegawai di dekat kasir. Perempuan itu cantik, jauh lebih cantik dari yang ia bayangkan. Wajahnya lelah, tetapi tawanya tulus. Ia menepuk bahu seorang pegawai muda, lalu membawa nampan sendiri ke meja tamu.
Itukah Mbak Karina? Perempuan yang katanya malu dan ikhlas?
Almira melangkah satu kali ke tepi jalan, lalu berhenti. Apa yang akan ia katakan? Maaf, saya perempuan yang akan menikah dengan suami Mbak? Kakinya mendadak terasa berat. Bus kota lewat, menghalangi pandangannya sesaat. Ketika bus itu berlalu, keberaniannya ikut pergi. Ia memesan ojek lagi dan pulang ke indekos tanpa menyeberang.
Arlin menunggunya di teras indekos. Ia sudah mendengar kabar akad itu dari Almira sendiri kemarin malam.
"Kamu yakin, Mir?"
"Ibu sudah setuju, Mbak. Paman juga. Istri Pak Evan sudah rela."
"Kamu sudah dengar sendiri dari dia?"
Almira menunduk. Arlin menghela napas panjang.
"Mbak sayang kamu, Mir. Tapi Mbak tidak bisa jadi saksi untuk sesuatu yang Mbak sendiri tidak yakin," katanya pelan. "Kalau suatu hari kamu butuh tempat pulang, pintu kamar Mbak tetap terbuka."
Pekan berikutnya, pada Selasa siang, empat hari sebelum hari yang dijadwalkan, ponsel Karina berdering ketika ia sedang mengecek stok di gudang kering. Nama Mama tertera di layar. Ia keluar ke lorong belakang sebelum mengangkat.
"Sabtu ini, keluarga Almira dari Purworejo datang ke rumah Mama," kata Rita tanpa basa-basi. "Akad sederhana saja. Kamu datang, duduk sebentar, senyum. Biar mereka lihat kamu legawa."
Karina memejamkan mata. Jadi sudah sejauh itu. "Mama bilang ke mereka saya setuju?"
"Mama bilang yang perlu dibilang," jawab Rita ketus. "Almira juga sudah tahu kamu tidak suka. Dia tetap mau. Jadi kamu tinggal legawa saja, biar keluarga kita tidak malu di depan orang kampung."
Dia tetap mau. Tiga kata itu terasa lebih tajam dari pisau mana pun di dapur Karina.
"Itu restu semu, Ma," kata Karina akhirnya. Suaranya tidak naik sedikit pun. "Saya tidak memberi itu. Saya tidak akan datang, dan saya tidak akan tersenyum."
"Terserah kamu. Datang atau tidak, akad tetap jalan." Sambungan diputus dari seberang.
Karina berdiri lama di lorong belakang yang sempit itu. Bau minyak goreng dan bawang menempel di udara. Dari dapur terdengar Ilyas memanggil Ica, lalu suara tawa. Hidup di dapur itu tetap berjalan, seolah dunia di luar tidak sedang runtuh.
Ia menelepon Sandra. Sahabatnya itu mendengarkan tanpa memotong, lalu bertanya dengan suara bergetar menahan marah. "Kamu mau aku cegah, Rin? Aku bisa datang ke rumah Tante Rita hari Sabtu."
"Tidak, San." Karina menyandarkan punggung ke dinding. "Kalau perempuan itu tahu aku menolak dan tetap mau, itu pilihannya. Aku tidak akan mengemis pada siapa pun. Aku cuma tidak mau namaku dipakai untuk restu yang tidak pernah aku berikan."
Malam itu, ketika Evan belum pulang, Karina membuka lemari pakaian di kamar mereka. Di rak paling atas, di balik tumpukan sprei, ada sebuah map biru berisi salinan akta notaris pendirian Karina Kitchen. Di sebelahnya ada kotak perhiasan beludru merah, hadiah-hadiah dari keluarga Wijaya untuk dipakai setiap kali ada acara keluarga.
Ia menyentuh map itu, lalu kotak perhiasan itu, lalu menutup lemari kembali.
Sabtu nanti, ia sudah tahu apa yang harus ia lakukan.